Tutup DAPATKAN BUKU:

Karya Sastra, Seni Budaya, Jurnalistik dan lain sebagainya

Kontak: 081365007573

Riau

Graha Pena Riau Cor Lantai Terakhir

 Chairman Riau Pos Group, Rida K Liamsi memasukkan ready mix (beton siap pakai) ke dalam bak pengangkut yang disaksikan Komisaris Riau Pos Group, Amril Noor, Asparaini Rasyad, Pemimpin Perusahaan Riau Pos, Asnida Syukur dan Pemimpin Redaksi Riau Pos, M Nazir Fahmi, Ahad (20/4/2014). Foto: Teguh Prihatna/Riau Pos.   PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pembangunan Gedung Graha Pena Riau terus berjalan sesuai progres. Ini menjadi spirit baru dengan dilakukannya pengeco

Pekanbaru

Perampok Gondol 3 Kg Emas, Rp500 Juta

  PEKANBARU (RIAUPOS.CO)-Semakin berani saja kawanan rampok di Pekanbaru. Di siang bolong sekitar pukul 13.00 dan di Jalan Sudirman, Ahad (20/4)

Nasional

Dahlan Iskan: Ada Teknologi, Petani Bisa Hem ...

 Menteri BUMN Dahlan Iskan melihat alat pengering padi yang dibuat mahasiswa Universitas Brawijaya. Foto: jpnn   BANGKALAN (JPNN.com) - Pagi sekitar pukul 09.30 WIB Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan tiba di Desa Plakaran, Kecamatan Aros

OPINI PEMBACA

Mungkinkah Kita Sudah Kafir?

BILA kita mau merenung dan memikirkan secara sungguh-sungguh, mencari jawaban untuk pertanyaan “mengapa atau apa penyebab dari semua bencana yang menimpa manusia? maka jawabannya hanya satu, yaitu karena hukum tidak ditegakk


Kumpulkan Petinggi, Pangdam Marah

Puluhan Penjarah Minyak Terpanggang

Kamis, 04 Oktober 2012 10:23 | Nasional | Nasional | Redaksi
Insiden ledakan yang terjadi akibat pencurian minyak mentah di jalur pipa pertamina Tempino (jambi)- Plaju (Palembang), mengakibatkan lima orang warga tewas dan 15 mengalami luka bakar di atas 30 persen. Kejadian di Jl Jalintim Palembang-Jambi, Km 203, Dusun Srimaju, Kelurahan Bayung Lencir, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Muba, Sumsel, Rabu (3/10) sekitar pukul 05.30 WIB. Foto: Tomi Kurniawan/Sumatera Ekspres Perbesar Gambar

 

BAYUNG LENCIR - Aksi illegal tapping di jalur pipa distribusi Pertamina Tempino-Plaju akhirnya memakan korban. Lima orang tewas sementara 15 lainnya mengalami luka bakar diatas 30 persen, mereka terpanggang kepungan akibat kebakaran yang terjadi di lokasi kebocoran, tepi Jalintim Palembang-Jambi, KM 203, RT 12, RW 01, Srimaju, Kelurahan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, kemarin (3/10) sekitar pukul 05.30 WIB.

 

Ironisnya, para korban yang terbakar rata-rata terduga pelaku penjarahan minyak mentah yang tumpah dari aksi illegal tapping di pipa pertamina. Bagaimana ceritanya?Informasi yang dihimpun peristiwa bermula ketika sejumlah warga mendengar ada informasi pipa yang bocor dan menumpahkan minyak di lokasi beberapa saat sebelum kejadian.

 

Selang beberapa waktu kemudian, puluhan warga dengan peralatan ember, jeriken hingga tedmon mendatangi lokasi untuk menjarah minyak. "Saya datang beberapa saat sebelum kejadian pak, saya cuma diluarnya saja mengambil minyak tidak sampai masuk kedalam. Tadinya dapat kabar ada pipa bocor, lantas saya sama istri saya datang untuk mengambil minyak guna dijual lagi," kata Sukri (23) salah seorang korban saat menjalani perawatan di RSUD Bayung Lencir kepada Sumatera Ekspres (grup JPNN).

 

Tiba-tiba ia mendengar ada suara seperti ledakan dan api langsung membesar menyambar semua yang ada. "Ada sekitar 30-an lebih warga yang mengambil minyak. Untungnya saya diluar, jadi masih sempat melarikan diri dengan menggandeng tangan istri saya," tandasnya.

