Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Menelusuri Perairan Batang Tuaka, Lokasi Konflik Manusia-Buaya

Sehari Bertemu 4 Buaya, Itu Mah Biasa

Kamis, 19 Januari 2012 23:23 | Indragiri Hilir | Feature | Riau Pos

Laporan M FATHRA NAZRUL ISLAM, Tembilahan


Konflik manusia dan buaya di Riau bukan cerita baru. Hampir sebagian besar kawasan sungai rawa di Riau menjadi habitat predator mematikan itu.

Begitupun di Kecamatan Batang Tuaka, Indragiri Hilir. Bagi masyarakat, berpapasan dengan buaya itu sudah hal yang biasa. Bagaimana ceritanya?

Konflik yang terjadi di Desa Sungai Raya, Kecamatan Batang Tuaka, Senin (16/1) malam lalu, bukan tanpa alasan.

Hutan tempat buaya itu biasa bertelur di sepanjang Sungai Batang Tuaka sudah habis.

Dan, M Amin (35), istri Nurjanah (34), warga RT 9 Sungai Raya menjadi salah satu di antara korban teranyar yang mengalami langsung konflik tersebut.

M Amin yang ditemui Riau Pos, Rabu (18/1) kemarin kondisinya mulai membaik. Trauma yang masih menghantuinya sehari sebelumnya, karena bertarung degan buaya sepanjang 5 meter juga mulai berkurang. Dia pun bersedia bercerita bagaimana perjuangannya lepas dari kematian.

Malam itu, dijelaskan Amin, sekitar pukul 20.30 WIB, suasana cukup sepi, tidak banyak warga yang melintas karena sedang menonton acara televisi di rumah salah seorang warga.

M Amin yang ada di rumah bersama istri dan ketiga anaknya beranjak untuk buang hajat ke parit di belakang rumah. Sekitar pukul 21.00 WIB, ketika selesai buang air dan akan meninggalkan parit, tiba-tiba paha kirinya disambar buaya hingga membuat ia tertarik ke dalam parit selebar 5 meter dan kedalaman 3 meter lebih.

Berada dalam cengkeraman mulut buaya di anak sungai yang sedang pasang dalam, Amin langsung berteriak minta tolong. ‘’Tolooong.. Aku diterkam buaya,’’ ungkap M Amin menceritakan kisahnya.

Teriakan Amin didengar pertama kali oleh anak sulungnya, Arbainah (15) yang juga langsung memekik hingga didengar warga yang kemudian berdatangan.

Dalam kondisi yang gelap, M Amin mengaku diputar tiga kali oleh reptil tersebut. Setiap usai memutar, lanjut M Amin, buaya itu diam, dan ia terus berusaha melepas cengkeraman mulut buaya hingga kedua telapak tangannya terluka oleh taringnya.

‘’Diputar tiga kali, saya hanya bisa memekik minta tolong,’’ ujar Amin.

Ceritanya lagi, waktu ia mencoba melepas cengkeraman mulut buaya menggunakan tangan, gigitan buaya itu malah semakin kuat. Hal itu membuat Amin sempat pasrah dan memegang kepala buaya.

‘’Saya tidak tahu kalau matanya dicolok bisa melepaskan gigitan, jadi saya hanya pegang kepalanya saja. Dari ukuran kepalanya, kira-kira panjangnya ada 5 meter,’’ tutur suami Nurjanah itu.

Dalam kondisi yang mulai lemas, Amin yang malam itu hanya mengenakan kain sarung melihat ada cahaya lampu di pinggir parit. Ketika itulah buaya melepaskan gigitannya.

‘’Waktu gigitannya dilepas, terasa sakit sekali,’’ keluh Amin.

Nurjanah juga menambahkan, dalam kondisi bergulat dengan buaya itu, memang banyak warga yang menyaksikan dari darat, tapi tidak ada yang bisa turun. Ia bersama anak-anaknya pun hanya bisa bisa berteriak histeris.

Setelah buaya melepas gigitan, akhirnya ada pemuda, Kamsir langsung terjun ke parit memberi pertolongan.

‘’Melihat paha Bapak berdarah, ia membuka baju dan melilitkannya ke paha Bapak dan membawanya ke pinggir parit, baru dibantu mengangkat oleh yang lain,’’ kata Nurjanah. ‘’Bapak selamat dari gigitan buaya itu karena pertolongan Allah,’’ ungkap Nur bersyukur.

Tempat Bertelur Sudah Habis
Menurut Kepala Desa Sungai Raya, Sulaiman, saat ini hutan tempat buaya biasa bertelur di sepanjang Sungai Batang Tuaka sudah habis.

Sulaiman menuturkan selama ini tidak pernah terjadi konflik antara buaya dengan manusia di kawasan itu, bahkan bertemu buaya dengan jumlah 3 sampai 4 ekor ketika melintas di Sungai Batang Tuaka sudah hal yang biasa bagi masyarakat di sana.

