Riau

80 Ribu Warga di Riau Membiru

 PEKANBARU — Sekitar 80 ribu warga Pekanbaru mengikuti jalan santai yang digelar oleh DPD Partai Demokrat Riau dengan tema ”Riau Membiru”. Ini sesuai dengan jumlah tiket yang di

Pekanbaru

Graha Pena Pekanbaru Dibangun 11 Lantai

PEKANBARU - Ahad (20/5) ini menandakan dimulainya pembangunan gedung Graha Pena Pekanbaru yang akan menjadi gedung Riau Pos Media Group (RPMG). Graha

Nasional

Identifikasi Jenazah Tuntas

 Tim DVI (Disaster Victim Identification) sedang membawa jenazah korban pesawat Shukoi Superjet 100 dari tenda identifikasi menuju ruang jenazah Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta - Timur, Senin (14/05). Foto : Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka/JPNN JAKARTA - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri dan Rusia mengaku telah berhasil mengidentifikasi seluruh jenazah korban. Sesuai manife

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

OPINI PEMBACA

Oleh : Don Kardono

Dahlan Iskan: Gaya Lama Cerita Baru

Minggu, 25 Desember 2011 - 09:56 |

"Nggak ada untungnya! Zaman sekarang kok sibuk batas membatasi kreativitas orang lain? Capek deh.’’ Oh ya, siapa yang menegur? ’’Soalnya pamor dan berita Meneg BUMN lebih menarik jurnalis daripada pokok-pokok bahasan dalam sid"


Pekan ini, hape saya berkali-kali dikontak kawan-kawan pimpinan media cetak di ibu kota. Ada yang BBM, SMS atau via telepon langsung. Mereka hanya ingin sekadar ngerumpi soal gaya Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, yang belakangan menjadi hot topic. Dari soal antre beli tiket KRL, berdesak-desakan di KRL, naik ojek ke Istana Bogor, sampai urusan makan Soto di warung sederhana di stasiun.

Juga soal sikapnya yang keras melawan mafia yang mengganggu tol PT Jasa Marga. ’’Eh, katanya si bos habis ditegur ya?’’ pancing kawan itu. Jawaban saya standar saja, ’’Wong Pak Dahlan kok ditegur? Apalagi soal gaya kepemimpinan yang neko-neko? Ah, itu tidak mungkin. Kalau pun iya, itu namanya kurang kerjaan dan tidak paham siapa beliau.

Nggak ada untungnya! Zaman sekarang kok sibuk batas membatasi kreativitas orang lain? Capek deh.’’ Oh ya, siapa yang menegur? ’’Soalnya pamor dan berita Meneg BUMN lebih menarik jurnalis daripada pokok-pokok bahasan dalam sidang kabinet. Bahkan lebih memikat daripada solusi-solusi yang dibahas dalam rapat kabinet itu,’’ begitu kelakarnya, tanpa mau menjawab siapa yang terganggu oleh leadership model Dahlan Iskan itu. Kalau begitu masalahnya, ya tidak perlu dibahas, begitu jawabku. Biarkan saja, toh bukan sesuatu yang substansial. Seperti judul tulisan ini ’’Gaya Lama Cerita Baru.’’ Buat kawan-kawan di Jawa Pos Group, gaya freestyle itu sudah lebih dari 20 tahun lalu dilakukan Dahlan Iskan. Freestyle atau gaya bebas, tidak beraturan, tidak berbentuk, tidak berpola, mirip amuba, ’’liar’’ tetapi punya disiplin goal atau tujuan sangat tegas. Makin ekstrem, makin kreatif, menemukan banyak inovasi baru, dia semakin apresiatif.

Lama hidup berada dalam ekosistem jurnalis yang ’’bebas berpikir, bebas bertindak, bebas beraplikasi’’, egaliter, to the point, tidak berbelit, apa adanya, seperti itu, bisa jadi membuat kagok pada mereka yang lama berada dalam atmosfer birokrasi. Suasana yang 180 derajat beda! Apalagi, birokrat yang basic-nya bukan berlatar belakang pengusaha. Karena itu, celometan-celometan kecil, yang bernada tidak nyaman atas gaya Meneg BUMN itu, sangat bisa dimengerti.

Tetapi, ada juga yang latah, bahwa cara-cara itu dianggap sebagai ’’pencitraan’’ belaka! Saya baca di milis, facebook, twitter, ada juga seperti itu meskipun jumlahnya sangat tipis dibandingkan dengan mereka yang memuji langkah berani itu. Saya sarankan, --yang masih berpikir begitu---, baca buku ’’Dua Tangis dan Ribuan Tawa’’ yang diterbitkan Kelompok Kompas Gramedia, PT Elex Media Komputindo. Buku yang diluncurkan bulan November 2011, dan sebulan sudah tiga kali cetak ulang. Sekarang, Desember 2011 sudah cetakan keempat.

Saya pernah mendampingi Meneg BUMN berdiskusi dengan tim penulis buku itu, bulan November 2011 lalu, di kantor Kompas Gramedia, di Palmerah, Jaksel. Mereka sangat antusias dan menemukan banyak titik angle yang tidak saja menarik, tetapi juga bermanfaat buat sejarah perjalanan bangsa ini. Karena itu, mereka akan menerbitkan beberapa edisi buku Dahlan Iskan lagi. Bahkan ada kata-kata yang lucu juga.