 

Nahas, sang istri terjatuh saat melarikan diri dan langsung dijilat api. "Karena posisi sedang menggenggam tangan istri jadi saya ikut jatuh, cuma yang terbakar kaki saya. Jadinya saat keluar saya langsung minta tolong dan berguling-guling memadamkan api yang membakar saya dan istri saya," kata Sukri yang bersama istrinya kemudian dirujuk ke RS di Jambi.

 

Yeni, korban lainnya menceritakan ia sempat mendengar suara seperti gemuruh berbarengan dengan timbulnya api besar. "Apinya berasal dari belakang dekat Bengkel pak, kemudian langsung menyebar seperti kompor. Yang didalam tidak bisa keluar, saya untung cuma diluar, tapi saat lari kaki saya jatuh diparit hingga kena api," terang Yeni saat dirawat di RSUD Bayung Lencir.

 

Data di RSUD Bayung Lencir jumlah korban yang masuk ke RSUD 17 orang. Mereka masing-masing Sunarto (30), Rosdiana (29), Paldiyanto, Sandi (28), Sukri (23), Arsandi (35), Joni (12), Rebo (60), Andriyubara (24), Hanisa (70), Aprilasi (13), Sauri (40), Yeni, Randikal, semuanya warga sekitar TKP terutama RT 11, Kelurahan Bayung Lencir, lalu Ahmad Sukri (23) dan Rokia (21) keduanya warga Simpang Bayat serta Agus, warga Pagar Desa.

 

"Dua dibawa ke RS MMC Jambi atas nama Sauri dan Agus, informasi yang kita terima satu korban tewas, kalau melihat kondisinya kemungkinan korban Agus karena luka bakarnya hampir 100 persen, kemudian yang lainnya di rujuk ke RS DKT Jambi, informasi yang kita dapat satu korban atas nama Andriyubara meninggal dunia, yang bersangkutan juga mengalami luka bakar 100 persen," ujar Dirut RSUD Bayung Lencir dr Joko Satria kepada Sumatera Ekspres.

 

Nasib lebih tragis dialami tiga korban lainnya, mereka terkepung api dan jasadnya baru bisa dievakuasi lima jam setelah kejadian. Kondisinya mengenaskan, satu posisi mengangkang dengan hanya tersisa kepala, badan, sebagian tangan dan kaki dalam kondisi menghitam seperti terpanggang berjenis kelamin laki-laki, kemudian seorang korban berjenis kelamin perempuan dan tertimpa kayu, kondisinya hampir serupa. 

 

Nah, yang terakhir tidak jauh dari jasad korban pria pertama ada ditemukan serpihan dan sisa tulang belulang menempel dibatang karet. Tidak ada tersisa kecuali tulang, proses identifikasi saat ini sedang dilakukan pihak forensik namun sudah ada klaim dari sejumlah keluarga.

 

Jasad pertama, menurut Supriyadi, warga Srimaju dikenali sebagai Egi Febrianto (18) keponakannya. Ia dikenali dari bentuk fisik, terutama bibir serta ditemukannya kunci motor Honda Supra Fit ditubuh korban yang cocok dengan sepeda motornya. Berikutnya dikenali sebagai Kartini (45) juga warga Srimaju, ia dikenali oleh keluarganya dari cincin merah yang dikenakan di jari manis tangan kanannya.

 

Seorang lagi belum bisa dipastikan, namun menurut ketua RT 11, Muryono ada warganya yang melaporkan kehilangan anak atas nama Ahmad Andi Ghalif (14). "Kami sudah cek, tapi karena tinggal tulang kami tidak berani mengklaim apakah itu Ahmad atau bukan. Hanya sampai saat ini cucu kami menghilang sejak kejadian kebakaran," kata Maryati nenek Ahmad kepada wartawan yang menjumpainya. (sumeks/JPNN)

 

 

Kronologis

Tempat Kejadian Perkara (TKP)

- Jalan Lintas Timur Palembang-Jambi, KM 203, RT/RW12/01, Sri Maju, Kelurahan Bayung Lencir, Muba

- Pukul 05.30 WIB 

 

Korban 

Lima Tewas

- Egi Febrianto (18)

- Kartini (45)

- Ahmad Andi Galib (13)

Meninggal di RS MMC Jambi

- Agus 

- Andri Yuandara (24) meninggal di RS DKP

 

Kronologis

- Diduga bekas lubang klem  (dulu sempat bocor) dibuka oleh pelaku ilegal tapping. Minyak sudah posisi tumpah mengalir ke lubang-lubang yang disiapkan untuk menampung bocoran minyak 

 - Pukul 0500 - 05.30 WIB, puluhan warga berdatangan ke lokasi untuk menjarah minyak.  Ada yang membawa tembok, dirijen, ember, baskom. 

