Riau

80 Ribu Warga di Riau Membiru

 PEKANBARU — Sekitar 80 ribu warga Pekanbaru mengikuti jalan santai yang digelar oleh DPD Partai Demokrat Riau dengan tema ”Riau Membiru”. Ini sesuai dengan jumlah tiket yang di

Pekanbaru

Graha Pena Pekanbaru Dibangun 11 Lantai

PEKANBARU - Ahad (20/5) ini menandakan dimulainya pembangunan gedung Graha Pena Pekanbaru yang akan menjadi gedung Riau Pos Media Group (RPMG). Graha

Nasional

Identifikasi Jenazah Tuntas

 Tim DVI (Disaster Victim Identification) sedang membawa jenazah korban pesawat Shukoi Superjet 100 dari tenda identifikasi menuju ruang jenazah Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta - Timur, Senin (14/05). Foto : Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka/JPNN JAKARTA - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri dan Rusia mengaku telah berhasil mengidentifikasi seluruh jenazah korban. Sesuai manife

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Polisi Kejar Guru Pesantren

23 Santri Disetrum

Sabtu, 18 Februari 2012 18:13 | Nusantara | Nusantara | Redaksi



SOLOK -  Satuan Reserse Kriminal  Polresta Solok hingga kini masih melakukan penyelidikan kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan NA, oknum guru terhadap 23 santri Pondok Pesantren (Ponpes) 11 Indonesia, Sulit Air, Solok.


Para santri ini mengaku dipukuli dan disentrum sang guru killer tersebut. Enam saksi korban telah diperiksa, sementara pelaku masih buron. Tindakan tak terpuji para guru itu, lagi-lagi kontraproduktif dengan slogan pendidikan karakter yang sedang digiatkan pemerintah.  

    
“Kita masih dalami kasus tersebut. Di hadapan penyidik, enam saksi korban mengaku telah dianiaya oleh salah seorang oknum guru NA. Selain memukul menggunakan benda keras, guru tersebut menerapkan sanksi disiplin berupa hukuman setruman listrik, sehingga sejumlah santri terpaksa harus dirawat,” jelas Kapolresta Solok, AKBP Lutfi Martadian kepada Padang Ekspres, kemarin (17/2).


Lutfi menjelaskan, malapetaka berawal 2 Februari lalu, saat NA melakukan pemeriksaan sampul buku. Seluruh santri diperintahkan menyampul buku pelajaran. Namun saat itu, sejumlah anak santri tidak mengikuti perintah NA dengan berbagai alas an.


NA pun marah. Sebagai hukumannya, seluruh santri (kelas IC) dipukuli dengan benda keras dan diestrum telapak tangannya.
Tindak kekerasan ini terkuak 12 Februari lalu, setelah wali murid asal Bukittinggi melapor ke Polresta Solok. Anaknya bernama Fiqih Rizki ikut menjadi korban kekerasan guru tersebut.


Pascakejadian, banyak santri tidak sadarkan diri, sehingga harus dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Selama menjalani perawatan, korban nyaris terancam lumpuh, seluruh persendiannya sulit digerakkan.


Santri lainnya memilih tutup mulut, karena takut dikeluarkan dari sekolah, termasuk merahasiakan kepada orangtua sendiri. (mg9/rzy/rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.