Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Negeri Harapan yang Berharap

Dah 12 Tahun Tiang Itu Tecacak

Minggu, 05 Februari 2012 23:19 | Bengkalis | Feature | Riau Pos
Mesin listrik yang dibeli Pemerintah Kabupaten Bengkalis tidak bisa dimanfaatkan karena rusak parah. Padahal kalau kondisi mesin listrik ini layak pakai, persoalan listrik di Kecamatan Rupat Selatan akan teratasi. (Foto: ERWAN SANI/RIAU POS) Perbesar Gambar


 
‘’Jarak kami dengan Kota Dumai kalau mengikut kata pepatah hanya sekangkang kera. Namun, seberang (Kota Dumai, red) terang benderang bagaikan siang hari, sementara di sini meraba dalam gelap’’

Laporan GEMA SETARA dan ABU KASIM, Rupat Selatan

AWAN berarak, mendung bergelayut legam di pawana. Riak-riak gelombang bernyanyi sendu menghempas bibir pantai. Matahari, mulai condong ke barat, sekejap lagi malam kan menjelang, menyapa kelip-kelip (kunang-kunang, red) untuk bersenandung rindu bersama angin malam. Negeri  itu, bernama Pulau Harapan, satu pulau yang sangat menawan dan eksotis. Pulau itu hanya berjarak sekitar lima mil dari Kota Dumai, sementara dari ibukota kabupatennya sendiri, Bengkalis jaraknya mencapai ratusan mil.

Sayangnya, meskipun pulau itu sempat diagung-agungkan sebagai pulau harapan, namun dalam kenyataannya, semuanya hanya angan-angan belaka. Pulau itu tetap sendiri di tengah riuh rendahnya pembangunan, pulau ini masih seperti-seperti kemarin-kemarin, dengan kesederhanaan masyarakatnya, dengan pekik pingkau anak-anak sekolah dan sebagainya. Pulau ini bernama Rupat.

Saat ini , wilayah teritorial Rupat dibagi ke dalam dua kecamatan masing-masing Kecamatan Rupat Utara dan Kecamatan Rupat Selatan. Masing-masing kecamatan memiliki potensi tersendiri, misalnya perkebunan karet, kelapa sawit, kelapa, sektor perikanan dan sektor pariwisata dengan pantainya yang eksotis.

Jangan dibandingkan pulau ini (khususnya Kecamatan Rupat Selatan) setara dengan negeri seberangnya (Kota Dumai, red) atau dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Bengkalis, berbagai sarana infrastruktur yang ada di daerah ini masih sangat minim, salah satunya listrik.

Bagi masyarakat, khususnya masyarakat  di Kecamatan Rupat Selatan, ketiadaan energi listrik ini menjadi nestapa yang harus mereka tanggung sepanjang masa. Ketika di negeri seberangnya terang benderang dengan cahaya lampu yang begitu gemerlap, masyarakat di pulau ini hanya menikmati kelip-kelip (kunang-kunang, red) yang berkelip-kelip atau mereka hanya memandang purnama yang terang benderang dari tiang listrik yang tidak ada arusnya.

‘’Tiang listrik ini dibangun oleh Pemkab Bengkalis sejak tahun 2000 lalu, sampai saat ini tiang itu masih tecacak kokoh, namun tidak ada aliran listriknya. Tidak itu saja, trafo yang sudah di pasang dah pun lenyap dicuri orang. Dah 12 tahun tiang tu tecacak,’’ tutur seorang masyarakat Kelurahan Batu Panjang Muhammad Yusuf Z, saat tim Riau Pos berkunjung ke daerah itu.

Dari pantauan terlihat, tiang-tiang listrik itu berdiri kokoh dengan kabelnya. Tiang itu berwarna biru, sementara di sisi lainnya terlihat kabel-kabel yang menjuntai hingga jatuh ke tanah. Bahkan terlihat juga beberapa kabel yang berwarna hitam putus dan berserakan di tanah. Jaraknya, hanya dua kilometer dari ibu kota kecamatan.

Tidak itu saja, tempat meletakkan trafo pada salah satu tiang terlihat kosong melompong. Menurut pengakuan warga, trafo itu dicuri orang. Masyarakat tidak sempat bertindak, karena kejadiannya saat subuh hari.

‘’Kami dah penat berharap akan aliran listrik ini, sehari-hari untuk memenuhi aliran listrik terpaksa membeli genset, risikonya kami harus mengeluarkan biaya yang agak besar.  Padahal pendapatan kami sebagai petani tidaklah memadai, namun karena terpaksa semuanya kami maksimalkan untuk mendapatkan energi listrik itu khususnya pada malam hari,’’ ujarnya.

