Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Berharap Tuah di Tahun Naga

Senin, 23 Januari 2012 01:11 | Riau | Seni Budaya | Riau Pos
Inilah atraksi barongsai di salah satu mal di Pekanbaru beberapa waktu lalu. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, tarian barongsai selalu ditampilkan dalam berbagai kegiatan. (Foto: Dok. Riau Pos) Perbesar Gambar


 
PEKANBARU - Senin (23/1) ini, masyarakat Tionghoa di dunia termasuk di Riau akan merayakan Hari Raya Imlek. Semuanya sudah bersolek, berbagai ritual menjelang acara keagamaan pun sudah dimulai. Masyarakat Tionghoa berharap kebaikan akan menjelang di tahun naga ini.

Tokoh masyarakat Tionghoa Sidharta tampak sibuk membersihkan patung-patung dewa yang terdapat di rumahnya. Menurut tradisi, ritual memberihkan patung-patung dewa, khususnya patung Dewa Tungku. Ini menjadi agenda tahunan khususnya satu minggu sebelum Imlek menjelang.

‘’Bagi kami masyarakat Tionghoa satu minggu menjelang Imlek menjadi kewajiban membersihkan patung-patung dewa yang ada di rumah. Saat perayaan Imlek ini para dewa itu akan naik ke langit untuk memberikan laporan kepada Sang Pencipta tentang berbagai perbuatan baik dan buruk yang telah kami lakukan sepanjang tahun itu,’’ tutur Sidharta.

Dewa Tungku akan pulang ke surga serta melaporkan tugasnya kepada Raja Surga. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk memberikan hidangan yang menyenangkan atau hal-hal yang dapat membuat Dewa Tungku tidak murka. Sehingga nantinya, jika ia laporan ke Raja Surga, menyampaikan laporan yang baik-baik dari rakyat yang diawasinya.

Bagaimana caranya supaya Dewa Tungku tidak murka, yang menyampaikan laporan baik-baik saja pada Raja Surga? Akhirnya, warga pun mencari bentuk sajian yang manis, yakni kue yang disajikan dalam keranjang. Maka disebutlah kue keranjang, yang sudah mentradisi setiap tahun disajikan untuk merayakan tahun baru Imlek.

Dalam menyajikan kue untuk Dewa Tungku, kue keranjang yang manis tersebut, juga ditentukan bentuknya yakni harus bulat. Hal ini bermakna, keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat berkumpul (minimal) satu tahun sekali, serta tetap menjadi keluarga yang bersatu, rukun, bulat tekad dalam menghadapi tahun baru yang akan datang. Tradisi ini pun dibawa terus secara turun temurun, sampai sekarang ini. Selanjutnya, pada hari keempat Imlek ritual mengundang para dewa untuk turun ke bumi kembali dilakukan.

Disebutkan Sidharta, bagi masyarakat Tionghoa, Imlek ini adalah perayaan musim semi. Imlek merupakan hari raya yang paling penting dalam masyarakat Tionghoa. Perayaan Tahun Baru ini juga dikenal sebagai Chunjii (Festival Musim Semi/Spring Festival), Nsngll Xinnian (Tahun Baru), atau  Gurnian atau Sin Tjia.

Dalam menyambut perayaan Imlek ini semua masyarakat menyambut dengan berbagai kegiatan yang sifatnya kebahagiaan dengan banyak menggunakan unsur merah. Mengapa unsur merah, karena bagi masyarakat Tionghoa warna merah ini memberikan Hoki atau keberuntungan dan menghindari dari bahaya.

Kata Imlek (Im = Bulan, Lek = penanggalan) berasal dari dialek Hokkian atau Mandarinnya Yin Li yang berarti kalender bulan. Perayaan Tahun Baru Imlek dirayakan pada tanggal 1 hingga tanggal 15 pada bulan ke-1 penanggalan kalender Cina yang menggabungkan perhitungan matahari, bulan, 2 energi yin-yang, konstelasi bintang atau astrologi shio, 24 musim, dan 5 unsur.

Mercon dan Nian Show
Diceritakan Sidharta, zaman dahulu setiap akhir tahun, menjelang pergantian tahun tahun baru, akan muncul sejenis binatang buas yang namanya Nian Show yang siap memangsa apa saja yang dijumpainya. Bintang ini muncul setahun sekali, persis di akhir tahun, menjelang awal tahun baru Imlek.

