PEKANBARU — Sekitar 80 ribu warga Pekanbaru mengikuti jalan santai yang digelar oleh DPD Partai Demokrat Riau dengan tema ”Riau Membiru”. Ini sesuai dengan jumlah tiket yang di
Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.
Dua pompong milik masyarakat berusaha menembus eceng gondok yang memenuhi Sungai Batang Tuaka, Tembilahan yang menjadi habitat buaya. (Foto:M Fathra Nazrul Islam/Riau Pos) Perbesar Gambar
Di Sungai Raya, Kecamatan Batang Tuaka, habitat buaya berada di perkampungan yang berpenduduk. Sungai itu mengalir di sepanjang perkampungan yang berhubungan langsung ke parit-parit yang digunakan untuk aktivitas masyarakat sehari-hari.
Laporan M Fathra Nazrul Islam, Tembilahan
CERITA mengenai buaya di Desa Sungai Empat menurut warga bukan cerita bohong, karena sudah sering warga melihat langsung. Dikatakan Makmur yang saat itu berkunjung ke rumah Rudianto, kakak iparnya sering melihat buaya dengan ukuran badan sebesar drum di parit dekat rumahnya di Parit 3. Sekitar tiga tahun lalu juga pernah ditemukan ada buaya besar dengan panjang lebih 5 meter di Parit 3.
‘’Kita tidak tahu matinya kenapa, tapi saat ditemukan, ada karung tersangkut di saluran pembuangan buaya itu. Kata orang-orang di sana, buaya itu makan bangkai ayam yang diikat di dalam karung, lalu karungnya tersangkut,’’ ujar Makmur. Sementara Arsyad, warga Parit 4 yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi pompong dan biasa melintasi parit-parit serta Sungai Batang Tuaka mengaku sering melihat buaya berjemur di sepanjang sungai yang mengalir sampai ke Desa Junjangan, masih dalam wilayah Kecamatan Batang Tuaka. Biasanya, dia melewati sungai karena harus membawa kopra untuk dijual ke Sungai Luar.
‘’Kalau sekali lihat pernah 8-9 ekor, biasanya kalau pompong sudah dekat, buayanya turun ke sungai. Tapi ada juga yang berani buayanya, dia tetap saja berjemur,’’ tutur Arsyad. Menurutnya, kalau dihitung dari besarnya, buaya seukuran drum sampai yang kecil-kecil, diprediksi tak kurang dari 100 buaya yang ada di Batang Tuaka. Mulai dari Desa Sungai Raya sampai ke Kuala Desa Junjangan. Bahkan Arsyah pernah menemukan telur buaya sebanyak 38 butir di hutan bakau dekat Sungai Batang Tuaka yang tak jauh di depan rumahnya. ‘’Kalau kita pikir takut buaya, warga di sini tak bekerja, apalagi saya yang harus melewati parit parit dan sungai,’’ kata Arsyad.
Menurut Kepala Desa Sungai Raya, Sulaiman, pihaknya sudah pernah ditawari, jika ingin menangkap buaya pengganggu, M Amin, pawang tersebut minta bayaran Rp5 juta. Karena warga dan desa tak memiliki anggaran, rencana itu diurungkan. Selain itu, pihak KBSDA Rengat saat dihubungi Kades malah menyarankan warga melakukan tradisi semah, memberi makan buaya dengan telur sebagai simbol. ‘’Tapi warga di sini tak pernah melakukan semah dan bertentangan dengan keyakinan masyarakat. Katanya semah itu pernah dicoba di Rengat. Setelah diberi makan telur, 6 ekor buaya yang ada di sana pergi menjauh,’’ jelas Sulaiman.
Kades Sungai Raya itu berharap Pemkab Inhil dan instansi terkait mencarikan solusi terkait masalah ini. Jika memang ada rencana membuat penangkaran buaya, tentu biayanya besar dan itu kewenangan Pemkab. Di Parit 1 Desa Sungai Raya kini sudah dibangun pintu klep di pintu masuk parit dari Sungai Batang Tuaka. Pintu itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan biaya hampir Rp50 juta. Desa Sungai Raya hanya satu dari sekian banyak kawasan perairan di Inhil yang jadi habitat buaya. Sebelumnya ada kasus buaya makan manusia di Sungai Bela, Kecamatan Kuindra dengan korban bernama Rio Candra (14), yang juga jadi korban keganasan buaya. Naasnya, Rio tak selamat dan baru ditemukan setelah buaya yang menyerangnya dipanggil menggunakan pawang. Saat itu, tubuh Rio ditemukan dalam perut buaya sudah terpotong lima.