Bayangkan, untuk satu malam masyarakat harus mengeluarkan biaya setidaknya dua liter minyak solar. Di daerah itu harga satu liter solar Rp6.000, minimal untuk menghidupkan genset dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB masyarakat memerlukan sekitar dua liter solar.

‘’Artinya, satu malam kami mengeluarkan dana sebesar Rp12.000. Kalau dikalikan 30 hari, jumlahnya sangat besar mencapai Rp360.000. Belum ditambah untuk biaya pembelian minyak oli dan sebagainya. Bagi kami, uang sebanyak itu cukup besar, bahkan bisa menghidupi keluarga kami selama 30 hari pula,’’ ujarnya.

Kalau menggunakan energi listrik dari PLN biayanya tidaklah sebesar itu. Hal ini diakui Amat (56)  salah seorang warga yang bertempat tinggal di daerah Batu Panjang. Di daerah itu memang sudah dialiri listrik dan kebetulan daerah Batu Panjang merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Rupat Selatan.

Menurut Amat, dalam satu bulan dirinya hanya mengeluarkan biaya untuk listrik ini hanya Rp50.000. Di rumahnya sendiri, energi listrik itu dimanfaatkan untuk memasak nasi, menghidupkan TV, radio, mesin cuci dan sebagainya.

‘’Aliran listrik di tempat kami hanya hidup mulai pukul 18:00 WIB sampai pukul 06:00 WIB. Memang belum 24 jam, tapi jadilah, kalau malam kami sudah dapat menikmati listrik,’’ ujarnya.

Muhammad Yusuf sendiri memang memiliki mesin genset. Aliran listriknya dia alirkan ke rumah-rumah keluarga terdekatnya. Kemampuan gensetnya hanya untuk lima buah rumah, lebih dari itu daya antar listriknya tidak akan sampai. Jika dipaksakan lebih dari lima rumah risiko yang harus dihadapi cukup besar, mesin genset bisa meledak dan lebih fatal lagi rumah pun ikut terbakar.

Untuk mengalirkan listrik itu, mereka menggunakan kabel dengan tiang listrik sederhana yang terbuat dari kayu-kayu alam. Kayu-kayu ini di-cacak-kan di pinggir jalan beton, kabel-kabel listrik pun dililitkan dengan sangat sederhana. Setiap pukul 06:00 WIB listrik pun mulai dinyalakan.

‘’Jarak kami dengan Kota Dumai kalau mengikut kata pepatah hanya sekangkang kera. Ironisnya, terjadi ketimpangan yang maha dahsyat, kami sudah berkorban banyak untuk mendapatkan listrik ini, namun sampai sekarang, harapan yang pernah diasakan kepada masyarakat hanya dongeng menjelang tidur bagi kami,’’ tutur Yan warga lainnya.

Saat malam menjelang, Yan pun mengajak Riau Pos ke pelabuhan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perkampungan. ‘’Lihatlah sebarang sana tu, terang benderang bagaikan siang hari, berbanding terbalik dengan pulau ini kan,’’ ujarnya menunjuk Kota Dumai yang berhadapan langsung dengan Kecamatan Rupat Selatan.

Jaraknya hanya beberapa kilometer saja, tapi mengapa ketimpangan itu mesti ada, mereka yang di seberang hidup dengan energi listrik yang berlimpah, di sini, masyarakat Rupat Selatan, masih meraba-raba dalam kegelapan. ‘’Kami pun tak tau nak cakap apa lagi,’’ ujarnya.

Andalkan Pelita dan Lilin
Malam itu, Riau Pos memang sengaja menginap di salah satu rumah warga tempatan. ‘’Sebentar lagi aliran listrik pasti putus,’’ ujar Win sambil melihat jam di tangannya. Saat itu, hari sudah menunjukkan pukul 22:00 WIB.

Istri dan anaknya pun bergegas bangkit mengambil pelita dan lilin yang sengaja disiapkan. Pelita  dan lilin ini akan menjadi penerang saat tidur, hingga subuh menjelang. ‘’Kalau tidak ada pelita dan lilin kita tidur dalam gelap,’’ ujarnya.

Memang, katanya listrik kadang-kadang hidup hingga pukul 00:00 WIB, namun itu semua tergantung keadaan, misalnya ada pertandingan sepak bola atau acara lain yang disenangi masyarakat. Yang pasti, kondisi seperti ini sudah dijalani bertahun-tahun lamanya, tidak ada kata pasti kapan listrik bisa dinikmati masyarakat.