Nian Show bermakna nian (tahun) show (binatang). Dalam penanggalan Imlek dilambangkan dengan dua belas jenis binatang, yakni dikenal dengan shio-shio naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, babi, tikus, kerbau, macan dan kelinci.

Konon, Nian Show itu tidak memangsa mereka yang berpakaian merah. Bahkan, ada beberapa orang warga yang sedang bermain mercon, terhindar dari mangsa Nian Show, karena mendengar bunyi petasan. Dengan adanya kejadian tersebut, disimpulkan Nian Show takut kepada yang berwarna merah dan bunyi petasan.

Sejak itu, demi keselamatan bersama, pada setiap akhir tahun dan menyambut tahun baru, digantung kain merah di depan rumah, digantung lampion merah, di dinding ditempel keratas merah, disertai tulisan dan kalimat puisi yang indah. Demikian juga bunyi petasan-petasan, dimaksud untuk mengusir Nian Show.

‘’Kita bisa lihat di kampung-kampung dalam setiap perayaan Imlek, masyarakat ada yang memasang kain merah di depan pintu rumah mereka. Ini tujuannya untuk menghindari dari mara bahaya itu,’’ tutur Sidharta lagi.

Tradisi Angpao
Setiap merayakan Imlek, masyarakat Tionghoa juga tidak lupa memberikan angpao atau angpau. Angpao ini adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek.

Dalam tradisinya, yang boleh memberikan angpao ini adalah mereka yang sudah menikah. Angpao ini diberikan kepada keponakan, saudara yang lebih muda atau adik. Jumlah uang yang diberikan haruslah genap karena kalau ganjil bermakna kematian.

Selain itu, jika dijumlahkan, haruslah lebih dari 4 atau kurang dari 4, dan sama sekali tidak boleh pas 4, karena 4 dalam bahasa Cina terdengar seperti kata ‘’mati’’.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu ‘’Ya Sui’’, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/pergantian tahun.

Tradisi memberikan uang sebagai hadiah ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur dituliskan bahwa anak-anak menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan, kue-kue. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat hadiah mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Angpao ada dua macam, pertama adalah merajut gambar naga dengan benang berwarna, dan diletakkan di kaki ranjang. Kedua adalah angpao yang telah dibungkus uang oleh orang tua, dan dibagikan kepada anak-anak setelah bersujud mengucapkan selamat tahun baru kepada orang tua.

Angpao adalah pemberian wajib, dan yang berhak memberikan angpao biasanya orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan peralihan dari anak-anak ke dewasa, dan ada anggapan bahwa orang yang telah menikah dan telah mapan secara ekonomi.

Berharap Tuah di Tahun Naga
Imlek tahun 2012 ini bertepatan dengan Shio Naga. Bagi masyarakat Tionghoa, Shio Naga ini memiliki arti tersendiri dan akan memberikan tuah jika semuanya dilaksanakan dengan baik. ‘’

‘’Dalam keyakinan warga Tionghoa, Naga adalah mahluk yang langka. Naga diartikan sebagai hewan Dewa dan bukan duniawi,’’ ungkap Ketua Perwakilan Ummat Budha Indonesia (Walubi) Riau, Pendeta Hosan.

Karena naga adalah hewan dewa, maka orang mengartikan kalau Tahun Naga adalah Tahun Kebaikan dan Keberuntungan. Sehingga banyak warga Tionghoa di Tahun Naga ini, melakukan berbagai kegiatan-kegiatan. Karena tahun ini adalah tahun kebaikan dan tahun keberuntungan.

Menjawab Shio apa saja yang akan beruntung di tahun Naga ini, ia mengatakan dirinya memiliki cara pandang yang berbeda dengan Fengshui. Dari sisi Fengshui, memang ada mengelompokan shio-shio yang beruntung dan tidak. Namun sebagai pimpinan Spiritual Agama, Ia tak melihat adanya perbedaan Shio-shio warga Tionghoa.

Menurutnya tidak ada shio yang beruntung dan tidak beruntung. Ia berkeyakinan, yang kurang bagus bisa diperbaiki dengan cara memperbanyak kebaikan. Orang yang berbuat karma yang baik, maka otomatis yang tidak baik akan hilang.

Dengan menanamkan karma yang baik, akan mendapatkan hasil yang baik pula. Sebaliknya orang yang menanam kejahatan akan mendapatkan kejahatannya. Seperti kita menanam padi, hari ini ditanam besok akan mendapatkan hasilnya. Kuncinya menanamkan kebaikan seperti ajaran Budha.

