| Jum´at 18-05-2012 |
| Sabtu, 19-05-2012 15:49:47 | ||
| 15:24 | | | Buaya Makan Manusia Ditangkap |
| 11:36 | | | Esemka Embrio Mobil Nasional |
| 12:57 | | | Perut Buaya Dibelah, Ada Tubuh Bo ... |
| 18:03 | | | Nindy dan Astrid Fitting Gaun |
| 21:20 | | | Sore Tamu Ayah, Malam Tamu Aliya |
| 13:51 | | | Jajal Dunia Tarik Suara |
| 15:12 | | | Ketum KONI Pamer Green PON Riau |
| 09:42 | | | Perbaikan Stadion Kuansing Perlu ... |
| 09:22 | | | Penetapan Calon Wako Pekanbaru Te ... |
| 23:34 | | | Harimau Sumatera Sisa 400 Ekor |
PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan
PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i
BOGOR - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari
Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.
Tukang Onjai yang berada di depan jalur memberikan motivasi kepada anak jalur dalam pertandingan pacu jalur tingkat nasional di Tepian Narosa Teluk Kuantan. (Foto: Teguh Prihatna/Riau Pos)
Perbesar Gambar Laporan DESRIANDI CANDRA,Teluk Kuantan
Saat dihelatnya iven pacu jalur nasional, Sabtu (23/7) saat itu pulalah usia tradisi dan budaya kebanggaan masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dan Riau genap berusia 108 tahun.
Tradisi dan budaya Pacu Jalur milik masyarakat Kuansing, menjadi salah satu tradisi dan budaya yang sudah cukup tua di Bumi Lancang Kuning. Di tahun 2011 ini, tradisi yang konon pertama kalinya di gelar tahun 1903 di Tepian Narosa Teluk Kuantan, genap berusia 108 tahun. Merupakan usia yang cukup tua.
Namun nilai tradisi lama di pacu jalur itu masih tetap terlihat. Misalnya, sebelum musim perpacuan tiba, mulai tingkat kecamatan hingga kabupaten/nasional, sampai sekarang masih bisa dilihat bagimana masyarakat mencari banan (kayu) jalur di hutan belantara yang jauh dari perkampungan. Membuat dan membentuknya menjadi sebuah jalur utuh di desa oleh tukang jalur.
Setelah itu, barulah dilayur agar kayu jalur yang masih basah tersebut kering dan sedikit ringan untuk diturunkan dalam perpacuan jalur. Tradisi ini masih terlihat di tengah masyarakat, terutama di sepanjang aliran Batang Kuantan.
Secara perlahan nilai-nilai tradisi dan budaya pacu jalur itu mulai berkurang. Sekarang, tidak semua jalur yang sekarang memiliki tukang onjai atau orang yang berdiri di belakang jalur, timbo ruang di bagian tengah jalur dan anak pancar di paling ujung jalur yang menggunakan kostum kebesaran jalur. Di zaman sekarang, justru ada yang tidak lengkap dan ada yang menggunakan kostum baju olah raga yang hanya bertuliskan nama jalur yang dipacukan di tengah Sungai Kuantan.
Tetapi, satu hal yang tak pernah hilang sampai sekarang, adalah pelangkahan dan pawang jalur. Baik di arena perpacuan ajang uji coba di tingkat kecamatan maupun di arena perpacuan jalur di tingkat rayon yang resmi sudah diagendakan pemerintah. Begitu juga di tahun 2011 ini, ketika pacu jalur rayon tingkat kecamatan yang dimulai di tepian Tabobak Kampung Pulau Panjang Kecamatan Cerenti 31 Juni hingga 2 Juli 2011 silam.
Selanjutnya pacu jalur rayon II di Tepian H Saidina Ali Kampung Luai-Banjar Guntung Kecamatan Kuantan Mudik 4-6 Juli dan pacu jalur rayon III di tepian Datuk Bandaro Lelo Budi Kampung Pulau Godang Kari Kecamatan Kuantan Tengah 11-13 Juli 2011 lalu. Kemudian ditambah pacu jalur ajang pemanasan di Tepian Rajo Kampung Padang Tanggung Kecamatan Pangean dan pacu jalur di Tepian Lubuak Sobae Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir.