Persoalan minimnya energi listrik ini diperparah dengan tingginya harga jual minyak tanah. Di pulau itu, harga jual minyak tanah mencapai Rp10.000 per liternya. Padahal, minyak tanah sangat diperlukan masyarakat, dengan adanya konversi minyak tanah ke gas sedikit memberatkan masyarakat setempat, karena keperluan minyak tanah bagi masyarakat tidak semata-mata untuk keperluan memasak, akan tetapi juga untuk menghidupkan pelita agar mereka bisa mendapatkan cahaya di malam hari.

‘’Kalau minyak tanah tidak ada, kami biasanya mensiasatinya dengan mencampurkan minyak bensin dengan minyak solar untuk menghidupkan pelita ini, namun terkadang risiko yang dihadapi sangat besar, jika tidak berhati-hati pelita bisa meledak,’’ ujarnya.

Meskipun dengan risiko tinggi, masyarakat tetap membuatnya, karena harga jual kedua minyak ini jauh lebih murah jika dibandingkan dengan minyak tanah. Selain itu, keduanya lebih murah didapat jika dibandingkan dengan minyak tanah.

Investor Enggan, Perbankan tak Hendak
Minimnya energi listrik di Kecmatan Rupat Selatan ini berpengaruh terhadap investor yang akan menanamkan investasinya. ‘’Investor enggan masuk, perbankan pun tak hendak membuka kantor cabang. Mereka memerlukan energi listrik, dengan energi yang ada saat ini tidak mungkin mereka menanamkan investasinya,’’ ujar Camat Rupat Selatan Yusrizal SSos.

Sebenarnya potensi Pulau Rupat secara keseluruhan sangat besar, apalagi di Rupat Selatan yang terdiri dari delapan desa dan empat  kelurahan. Posisi pulau terluar di Indonesia ini seharusnya mendapatkan perhatian serius pemerintah dan kalangan pengusaha, terutama untuk pembangunan infrastruktur dasar, seperti jalan, air dan listrik. Tapi ketersediaan infrastruktur dasar ini masih minim, akibatnya membuat orang takut untuk berinvestasi.

Investor sudah banyak melakukan survei dan melirik potensi alam di Pulau Rupat, khususnya Rupat Selatan ini. Namun pada akhirnya mereka takut untuk berinvestasi. Mereka khawatir investasinya akan jalan di tempat, karena tidak ada tersedianya energi listrik dan juga air.

Sampai saat ini, katanya baru sekitar 20 persen saja masyarakat yang mendapatkan energi listrik dari PLN, itu pun hanya hidup dari pukul 17:00 WIB hingga pukul 07:00 WIB. Kondisi ini sudah berlangsung lama.

Di kecamatan itu, memiliki empat kelurahan dengan delapan desa. Dari empat keluarahan saja, yang masuk wilayah perkotaan hanya sedikit dialiri listrik oleh PLN. Apalagi untuk desa-desa, mereka hanya mengandalkan listrik diesel yang menyalanya dalam waktu sangat terbatas. Karena harus dihitung dengan kemampuan masyarakat.

Makanya, pihaknya sangat sedih jika melihat kondisi seperti itu. Karena kebutuhan listrik sangat diharapkan masyarakat, baik untuk peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) maupun untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, terutama usaha yang digelutinya dengan menggunakan tenaga listrik.

Upaya yang dilakukan untuk mendapatkan energi listrik itu sudah banyak. ‘’Pemkab Bengkalis sudah men-support pemasangan jaringan listrik bersama travo  pembangkitnya. Tentu untuk operasionalnya diserahkan ke PLN dan sudah ada 2 Km kita membangun jaringan listrik, dan pemerintah sangat merespon dan jika PLN punya daya yang banyak, tentu Pemkab siap memasang jaringan,’’ ujarnya.

Bahkan untuk jalan poros sepanjang 13 Km saat ini sudah ada jaringan dan 2012 diharapkan sudah menyala. Sedangkan jalan-jalan lingkungan juga sudah dipasang jaringan, bahkan ada yang sudah dipasang jaringan sejak tahun 2000, tapi sampai sekarang malah jadi besi tua.

Diharapkan, jaringan yang sudah ada dapat dimanfaatkan oleh PLN, seperti di Kampung Proyek, Kelurahan Batu Panjang, jaringan sudah ada tapi sampai saat ini hanya tinggal tiang dan kabelnya saja. Bahkan karena sangat lama terpasang, travo yang dibeli oleh pemerintah malah dicuri oleh maling.

