Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Sila Ardita, Dua Tahun Lumpuh karena Penyakit Misterius

Mata Sempat Buta, Rindu Kembali ke Sekolah

Sabtu, 28 Januari 2012 15:18 | Nusantara | Kesehatan | Redaksi
Sila Ardita SOPIAN/sumut pos Perbesar Gambar


Mata Sila Ardita berbinar melihat teman-temannya bermain. Begitupun ketika teman-temannya itu berlompatan, berlari, hingga berkejaran. Tapi, tak lama kemudian, sinar itu langsung berubah 180 derajat. Gadis cilik berusia 9 tahun itu memang tak bisa bergabung. Tangannya sulit digerakkan, kakinya pun mengalami kelumpuhan.


SOPIAN, Tebingtinggi

Kesedihan Sila terlihat jelas ketika Sumut Pos mendatangi rumahnya di di Jalan Syek Beringin, Lingkungan 1, Kelurahan Tebingtinggi, Kecamatan Padanghilir, Kota Tebingtinggi, kemarin. Sila hanya duduk di kursi plastik berwarna hijau di depan rumahnya. Sementara teman sebayanya bebas berlarian. Sila hanya menonton.

”Kadang mereka ngajak aku turun ke tanah, tapi aku cuma bisa duduk,” buka Sila yang saat itu memakai baju merah.
Pemilik senyum manis ini sesekali tertangkap memandang kosong entah ke mana saat berbicara. “Pernah juga dia ajak teman-teman bermain, tapi aku gak bisa gerakan kaki. Rasanya sakit dan kebas. Aku cuma bisa menonton, Om,” terangnya.

Terlihat jelas setiap Sila bicara kalau ada keinginan yang tidak bisa digapai. Buah hati Armaja (38) dan Mustika Wati (34) ini tampaknya ingin mengulang masa cerianya dulu yang bisa berlari dan bermain di rumah maupun di sekolah. “ Ingin, Om, seperti mereka bisa berjalan. Aku ingin bermain dan sekolah bersama teman-temanku,” tutur Sila.

Ya, Sila seperti pengakuan sang ayah, Armaja, memang sempat bersekolah. Dulu saat Sila berumur 6 tahun, dia terlihat segar bugar tidak mengalami gangguan penyakit apa pun. Bahkan, Sila sempat bersekolah hingga kelas dua sekolah dasarn
“Tapi saat Sila berumur tujuh tahun saat naik ke kelas tiga, dia diserang penyakit aneh. Matanya sampai buta. Tapi setelah dilakukan pengobatan secara rutin, penglihatan Sila kembali membaik. Tapi kondisi tangan dan kakinya mengecil sehingga terjadi kelumpuhan,” terang Armaja.

“Berbagai pengobatan sudah kami lakukan, seperti membawa ke dokter dan pengobatan tradisional yang ada. Tapi selama berobat, penyakit yang diderita Sila tak kunjung sembuh,” ungkap Armaja.

Soal penyakit aneh yang diderita Sila hingga kini masih menjadi misteri. Sang ibu, Mustika Wati, mengatakan telah berbagai tempat mereka datangi untuk kesembuhan sang buah hati. Lucunya, pernah seorang dokter mengatakan bahwa penyakit yang diderita Sila Ardita itu tidak ada. Tapi, Sila malah dikatakan terkena penyakit stroke ringan. Tak pelak, keterangan sang dokter membuat dia dan suami bingung. “Masak untuk anak berusia tujuh tahun udah terkena stroke ringan, stroke itu kan dialami orang pada usai 35 tahun ke atas,” ucap Mustika.

Untuk mengetahui jenis penyakit yang diderita anak perempuannya, Mustika tetap melakukan pengobatan walapun dengan cara harus mengutang kepada orang lain untuk biaya perobatannya. “Kami berharap penyakit aneh diderita Sila bisa diketahui penyebab dan namanya. Sebelumnya Sila hanya menderita demam tinggi, kemudian dibawa berobat ke klinik. Bukan kesembuhan didapat, malah anak saya mengalami kebutaan dan lumpuh kaki dan tangan,” ujarnya.

Kini, pengobatan untuk Sila hanya dengan pengobatan alternatif. Pasalnya, pengobatan secara kedokteran tak bisa dilanjutkan karena uang yang dimiliki sudah habis untuk pengobatan awal.

Armaja hanya bekerja sebagai  pegawai honorer di Telkom di Kota Tebingtinggi. Upah yang diterima sebulan tidak mencukupi untuk membiayai pengobatan anaknya, belum lagi untuk keperluan kebutuhan sehari-hari keluarganya; selain Sila, Armaja masih memiliki dua anak lagi.Rumah tempat tinggal pun tidak ada. Meraka terpaksa menumpang di rumah orangtua Armaja.

Sementara Mustika Wati dalam kesehari-hariannya hanya mengurus Sila dan kedua adiknya. “Saya tidak bekerja hanya mengurus Sila di rumah,” ujar Mutika Wati.

Karena itu, kini pihak keluarga sangat berharap dengan bantuan dari Pemerintah Kota Tebingtinggi. “Masa depan anak saya sangat tergantung dengan bantuan orang lain,” pungkas Armaja.(rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.