’’Pak Dahlan, jangan diteruskan dulu dong! Membuat keputusan-keputusan unik di semua BUMN itu. Kami ingin menempatkan hidden camera, untuk mengabadikan itu semua langkah Pak Menteri, sebagai karya jurnalistik!’’ harap salah seorang di antaranya, begitu mendengar sudah lebih dari 60 BUMN yang sudah ditangani dengan cara cepat dan khas. Bukan hanya itu.

Saya dengar, Rhenald Kasali, guru besar Fakultas Ekonomi UI, sedang mencarikan teori-teori untuk memotret gaya kepemimpinan Dahlan Iskan, sejak Dirut PLN hingga Meneg BUMN. Kalau selama ini analis kampus itu mengupas teori dengan memotret implementasi lapangan. Kali ini, mereka akan mencari teori yang bisa menjelaskan fakta-fakta lapangan yang sedemikan akrobatik.

Bahkan, Rhenald bisa menemukan teori baru, teori original, yang belum pernah ada sebelumnya. Sebenarnya per kasus penyelesaian berbagai hal di BUMN ini bisa menghasilnya beberapa teori kontemporer yang sangat bermakna dalam perkembangan ilmu ekonomi modern. Yang berminat mengejar guru besar ekonomi dan gelar doktor, ada banyak tema potensial yang bisa digali dari kinerja Meneg BUMN ini. Saya tidak ingin bercerita tentang buku setebal 349 halaman bersampul foto wajah Dahlan Iskan yang serius itu. Saya rekomendasi untuk membeli, ada di Gramedia, baca dulu deh. Isinya, adalah hal-hal teknis, taktis, dalam membuat keputusan-keputusan strategis.

Dialog, diskusi dengan karyawan, hal-hal yang sangat serius, nilainya material, dampaknya signifikan, tetapi selalu dikemas dengan cara-cara unik, khas seorang jurnalis. Saya bisa merasakan denyut usaha keras, ide-ide besar, terobosan spektakuler, dan ribuan inovasi yang sangat nyata. Dia sukses mentransfer file: ’’kerja.. kerja.. kerja’’ ke pikiran dan hati karyawan PLN. Ya, mungkin belum 100 persen komplet, tetapi itu sudah masuk ke jaringan mereka dengan amat dahsyat.

Indikatornya gampang. Saat saya berdiskusi dengan jajaran direksi baru, Nur Pamudji, yang didampingi direksi lain, M Harry Jaya Pahlawan, Setio Anggoro Dewo, Murtaqi Syamsuddin dan corporate secretary Ida Bagus Mardawa, nadanya masih ’’nyambung.’’ Spiritnya sama: ’’Kerja.. Kerja.. Kerja!’’ Profil komunikasinya juga sama, low profile, tegas, to the point, tidak plintat-plintut, dan misinya membangun PLN yang lebih baik.

’’Kami akan melanjutkan fondasi yang sudah ditanam Pak Dahlan,’’ kata Nur Pamudji yang mantan Direktur Energi Primer PLN itu. Tentu, model kerja yang cepat, kaya variasi, banyak ide, dan selalu mengagetkan itu mirip dengan menangani perusahaan sebelumnya. Dalam kacamata jurnalistik, itu semua menjadi sangat ’’seksi’’. Sebab, belum pernah ada seorang menteri pun, yang nekat pergi tanpa ajudan, tanpa pengawalan, naik KRL sendirian, antre beli karcis, bergelantungan berdesak-desakan dengan penumpang ekonomi, menunggu di stasiun, mencoba toilet di stasiun, makan Soto di warung, naik ojek dan sebangsanya.

Dia orang yang tidak mudah percaya dengan laporan satu pintu. Dia pasti kroscek dengan karyawan atau bawahan. Dia berusaha merasakan sendiri suasana batin perusahaan itu. Di mana soul dan passion-nya bisa terbaca. Dia biasa tidur di tumpukan koran, ikut mobil boks ekspedisi koran sampai agen-agen, tidur di kursi kantor, kolong meja kantor, itu semua dia lakukan untuk menyelami lebih dalam fakta-fakta yang tidak cukup hanya dari laporan pimpinannya.

Ada wartawan senior yang bangga, seperti Ishadi SK, commissioner TransTV, yang dia ungkapkan melalui buku ’’Habis Gelap Terbitlah Terang.’’ Sebagai sesama jurnalis, Ishadi sangat serius mengabadikan momentum Dahlan Iskan membuat PLN yang semula dianggap institusi paling dicemooh, menjadi pabrik setrum yang sangat kredibel dan membanggakan. Tetapi ada juga suara-suara sumbang yang geli juga mendengarnya.

’’Saya kok percaya ketulusan dan keseriusan beliau! Biarin aja orang berkata apa? Yang penting kinerjanya kelihatan, track record-nya jelas, makin maju, makin terasa, dan bermanfaat buat bangsa dan negara! Titik! Nurutin orang sewot, ntar malah bikin sewot,’’ begitu closing statement pemred yang ngerumpi itu. (jpnn)

 

Penulis adalah Pemred INDOPOS dan Wadir Jawa Pos.

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.