Kalau keinginan masyarakat untuk mendapatkan energi listrik sangat tinggi. Ini bisa dilihat kemampuan masyarakat untuk masuk jaringan listrik PLN ke rumah-ruamah mereka sangat besar. Berapapun harganya akan tetap dibayarkan yang penting rumah mereka terang benderang.

Dari jumlah penduduk 37.000 jiwa dengan 8.000 KK, baru 20 persen yang menikmati listrik. Dana APBD Bengkalis untuk membangun jaringan sangat besar, dan ini diserahkan ke PLN untuk dikelola.

2012 Hidup 24 Jam
Menyikapi berbagai persoalan yang terjadi terutama tak berdayanya energi listrik di Kecamatan Rupat Selatan ini harus diselesaikan pemerintah bersama PLN.

‘’Kita sudah membuat program yaitu membuat jaringan interkoneksi untuk Sumbagut. Sekarang sedang dibuat oleh PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau,’’ jelas Kepala Cabang PLN Kota Dumai, Rasyid Naja, sebagai penanggungjawab untuk daerah Dumai-Rupat.

Kapan dimulai pemasangan kabel bawah air dari Kota Dumai yaitu Puak hingga ke Terkul Pulau Rupat, itu kewenangan kantor wilayah yang ada di Pekanbaru. ‘’Kita tinggal menunggu intruksi dari kantor wilayah. Karena untuk interkoneksi ini urusannya kantor wilayah dan bukan kita,’’ jelasnya.

Sebelum ada rencana pemasangan jaringan kabel interkoneksi dari Dumai-Rupat, PLN Cabang Dumai sudah berupaya untuk melakukan penambahan mesin. ‘’Kita memang ada rencana pemasangan mesin pembangkit tambahan. Tapi katanya tahun 2012 ini sudah interkoneksi makanya kita tunggu dulu itu,’’ jelasnya.

Untuk di Dumai sendiri, kata Rasyid Naja, pihaknya sudah melakukan proses ganti rugi lahan untuk jaringan interkoneksinya. Sedangkan untuk di Rupat Selatan tepatnya di Kelurahan Terkul tak jadi permasalahan karena lahan 10 x 10 meter sudah disiapkan  warga dan sudah selesai ganti ruginya. ‘’Katanya itu hibah masyarakat,’’ lanjutnya.

Untuk Rupat Selatan sendiri jumlah kepala keluarganya mencapai 8.000. Sedangkan yang baru terpasang baru berkisar 1.305 saja. Jadi masih terdapat 6.600 rumah warga di Rupat Selatan belum terpasang listrik yang hanya hidup pada malam hari.

Menurutnya, untuk menerangkan Pulau Rupat yang didengungkan menjadi Pulau Wisata atau Pulau Harapan, telah dibuat beberapa titik pembangkit. Seperti di Batu Panjang ditempatkan pembangkit sebesar 600 Kilowatt. Kemudian Teluk Lecah 150 kilowatt, Nyirih 200 kilowatt, Titi Akar 180 kilowatt dan Tanjung Medang 500 kilowatt. ‘’Dari semua pembangkit yang ada ini hanya 3.000 rumah di Pulau Rupat yang bisa dialiri listrik pada malam harinya,’’ jelas Rasyid Naja lagi.

PT PLN juga sudah melakukan pembangunan jaringan dari Terkul hingga ke Teluk Lecah. Sedangkan Pemkab membangun jaringan dari Teluk Lecah hingga Pangkalan Nyirih. ‘’Bantuan Pemkab ini sangat membantu kita. Paling tidak jika interkoneksi terealisasi kita sudah bisa memasukan arus ke rumah warga,’’ jelasnya.

Di Rupat Selatan sendiri jumlah pelanggan terbesar PLN, yaitu mencapai 1.305 pelanggan. Sedangkan 1.7000 lagi tersebesar di daerah Teluk Lecah, Pangkalan Nyirih, Titi Akar dan Tanjung Medang. ‘’Kita ingin Pulau Rupat terang benderang malam harinya. Target kita tahun 2012 ini rupat sudah hidup listriknya siang dan malam,’’ kata Rasyid Naja.

Dalam pada itu Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Bengkalis, Hermizon mengungkapkan, dalam tahun 2012 ini Pemkab mengalokasi sejumlah anggaran untuk membangun jaringan distribusi. ‘’Untuk listrik desa dan listrik tenaga surya tidak ada, karena jika jaringan interkoneksi bawah laut itu sudah siap, tentu daya listrik besar dan seluruh masyarakat di Pulau Rupat baik di Kecamatan Rupat Selatan dan Utara bisa menikmatinya,’’ ujarnya.(rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.