Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Setahun, 212 Hektare Pulau Rangsang Terkena Abrasi

Jum´at, 27 Januari 2012 15:52 | Meranti | Riau Pos


 
SELATPANJANG - Rata-rata selama setahun lahan yang ada di Pulau Rangsang hilang seluas 212 hektare. Hal itu diakibatkan abrasi dari hantaman gelombang air laut Selat Malaka.

Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kepulauan Meranti di tahun 2012 ini, sudah mengajukan untuk dilakukan penanaman mangrov seluas 80 hektare kepada pemerintah pusat.

Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Hutbun Kepulauan Meranti, Ir Mamun Murod, Rabu (26/1) kemarin di Selatpanjang. Dikatakannya bahwa dari seluruh pulau yang ada di Kepulauan Meranti, Pulau Rangsang yang menjadi daerah terparah mengalami abrasi akibat hantaman gelombang.

‘’Satu sisi pulau yang berada persis di depan Pulau Tebing Tinggi ini langsung menghadap Selat Malaka yang terkenal memiliki gelombang air laut yang besar. Apalagi di musim tertentu setiap tahunnya Pulau Rangsang ini rata-rata hilang seluas 212 hektare,’’ ungkap Murod.

Secara matematis, Murod menghitung dengan luasan Pulau Rangsang itu maka sekitar lebih kurang selama 360 tahun lebih pulau itu akan hilang. Oleh karena itu pihaknya terus berupaya untuk melakukan pencegahan atau paling tidak meminimalisir terjadinya abrasi. Sampai akhirnya nanti, pulau tersebut bisa terlepas dari ancaman abrasi yang hingga saat ini terus saja terjadi setiap waktu.

‘’Kita sudah mengajukan program penanaman mangrove di tahun ini. Kita mengajukan kepada pemerintah pusat dilakukan penanaman mangrove seluas 80 hektare untuk tahun 2012 ini. Paling tidak hal itu sebagai upaya meminimalisir jumlah terjadinya abrasi yang terus mengancam Pulau Rangsang,’’ sebut Kadishutbun.

Menurut Mantan Kabid Kehutanan Provinsi Riau itu, ada beberapa titik terjadinya abrasi yang sangat kuat di Pulau Rangsang itu.

Di antaranya, di Tanjung Motong, Tanjung Kedabu, Bungur dan sejumlah daerah lainnya. Untuk pencegahan secara intensif, Murod menegaskan harus dilakukan secara parsial bersama SKPD lainnya.

‘’Kalau kita ingin penanggulangan secara intensif terhadap abrasi yang terjadi di seluruh wilayah di Kepulauan Meranti, maka harus dilakukan secrara parsial dan terintegrasi. Contohnya yang paling baik itu bukan hanya penanaman mangrove saja, tapi dibangunkan batu pemecah ombak yang menjadi tupoksi dari Dinas PU, dan peran Satker lainnya sampai ke tingkat desa. Sehingga gelombang yang datang untuk menghantam daratan kita menjadi kecil karena adanya batu pemecah ombak,’’ terangnya. (amy/rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.