Tradisi mencari pelangkahan dan pawang jalur masih terlihat dan belum pudar. Biasanya, dalam berbagai iven olahraga seperti pacu sampan di Kabupaten Kampar maupun pacu Dragon Boat di Tanjungpinang, atletnya langsung masuk mengisi sampan atau Dragon Boat. Tetapi tidak begitu dengan dalam pengisian jalur.
Jalur yang akan dipacukan, tidak serta merta langsung diisi. Tetapi mereka patuh atas pendapat ‘’orang tua’’ dalam jalur tersebut yang lazim disebut pawang jalur. Baik pengurus jalur maupun atlet pacu jalur, terlebih dahulu meminta pendapat sang pawang jalur untuk melihat pelangkahan dalam pengisian jalur.
Bahkan di dalam perpacuan jalur, pengisian jalur ada yang memakan waktu 30 menit hingga 1 jam. Tergantung pada pelangkahan yang di lihat sang pawang jalur.
Nurman Hamid, Ketua Pengurus Jalur Putih Mandi Mayang Taurai Desa Rantau Sialang Kecamatan Kuantan Mudik, tak menampik kalau pelangkahan dan pawang jalur memiliki peran dalam perpacuan jalur. ‘’Pelangkahan dan pawang tetap memiliki perannya tersendiri dengan tidak mendahului kekuasaan Allah SWT,’’ ujar Nurman Hamid di Teluk Kuantan.
Ia dan anak jalur Putih Mandi Mayang Taurai, sejak dulu hingga sekarang yakin dalam pacu jalur harus ada pelangkahan dari ‘’tua jalur’’ (Pawang) sebelum jalur diisi dan siap untuk dipacukan. ‘’Kami pun merasa cocok dengan pawang yang ada sekarang,’’ ujarnya.
Tetapi pelangkahan dan pawang harus dipadukan dengan kerja keras dan latihan. Karena semua itu hanya seperti memperlancar jalan untuk mencapai tujuan. Begitu juga dengan di iven pacu jalur nasional. Anak pacu jalur Putih Mandi Mayang Taurai akan tetap bekerja keras mempertahankan prestasi yang sudah diraih saat ini.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuantan Singingi, Drs H Sarpeli MAg, ikut merasa bangga dengan tradisi dan kebudayaan Pacu Jalur milik masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Menurutnya, tradisi ini wajar dipertahankan dan di lestarikan.
Kendati demikian, Sarpeli mengingatkan agar seluruh peserta pacu jalur menghimbau bentuk-bentuk kesyirikan dalam pelaksanaan perpacuan jalur. ‘’Misalnya saja, jalur A menang karena pelangkahan atau pawang jalur, atau anak pancar digendong dan lainnya yang mengarah pada kesyirikan harus dihilangkan,'' harapnya.
Karena semuanya sudah ditentukan Allah SWT dengan usaha dan kerja keras dari tim yang ikut berpacu jalur. Semua kegiatan syirik (meduakan) Allah SWT termasuk dosa besar. Sebagai ulama, kata Sarpeli, tak menginginkan puluhan ribu masyarakat Kuansing yang tumpah ruah di Sungai Kuantan dan Teluk Kuantan menyaksikan iven pacu jalur terjebak dalam kesyirikan.
Pihaknya setiap pelaksanaan pacu jalur selalu mengingatkan dengan menyampaikan himbauan, termasuk tidak meninggalkan salat fardu saat iven pacu jalur berlangsung. Dulu, tambah Sarpeli, ada sebuah jalur bernama Power Agung dari Kecamatan Gunung Toar yang menduduki peringkat empat besar di iven nasional.
