Tutup DAPATKAN BUKU:

Karya Sastra, Seni Budaya, Jurnalistik dan lain sebagainya

Kontak: 081365007573

Riau

Presiden Ternyata Belum Terima RTRW Riau

  JAKARTA (RIAUPOS.CO) -  Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Sudi Silalahi menyatakan hingga saat ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Pekanbaru

Masyarakat Riau Long March, Kecam Kebiadaba ...

Ribuan warga Riau yang berada di Pekanbaru melakukan aksi long march dan penggalangan dana. Mereka juga mengecam aksi serangan Israel ke warga Gaza di Palestina, Ahad (13/7/2014). Foto: DEFIZAL/RIAU POS   PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sejumlah elemen masyarakat di Pekanbaru terus menggelorakan kecaman keras pada aksi biadab Israel. Ahad (13/7) kemari

Nasional

Biaya Naik, Paspor JCH Digratiskan

  JAKARTA (JPNN.COM) - Pemerintah telah menetapkan kenaikan pembuatan paspor biasa dari Rp255 ribu menjadi Rp355 ribu. Kenaikan harga itu bertep

OPINI PEMBACA

Mungkinkah Kita Sudah Kafir?

BILA kita mau merenung dan memikirkan secara sungguh-sungguh, mencari jawaban untuk pertanyaan “mengapa atau apa penyebab dari semua bencana yang menimpa manusia? maka jawabannya hanya satu, yaitu karena hukum tidak ditegakk


OPINI PEMBACA

Oleh : Yusmar Yusuf

Pekanbaru Mualaf

Selasa, 14 Mei 2013 - 17:05 |

"   MEREKA boleh berkacak pinggang seraya berujar: Kami kota tua, kami kota warisan dunia, kami kota yang menghidupi air, kami kota yang sibuk di darat, sibuk pula di air, kami kota yang akrab dengan gerigi roda dan rel. Dan kami kota modern berbasi"


 

MEREKA boleh berkacak pinggang seraya berujar: Kami kota tua, kami kota warisan dunia, kami kota yang menghidupi air, kami kota yang sibuk di darat, sibuk pula di air, kami kota yang akrab dengan gerigi roda dan rel. Dan kami kota modern berbasis benua, berjangkar maritim di masa lalu yang terlalu besar dan tinggi. 

 

Itulah Palembang. Sebuah metropolitan di selatan Sumatera. Tahun ini mereka memulai pembangunan ruas jalan tol jarak pendek, 25 Km dulu. Dan pada tahun yang sama mereka bangun monorail pertama di Indonesia dengan empat koridor, untuk mulai memobilisasi gerakan manusia untuk kepincut dengan kenderaan umum yang massif. Jika Jakarta, Bandung dan Makassar masih dalam ancang-ancang, mereka telah menandatangi kerjasama dengan beberapa perusahaan untuk pembangunan lintas monorail yang bergengsi itu. Tak tanggung-tanggung, perusahan Korea dan Amerika akan dilibatkan dalam proyek 15 triliun ini.

 

Kota ini memang titik tua di pulau Perca. Dia melayani dan menjahit segala ingatan kolektif, segala mitos tentang bani Melayu di era awal kesadaran sebagai bangsa bahari. Di awal kesadaran sebagai sekumpulan kolektif yang bercita-cita membangun impian dan merengkuh kecemerlangan di masa depan. Maka, terjadilah kisah takluk menakluk, perang, diplomasi dan membuat orang-orang Palembang bertabur di muka Bumi untuk mengaut dan meragut ilmu, kebijaksanaan mengenai cara menghias kampung, memoles kota dan menyemarakkan rumah. Mengelokkan negeri, tidak dalam wacana, tapi dalam laksana dan laksana yang terukur.

 

Kita? Pekanbaru sebuah kota yang berderap, pas di belakang Palembang. Jika Palembang berpenduduk saat ini dalam kisaran 1,7 juta manusia, maka di belakangnya adalah Pekanbaru dengan penduduk 1,3 juta jiwa. Kita seolah kota tak bertuan, seolah kota tak berwali, seolah kota tanpa ketua klas, menjadi kota yang kaya lubang di sepanjang jalan. Tak ada jalan poros berukuran raya yang terpacak dan dibangun sejajar dengan jalan Sudirman menerobos hingga ke arah utara. Tak ada sebatang jalan yang sejajar dengan jalan Sudirman di sisi timur kota ini. Kota ini tetap bangga menjadi satelit dari negeri Minangkabau. Kota ini tak melihat geliat pergerakan dan gemuruh ekonomi dan peradaban di sepanjang selat Melaka. Sehingga kawasan timur dan utara kota ini yang sejatinya merupakan ranting terdekat merengkuh pusat gemuruh bernama selat Melaka itu, tetap dianggap sebagai Pekanbaru coret. Tak dianggap Pekanbaru, atau malah dianggap sebagai kawasan Pekanbaru mualaf. 