Secara geografis, tipologi Desa Sungai Raya berbeda jauh dengan Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri. Menurut Kepala Desa Sungai Bela, Hasanudin, di desa ini, perkampungan masyarakat berhadapan langsung dengan laut. Sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi konflik buaya.
Sementara kasus buaya memakan manusia beberapa waktu lalu terjadi di kawasan Sungai Merusi yang bukan kawasan pemukiman penduduk. ‘’Memang Sungai Merusi jadi salah satu habitat buaya di Sungai Bela, tapi di sana tak ada penduduk yang tinggal dan tipologi daerahnya beda dengan Desa Sungai Raya,’’ ujar Hasanudin yang juga pernah bertugas di Sungai Raya. Menurutnya, di Sungai Raya, Kecamatan Batang Tuaka, habitat buaya berada di perkampungan yang berpenduduk. Apalagi Sungai Batang Tuaka mengalir di sepanjang perkampungan yang berhubungan langsung ke parit-parit kampung yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari masyarakat.
‘’Kalau di Sungai Bela, seperti di Merusi, kemungkinan terjadi penyerangan buaya terhadap manusia terjadi ketika manusia mencari ikan atau kayu ke kawasan habitat buaya. Kasus kemarin juga baru pertama terjadi, sebelumnya tak ada konflik antara buaya dengan manusia,’’ jelas Hasanuddin. Kades Sungai Bela itu juga sangat mendukung jika ada langkah proaktif dari BKSDA atau usulan dari Pemkab Inhil agar di daerah ini dibangun penangkaran buaya. Daerah lain yang berdasar pantauan Riau Pos berpeluang terjadi konflik buaya dengan manusia ialah Kecamatan Gaung Anak Serka dan Gaung. Karakteristik masyarakatnya hampir sama, yakni tergantung pada keberadaan sungai dan parit. Aktivitas masyarakat di sana seperti mandi, mencuci hingga mengangkut kelapa saat panen juga menggunakan parit-parit sungai. Di kedua kecamatan ini, juga terdapat cukup banyak populasi buaya. Di Kecamatan Batang Tuaka sendiri, populasi buaya ada di Desa Sungai Raya, Desa Junjangan dan tak menutup kemungkinan jelajahnya sampai ke Desa Sungai Luar di daerah hilir sungai. Selain itu Sungai Batang Tuaka memang dikenal memiliki populasi buaya yang banyak, sementara bantaran sungainya makin ke hulu makin kecil.
Berdasar kasus-kasus ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Rengat pernah mengusulkan Pemkab Inhil agar di daerah itu dibangun kawasan penangkaran buaya. Setidaknya dengan demikian, populasi buaya buaya liar dapat dikurangi dan tak masuk ke pemukiman masyarakat.
Menurut Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hilir, Drs Darussalam MM, Pemkab Inhil bisa saja membangun sebuah kawasan menjadi habitat buaya. Ini mengingat konflik antara buaya dengan manusia belakangan kerap terjadi. ‘’Tapi bukan penangkaran. Misalnya kawasan yang kini terdapat banyak populasi buaya, kita usul ke pemerintah pusat untuk dijadikan kawasan habitat buaya yang dilindungi,’’ ujar Darussalam. Tiap kebijakan, lanjut Kadishut, ada konsekuensinya.
Dengan adanya penetapan sebuah kawasan sebagai habitat buaya yang dilindungi, masyarakat tak dibenarkan beraktivitas di sana. Pihaknya pesimis itu bisa dilakukan. Contoh, Sungai Batang Tuaka melintasi Desa Sungai Raya, ke hilirnya Desa Kuala Junjangan, sampai ke Sungai Luar. Sepanjang sungai dihuni banyak penduduk dan sungai sudah jadi jalur transportasi umum masyarakat di sana.
Bagaimana upaya mengubah budaya masyarakat yang biasa membangun mandi cuci kakus (MCK) di parit dan sungai? Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Inhil, HE Kemal Syahindra menyebutkan, tiap tahun Pemkab Inhil melalui Distamben selalu mencadangkan anggaran untuk pembangunan sumur bor di desa-desa yang sulit dapat air. Seperti 2011 lalu, secara bertahap dianggarkan untuk 9 sumur bor yang diperbantukan.
Kepala Dinas Kesehatan Inhil, Rasul Alim MKes mengakui, keberadaan MCK masyarakat di parit dan sungai dipandang kurang tepat dari sisi kesehatan, terutama karena kualitas air sungai yang kurang bagus. Apalagi jika di satu desa seperti Sungai Raya, berpotensi terjadi konflik antara buaya dengan manusia.(nhk/rpg)