Prestasi yang mereka raih, tidak menggunakan pawang atau dukun, tetapi dengan kekompakan dan kerja keras anak pacuan yang akhirnya berhasil meraih prestasi cukup gemilang. Karena itu, pihaknya menghimbau tradisi pacu jalur tidak dikotori dengan kegiatan yang mengarah kesyirikan.
Sudah Saatnya Diserahkan Pada Lembaga Adat
Pacu jalur setiap tahun yang dilaksanakan di Tepian Narosa Teluk Kuantan, selalu dilaksanakan pemerintah daerah. Padahal, pacu jalur merupakan bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi.
Karena itu, menurut salah seorang tokoh masyarakat Kuantan Singingi di Pekanbaru, Drs Zalmi Zen MM, sudah sewajarnya Pemerintah Daerah menyerahkan pelaksanaan iven pacu jalur pada Lembaga Adat Kabupaten Kuantan Singingi. Ini dengan melihat fenomena yang terjadi beberapa tahun terakhir. Pada pelaksanaan pacu jalur serta adanya beberapa permasalahan.
Misalnya saja, makin pudarnya nilai-nilai pacu jalur di tengah masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi yang memang banyak di ketahui orang-orang adat. Sehingga, nilai-nilai adat dan tradisi di pacu jalur bisa kembali di hidupkan. Lembaga adat Kabupaten Kuantan Singingi dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan Lembaga Adat Riau.
Pemerintah menurutnya hanya memfasilitasi pelaksanaannya. Dengan begitu, beban anggaran yang setiap tahun diambil dari dana APBD Kabupaten Kuantan Singingi bisa berkurang.
Pertahankan Nilai Tradisi
Ketua Umum panitia Pacu Jalur Iven Nasional tahun 2011, Drs Muharman MPd yang juga PLT Sekretaris Daerah Kabupaten Kuansing, menyebutkan, pacu jalur adalah tradisi dan budaya kebanggaan masyarakat Kuansing.
Di tahun 2011 ini, pacu jalur dilaksanakan lebih awal yang sebelumnya dilaksanakan 23 Agustus. Ini dikarenakan bulan Agustus telah masuk bulan Ramadan. Sehingga di percepat. Namun tahun 2012, kemungkinan akan dilaksanakan usai bulan Ramadan.
Karena pacu jalur adalah tradisi, Muharman meminta agar nilai-nilai tradisional ini betul-betul di pertahankan. Pacu jalur juga soal marwah desa. “Kalau desanya tak mengirimkan atau mengikuti pacu jalur, hilanglah marwah desanya,” ujar Muharman.
Pacu jalur beda dengan olah raga lainnya, termasuk emosionalnya. Karena itu, ia mengingatkan agar panitia harus benar-benar bersiap-siap. Termasuk menyediakan kamera di pancang finish untuk membantu pemutusan perpacuan dewan hakim. Karena itu, ia meminta agar hasil keputusan dewan hakim harus betul-betul dapat dipatuhi.
Pacu jalur banyak memiliki keunikan. Sebelum berpacu, sebagian jalur ada yang dipagar, dinaikan ke daratan, tidak boleh di kencing. Bila ada yang melakukan pengacauan itu akan menyulut kemarahan atletnya.
“Pacu Jalur ini adalah tradisi yang unik, karena itu harus kita jaga dan di lestarikan,” harapnya.
Muharman juga menghimbau agar masyarakat Kuansing memanfaatkan momen pacu jalur ini. Tidak lagi bersifat konsutif tetapi bisa di manfaatkan untuk berusaha agar ekonomi masyarakat meningkat. Jalur tidak bisa dinilai dengan uang.
Dia meminta agar masyarakat sama-sama untuk membantu saling menjaga keamanan. Sehingga masyarakat dan pengunjung sama-sama bisa menikmatinya dengan aman dan nyaman. Perwakilan jalur diharapkan betul-betul mewakili jalurnya. Jangan sampai nanti tidak diakui anak jalurnya.(rpg)