 

Di pulau Sumatera ini, Pekanbaru adalah kota besar yang berada pada posisi ketiga jumlah penduduknya setelah Medan dan Palembang. Mengingat arus migrasi berpembawaan regional yang masuk ke kota ini, bukan tak mungkin pada 2020, jumlah penduduk Pekanbaru bakal mengalahkan Medan. Sementara, ketersediaan infrastruktur dan garis-garis jalan yang pendek, kapasitas listrik dan air yang ada saat ini, hanya diperuntukkan bagi penduduk yang berjumlah 300 ribu jiwa. Lalu ke mana akal sehat kita? 

 

Sehari-hari kita bangga menyebut kota ini metropolitan, tapi tak diimbangi dengan tabiat pemimpin dan kebijaksanaan pembangunan untuk menuju ke watak fisik sebuah metropolitan. Kita tak lebih dari model kota ‘’tong sampah’’. Tempat orang berdesak-desakan dalam kesesakan memuncak, dan menghasilkan muntah tiada henti. Kota ini, tak menjadi kota yang permai. Dulu kita berharap banyak untuk dan demi perubahan melalui walikota baru dengan segudang ‘’pengalaman diam’’, yang tak pernah terbongkar dan terekspos ke publik. Rupanya, walikota kita tetap diam dan ‘’mematikan’’ ide untuk pengembangan kota yang lebih manusiawi, menghidupi air dan menciptakan warga yang bahagia. Belajarlah ke Palembang! Atau cukup belajar ke kompleks kawasan Chevron yang didesain Amerika, sebagai sebuah tapak surga tropis di muka Bumi Andalas (Andalus) ini.

 

Ada lima kota bergemuruh yang dilansir Mc Kinsey Global Institute dalam laporan bertajuk The archipelago economy: Unleasing Indonesias potential. Semua kota besar di Jawa tengah menjalani fase kepayahan dan kejenuhan maha. Maka yang tersisa dalam catatan Mc Kinsey itu hanyalah Karawang yang bakal menyeruak embun ekonomi dan peningkatan jumlah penduduk yang besar di pulau ini. Sedangkan kota yang empat lagi adalah Pekanbaru di Sumatera, Pontianak dan Balikpapan di Kalimantan serta Makassar di Sulawesi. Inilah kota-kota yang merecup pertumbuhan ekonomi dan arus migrasi yang paling besar dan prospektif menjadi kota utama di Indonesia. Pekanbaru merupakan satu-satunya kota yang berkembang positif baik secara ekonomi dan migrasi di Sumatera. Kota ini menggantikan posisi Medan. Tersebab Sumatera Utara telah mengalami kejenuhan dan stagnasi ruang dan persaingan bisnis. Maka pelaku bisnis di metropolitan utara tanah Andalas ini telah menggeserkan badan dan usaha bisnisnya ke Pekanbaru. Mc Kinsey Institute yang bertapak di Amerika itu memandang Pekanbaru sebagai kota ‘’bintang’’-nya Sumatera.

 

Lalu, bagaimana respon cerdas yang harus dilakukan Riau terhadap kajian Mc Kinsey ini? Kita hendaklah membangun garis-garis kota dalam dimensi mega dan raksasa. Bandara mau tak mau harus dikeluarkan dari garis kota, biar berjarak 60 Km ke arah timur atau utara kota. Sebab, ke masa depan di dua mata angin inilah perkembangan pesat ekonomi dan aglomerasi penduduk terjadi di kota Pekanbaru. Demikian pula, harus dengan besar hari memekarkan kawasan Rumbai (sisi utara tebing sungai Siak) sebagai wilayah administratif setingkat kota otonom. Sebagaimana Palembang, kawasan Jakabaring dan Plaju akan dimekarkan menjadi kota otonom yang terpisah dengan Palembang terletak di sisi selatan sungai Musi. 

 

Target-target pengembangan kota Pekanbaru ke depan, hendaklah bersandar pada kota yang melayani ‘’gaya hidup’’ (lifestyle) yang sekaligus berfungsi menekan emisi dan membuat warganya betah dan sehat. Alias kota hijau dan bertabiat serba hijau; angkutan massa, pejalan kaki, peseda dan pusat perbelanjaan yang ramah lingkungan. Menjadi kota layak huni (livelihood) terutama layak huni bagi kanak-kanak dan kaum pensiun. Bayangkan, investasi yang disalurkan oleh kaum pensiun yang selama ini diambil oleh kota Bandung dan kota Solo, bisa diambil secara perlahan oleh kota Pekanbaru ke depan. Sebenarnya tak ada alasan untuk takut mengembangkan kota ini ke arah timur dan utara, ketika kawasan selatan dan barat sudah demikian kemak dan padat. Jika tidak hendak disebut sebagai sebuah kota mualaf di tengah Sumatera yang bergemerincing...(dikutip dari rubrik Perisa, Riau Pos, Ahad, 12/5/2013)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.