‘’Di daerah ini memang masih banyak populasi buaya, mulai dari Parit 2, 3, 4, 5, dan parit 6, tapi tidak pernah mengganggu,’’ ujar Sulaiman.

Menurutnya, semua parit yang ada di Sungai Raya bermuara ke Sungai Batang Tuaka yang menjadi habitat buaya. Sungai tersebut juga mengalir ke Desa Junjangan dan daerah Hulu Desa Sungai Luar.

Rata rata, setiap parit yang ada di desa itu menjadi kawasan jelajah buaya dan sering dijumpai muncul di perairan, apalagi saat kondisi air sugai sedang surut. Sungai Batang Tuaka sendiri saat ini sudah mengalami pendangkalan. Air sungai tersebut dipengaruhi pasang surut air laut. Di daerah itu dulu masih banyak terdapat hutan alam rawa dan banyak kawasan yang jarang dilintasi manusia.

Sekarang berbeda, lanjut Sulaiman, yang ada hanya hutan Pedada dengan lebar sekitar 500 meter dan terhampar di sepanjang Sungai Batang Tuaka Desa Sungai Raya, mengarah ke Desa Junjangan sepanjang lebih kurang 3 kilometer.

Tahun 2011 lalu warga pencari kayu juga pernah mendapati telur buaya sebanyak 20 butir dalam satu tempat.

‘’Dulu buaya sering bertelur di ujung parit yang mengarah ke hutan rawa, tapi sekarang hutan itu sudah habis, yang ada tinggal hutan pedada,’’ jelas Sulaiman sembari mengatakan, saat ini populasi buaya di kawasan itu rata-rata berukuran 3 meter, dan yang lebih besar bisa mencapai 6-7 meter. Tapi buaya ukuran besar jarang muncul.

Lokasi penyerangan buaya terhadap M Amin (35), Senin malam lalu berada di RT 9, Desa Sungai Raya. Jarak lokasi dengan Sungai Batang Tuaka mencapai 1,5 kilometer.

Pasca kejadian tersebut, warga juga tidak melakukan tindakan apa-apa seperti perburuan buaya, karena mereka sadar bahwa buaya merupakan reptil yang dilindungi.

‘’Tadi Ibu RT menelepon saya menanyakan kenapa tidak ada pengamaman di daerah kejadian? Warga menduga buaya tersebut masih berada di sekitar lokasi, sehingga mereka takut mandi di parit. Kita juga takut memburu, karena buaya kan dilindungi,’’ ujar Sulaiman.

Sulaiman juga menambahkan sekitar 4-5 tahun lalu pernah terjadi konflik antara buaya dengan manusia di Kuala Junjangan, Desa Junjangan dengan korban atas nama Apul yang sehari-hari mencari ikan.

Mungkin korban melakukan tindakan yang membuat buaya merasa terganggu sehingga ia menyerang.

Dalam peristiwa itu korban berhasil selamat setelah memberi perlawanan menggunakan pisau yang ada dipinggangnya.

‘’Waktu itu korban menusuk-nusukkan pisau ke mata buaya, sehingga ia dilepaskan dari gigitannya. Menurut cerita setengah bulan kemudian, ada warga menemukan buaya mati di daerah Sungai Rawa, tapi itu cerita yang beredar di masyarakat,’’ papar Sulaiman.

Terkait peristiwa penyerangan buaya terhadap warganya, serta keresahan yang ada di masyarakat, pihaknya sudah melapor ke Mapolsek Batang Tuaka.

‘’Kita juga akan melaporkan hal ini ke pihahk BKSDA, dan berharap ada tindakan supaya masyarakat merasa nyaman beraktivitas,’’ imbuhnya.

Camat Batang Tuaka, Drs Sutriadi saat dihubungi juga mengatakan bahwa Sungai Batang Tuaka merupakan salah satu habitat buaya di Inhil. Daerah itu berbatasan langsung dengan Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS) yang dikenal terdapat banyak buaya.

‘’Kita ikut prihatin dengan kejadian ini, dan sementara waktu menghimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dalam beraktivitas di sungai maupun parit,’’ pesan Sutriadi.

Terkait itu, Humas BKSDA Wilayah I Rengat, Parmohonan Lubis, menyampaikan ada baiknya jika pemerintah daerah mengusulkan dibuatnya sebuah kawasan penangkaran buaya, sehingga populasi buaya dapat ditekan.

‘’Hal itu didasari alasan jumlah populasi buaya diprediksi tidak sebanding dengan luas habitat yang tersisa,’’ ujar Parmohonan kepada Riau Pos, Selasa (17/1) lalu.

Menurut Parmohonan, untuk menghindari konflik tersebut, masyarakat harus mengetahui kebiasaan reptil buas tersebut.

Menurutnya, pada saat ini buaya sedang memasuki musim kawin, sehingga reptil tersebut menunjukkan perilaku yang lebih agresif dari biasanya. ‘’Birahinya tinggi dan tindakannya jauh lebih agresif,’’ ujar Parmohonan Lubis.(rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.