Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Mengandalkan Listrik Desa, Nibung Jadi Tiang Listrik

Rupat Selatan, Negeri Ironi yang Gelap Gulita

Minggu, 05 Februari 2012 23:21 | Bengkalis | Redaksi



Rupat, negeri menawan yang berada di pinggir Selat Melaka. Negeri yang berhadapan langsung dengan negara tetangga, Malaysia ini menjadi pulau harapan di masa mendatang. Sayang, kini pulau itu seolah terlupakan dari berbagai sisi pelayanan, terutama sekali energi listrik.

Laporan ABU KASIM, Rupat Selatan

SUARA jangkrik mulai terdengar, seiring tenggelamnya matahari ke arah barat Pulau Rupat Selatan. Bocah lelaki dengan tangan sigap menyiapkan lampu untuk penerangan. Apalagi waktu itu, Riau Pos sedang berbincang-bincang bersama Kepala Desa Darul Aman, Amrizal bersama kalangan pemuda dan tokoh masyarakat.

Cerita Pulau Rupat Selatan seolah menjadi kenangan bagi sebagian masyarakat di sana. Apalagi Rupat dikala itu terkenal dengan potensi alam, karena letaknya yang strategis dan berhadapan langsung dengan Selat Melaka dan negeri jiran Malaysia. Sehingga semua kebutuhan pokok masyarakat kala itu dipasok dari negeri jiran.

Tapi potensi itu berbalik arah, searah jarum jam yang memutar berbalik jauh ke belakang. Pulau Rupat yang menjadi sebuah harapan, baik bagi masyarakat maupun pemerintah dalam mengembangkan potensi alam. Kondisinya kini sangat ironi dan menyedihkan, terutama masalah ketersediaan listrik bagi keperluan masyarakat.

Kondisi ironi tersebut sangat terasa, ketika melihat letak pulau tersebut dengan Kota Dumai. Jarak tempuh menuju Rupat Selatan dari Kota Dumai hanya memakan waktu 20 menit dengan menggunakan speedboat. Tapi jika malam hari, Kota Rupat selatan yang terdiri dari empat kelurahan dan delapan desa, seperti kota mati dan pulau hantu.

‘’Kalau malam seperti pulau hantu tak berpenghuni, karena gelap. Padahal kalau kita menegok ke Dumai, yang jaraknya cukup dekat dengan pulau kita, di sana lampunya bergemerlapan dan kita gelap gulita. Ini sangat ironis sekali dan sangat menyedihkan,’’ ucap Amrizal, Kepala Desa Darul Aman saat menyampaikan keprihatinannya tentang kampungnya yang gelap gulita.

Kisahnya cukup beralasan, karena Pulau Rupat memiliki potensi besar dan menjadi harapan besar masyarakat. Karena potensinya bisa mengalahkan daerah objek wisata yang ada di Pulau Lombok maupun Bali, yang selalu menjadi tujuan wisatawan manca negara, jika dikelola dengan baik.

Tapi masyarakat harus rela menahan diri untuk tetap bertahan disaat negeri ini terus berbenah. Pulau harapan Rupat nan elok, tetap menjadi harapan besar bagi masyarakat Rupat dalam meningkatkan pendapatan, yang kini masih tetap terbelenggu. Karena tidak ada penerangan listrik yang memadai.

‘’Ketimpangan antara Dumai dan Rupat Selatan sangat besar, khususnya masalah listrik. Pulau ini memiliki potensi besar dan pengembangan kawasan ini tanpa listrik tidak mungkin bisa maju. Kalau mengandalkan listrik desa, hanya mampu hidup empat jam dan itu hanya malam hari,’’ tutur Amrizal.

Makanya kata, pria yang baru setahun menikah dan diberi amanat menjadi pemimpin desa, mengawali kepemimpinanya sudah banyak program yang akan dijalankan, khususnya masalah listrik. Karena listrik sangat diharapkan masyarakat, apalagi belum tersentuh oleh PLN sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap ketersediaan listrik masyarakat.

Desa Darul Aman yang berpenduduk 1.857 jiwa, mata pencairan masyarakat umumnya pertanian dan nelayan. Mayoritas dihuni oleh 3 suku asli yakni Melayu 40 persen, suku Akit 35 persen dan Jawa 20, sisanya campuran. Meski letak hanya berjarak 1 Km dari ibukota kecamatan, tapi pada malam hari kondisi daerah itu gelap gulita.

‘’Susah kalau listrik hanya mengandalkan mesin diesel saja. Kalau mengharapkan listrik yang dibangun PLN janganlah diharap. Makanya listrik desa kita memanfaatkan batang Nibung untuk tiang listrik untuk menghidupi 3 dusun. Itupun memanfaatkan mesin genset bantuan dari Pemkab  Bengkalis,’’ turur Amrizal.

Ia mengaku, jika mengandalkan listrik desa, tentu tidak mampu menjangkau kampung-kampung yang letaknya cukup jauh seperti kampung Suku Akit. Ditambah lagi kapasitas mesin tidak kuat untuk mengaliri rumah warga, maka sebagiannya dibantu dengan listrik Tenaga Surya untuk 40 KK, khususnya untuk masyarakat yang benar-benar kurang mampu.

‘’Listrik desa hanya hidup 4 jam. Alhamdulillah di Rupat, proyek listrik seperti itu tempat kami yang masih bertahan, meski perawatannya sangat berat,’’ ujarnya.

Luas Desa Darul Aman 104 km persegi, terletak di wilayah Barat Pulau Rupat, sebelah Utara berbatasan dengan Selat Melaka, dan desa hasil pemekarann dari Desa Tanjung Kapal tahun 1995, malah lebih maju dari desa induknya.