- Tiba-tiba terdengar ada suara ledakan (di TKP ditemukan ada korek api)

-  Puluhan warga  (sekitar 20-an) yang diduga tengah menjarah terbakar

 - Sebanyak 13 mendapat perawatan intensif di RS Jambi (MMC dan DKP)

-  Dua dirawat di RS Bayung Lencir 

-  Lima Tewas 

 - TKP sudah dipasang police line 

Bentuk kubus, kolam, sumur-sumur kecil --perkiraan diamter 1 meter

Kedalaman 1-1,5 meter.

 

 

 

Pangdam Marah

 

PALEMBANG - Pangdam II/swj Mayjen TNI Nugroho Widyotomo dan jajaran, sore sekitar pukul 16.30 WIB, tiba di lokasi kebakaran yang terjadi di lokasi kebocoran pipa distribusi Pertamina Tempino-Plaju, tepi Jalintim Palembang-Jambi, KM 203, RT 12, RW 01, Srimaju, Kelurahan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin.

 

Dia sempat berdiskusi dengan Wabup Muba Beni Hernedi, Kapolres Muba AKBP Toto Wibowo, Dirreskrimsus Polda Sumsel Kombes Pol H Raja Haryono, Camat Bayung Lencir Demoon Hardian Eka Suza, Danramil Bayung Lencir Kapten J Sianturi.

 

"Danramil, kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Pangdam. "Kami sudah berusaha melarang, tapi kata mereka. Ngapo, ini dusun-sudun kami nian?" kata Danramil kepada Pangdam. Mendengar penjelasan Danramil, Pangdam sempat tersentak. "Negara seperti apa ini," cetus Pangdam.

 

Dikatakannya, dari kejadian ini jadi pembelajaran. Menurutnya, masyarakat setempat hanya menikmati dari hasil di sini. "Tapi yang menikmati lebih besar, penampungnya dibiarkan. Mengapa ini masih berlangsung, karena ada yang membekingi. Kalau penampungnya ada hubungan dengan eks-eks itu (pelaku sebelumnya), ya percuma kalau tidak berani (ditangkap)," cetus Pangdam.

 

Pangdam juga menjelaskan, mengapa sampai di turun ke TKP. "Karena ini aset nasional, kepentingan nasional," tegasnya. Pangdam juga mempertanyakan ke camat dan lurah setempat. 

 

"Bagaimana Pak Lurah? Jangan ini jadi budaya, bukan masyarakat sini saja. Banyak di tempat lain sepanjang ini. Pak Camat, jangan sampai KUD jadi kamuflase bagi mereka (pelaku illegal tapping)," tanyanya.

 

Menanggapi serentetan pertanyaan Pangdam, Wabup Beni Hernedi, mengatakan sebenarnya pihaknya sudah sering menghimbau dan melarang warga   melakukan itu. Tapi warga masih saja, dan ini juga terjadi di simpang bayat. "Ini kita jadikan pelajaran, saya berani bilang malu. Semoga ke depan tidak terjadi lagi. Untuk itu, kita harus sinergi. Baik dari pemda, maupun aparatnya," kata Wabup.

 

Pangdam menimpali, pihaknya sudah melakukan itu. Melakukan pengamanan jika diminta pihak tertentu, tapi kewenangannya hanya sebatas itu. "Kadang kita tangkap (pelaku illegal tapping) polisi tidak mau menerimanya. Kalaupun diterima, ya segitu-gitu aja gak ada kemajuan. Jadi, kita mau serahkan kemana," tuturnya.

 

Menanggapi itu, Dirreskrimsus Polda Sumsel Kombes Pol Raja Haryono, mengatakan pihak kepolisian dalam melakukan penyelidikan, membutuhkan bukti-bukti. Dan laporan/kasus yang masuk, pasti ditangani dengan proporsional sesuai aturan yang berlaku. "Sebenarnya bisa, tapi alasannya dibuat-buat saja," kata Pangdam.

 

"Sekarang ayo, kalau mau lihat yang lebih besar dari ini. Lokasinya 3 km dari sini," ajak Pangdam, kepada seluruh rombongan ke lokasi penyulingan minyak tradisional simpang bayat. Tapi begitu iring-iringan mobil aparat dan pejabat memasuki bayat ilir itu, aktivitas penyulingan minyak tradisional itu sudah sepi. Hanya tedapat puluhan titik lokasi, dimana di setiap titik banyak terdapat drum-drum, tempat pemanasan dan penyulingan, serta jeriken-jeriken. (air/jpnn)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.