Hal yang sama juga diungkapkan Sidharta. Menurut Sidharta, tahun ini karena kebetulan Tahun Naga Air, maka mereka yang bergerak dalam bidang usaha air biasanya akan mendapat keberuntungan yang lebih. Akan tetapi, bukan mereka yang bergerak dalam bidang usaha lainnya tidak beruntung, mereka akan tetap beruntung akan tetapi harus lebih banyak mendekatkan diri kepada sang pencipta dan selalu memberikan rezeki kepada mereka yang tidak mampu, atau dengan kata lain lebih banyak mendekatkan diri pada agama dengan tetap menjalankan usaha dengan sebaik mungkin.

‘’Dalam masyarakat Tionghoa ada lima elemen yang selalu mengiringi shio itu, masing-masing logam (emas), air, api, kayu dan tanah. Perputaran ini setiap 12 tahun sekali dan tahun ini bertepatan dengan Tahun Naga Air,’’ ujarnya.

Karena bertepatan dengan Tahun Naga Air, maka mereka yang bergerak dalam bidang usaha air diprediksi akan mendapatkan keberuntungan yang lebih. ‘’Namun sekali lagi saya katakan, bukan berarti mereka yang bergerak dalam bidang usaha lain tidak beruntung,’’ tuturnya.

Yang jelas, lanjut dia, usaha-usaha yang cocok dikerjakan dalam tahun Naga Air ini adalah usaha-usaha yang berhubungan dengan air. Misalnya dibidang perikanan, pengelolaan air mineral dan sebagainya.

Akan tetapi juga, dalam menjalankan usaha itu harus dilakukan secara berhati-hati, karena jika tidak berhati-hati resiko yang akan dihadapi sangat besar dan akan menimbulkan kerugian yang cukup besar kepada mereka.

Mengapa, karena jika sedikit saja naga itu menggeliat ia akan memberikan dampak yang cukup besar dan bisa menghancurkan segala usaha yang dijalankan dengan susah payah. ‘’Karenanya kita semua harus berhati-hati dan senantiasa berdoa kepada sang pencipta,’’ ungkapnya.

Beragam Kegiatan
Puncak perayaan Imlek tahun 2012 ini akan dipusatkan di Kampung Tionghoa Melayu di Jalan Karet. Saban tahun, beragam kegiatan di kawasan ini kerap dilakukan. Beragam kegiatan yang dilakukan berupa kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti atraksi barongsai, hiburan serta beragam pertunjukkan lainnya.

Selanjutnya juga akan digelar acara open house di ball room salah satu hotel di Pekanbaru. Acara open house ini akan dihadiri Gubernur Riau, dalam acara ini juga akan digelar beragam kegiatan kesenian.

‘’Kami mengundang seluruh masyarakat Tionghoa di Riau umumnya dan Pekanbaru khususnya untuk datang pada acara open house itu. Di sini kita bisa bersama-sama saling silaturahmi bersama,’’ ujar Ketua Panitia Imlek Bersama Toni.

Sedangkan puncak acara akan dilakukan pada malam Cap Go Meh yang akan dihadiri Wali Kota Pekanbaru. ‘’Kembali beragam acara kesenian akan dilakukan. Malam Cap Go Meh ini merupakan malam terakhir dari pelaksanaan perayaam Imlek,’’ ujarnya lagi.

Disebutkan Toni, ada tiga perayaan pada Imlek tahun ini. Pertama Detik-detik menyambut Imlek yang akan digelar pada malam 22 Januari, lalu malam ramah tamah pada 26 Januari dan Cap Go Meh seabagai penutup pada 5 Februari mendatang.

Sementara Sidharta dalam kesempatan yang sama mengimbau kepada seluruh masyarakat Tionghoa di Riau umumnya dan Pekanbaru khususnya untuk merayakan Imlek ini dengan sederhana. Selain itu, dia juga mengajak seluruh masyarakat Tionghoa untuk menjaga persaudaraan dan keamanan khususnya di Kota Pekanbaru.

‘’Mari kita rayakan Imlek ini dengan sederhana, terlebih dalam kondisi ekonomi saat ini, mari kita sederhana dan tidak berlebih, sebab dengan berlebihan tidak akan memberikan manfaat kepada siapapun,’’ tuturnya.(gem/dac/rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.