‘’Tahun ini dana ADD Rp1,3 miliar, UED SP Rp1 miliar, dan dana pengembangan infrastruktur pedesaan Rp1 miliar. Jadi ada kemampuan untuk membangun desa. Makanya dari dana ini akan kita alokasikan untuk ketersediaan listrik masyarakat,’’ tururnya dengan penuh keyakinan untuk membangun desanya.

Namun yang masih merisaukan Amrizal, adalah ketika jam operasi listrik desa sudah padam. Jika operasional lisrik lewat pukul 22:00 WIB, maka masyarakat tidak mampu membayarnya tentu harus sama-sama gelap. Makanya masyarakat masih memanfaatkan lampu teplok dengan menggunakan bahan bakar minyak solar dan dicampur sedikit bensin.

‘’Minyak tanah tidak ada, maka sulit untuk penerangan. Seharusnya minyak tanah tidak dihapus, meski masyarakat harus menggunakan gas elpiji. Sehingga warga kita menggunakan minyak solar campur besin, karena minyak tanah tidak ada,’’ ucapnya.

Dia mengharapkan program pemerintah dapat direalisasikan segera, khususnya masalah jalan, listrik dan air bersih. ‘’Kalau tidak, desa kita akan terus tertinggal,’’ ucap Amrizal.

Belum Semua Dialiri Listrik
Lain dengan Desa Darul Aman, jika malam hari hanya mengandalkan listrik desa, tapi di Kelurahan Batu Panjang, ibukota Kecamatan Rupat Selatan, belum semuanya teraliri listrik PLN. Saat ini hanya jalan-jalan poros saja yang diterangi listrik, sedangkan untuk sudut-sudut rumah penduduk masih gelap.

‘’Sekarang ini belum semuanya dialiri lisrik, baru 30 persen mendapatkan pasokan listrik PLN. Itupun hanya untuk malam hari, makanya kedepan PLN harus mampu berpikir agar listrik bisa menyala 24 jam,’’ ungkap Lurah Batu Panjang, Kecamatan Rupat Selat, Refinor.

Jika dilihat sekilas, Kelurahan Batu Panjang sama dengan kelurahan di sejumlah kecamatan lain di Kota Bengkalis maupun Dumai. Pelayanan pemerintah berjalan apa adanya, namun sebuah kelurahan saja tidak terpenuhi kebutuhan listrik, bagaimana dengan desa-desa yang ada di sana. Ini  memang sangat ironis dan kelurahan Batu Panjang sejak tahun 1982 sudah terbentuk baru sejak otonomi mendapatkan penerangan.

Refinor mengatakan,  di sudut kelurahan masih gelap gulita dan PLN hanya mampu melayani masyarakat pada malam hari.  Meski pihaknya sudah menyampaikan usulan untuk masuk jaringan, tapi usulan itu belum mendapat respon positif.

‘’Sekarang kita menambah jaringan baru dan di ibukota kecamatan tidak ada listrik, itu sangat lucu dan ironis juga. Meski hanya hidup malam hari masyarakat tetap berterima kasih dan pada siang hari masyarakat juga sangat membutuhkan listrik. Baik untuk sekolah, maupun untuk kantor,’’ ucap mantan Kepala UPTD Pasar Duri, yang mengaku di kantornya juga masih menggunakan masin genset untuk melayani masyarakat.

Ia juga menyebutkan Kampung Proyek yang sudah terpasang jaringan dan masyarakat sudah berkorban tanaman mereka untuk ditebang, untuk mendapatkan jaringan listrik tapi sampai sekarang jaringan sudah ada, listriknya belum menyala.

‘’Kita belum sampaikan ke APBD Bengkalis, agar dibantu travo, dan ini sangat perlu dan akan diajukan pengadaan travo. Mudah-mudahan tahun ini sudah terpasang travo baru,’’ ucapnya.

Dalam mengatasi masalah listrik, Lurah Batu Panjang hanya menghapkan jaringan listrik ini adalah interkoneksi jaringan PLN dari Dumai. Ini harus dipacu untuk melobinya adalah Pemkab Bengkalis bersama wakil rakyat. Karena masalah listrik memperlambat pembangunan, karena orang luar tidak mau membangun di Rupat Selatan.

‘’Jadi interkoneksi listrik hendaknya terwujud dan jangan hanya jadi pulau harapan. Karena pemerintah pusat sudah memberikan atensi pulau terluar ini untuk dibangun dengan baik. Misi pemerintah terhadap pulau terluar, harus diperhatikan, dan tentunya pembangunanya harus menjadi perhatian utama,’’ ucap Refinor.

Refinor secara terus terang menyampaikan kondisi kelurahannya, karena kelurahannya merupakan ibukota kecamatan yang harus mendapatkan perhatian serius PLN. Karena kelurahannya menjadi barometer bagi kelurahan dan desa lain yang ada di Kecamatan Rupat Selatan. Jika kelurahannya mampu berdiri dengan baik, tentu jejaknya akan diikuti daerah lain.

Tentu upaya yang harus dilakukan dalam membenuhi kebutuhan listrik, pihak PLN harus memberikan jaminan yang kuat. Karena letak Rupat Selatan dengan Kota Dumai tidak jauh. Apalagi penggelolaan listrik di Rupat masih berada di bawah kendali cabang PLN Dumai. Jika PLN memiliki kemauan, tidak serumit yang dibayangkan masyarakat dalam menggelola listrik.(rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.