Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Disambar Saat Hendak Buang Hajat, Diseret 100 Meter

Amin Bertarung dengan Buaya

Rabu, 18 Januari 2012 14:13 | Indragiri Hilir | Riau Pos
M. Amin terbaring di RSUD Puri Husada, Tembilahan dengan kaki terluka akibat gigitan buaya. (Foto: M FATHRA NAZRUL ISLAM/Riau Pos) Perbesar Gambar

 

TEMBILAHAN - PASCA penangkapan buaya sepanjang 5,5 meter di Seibela, Kuala Indragiri yang membunuh Rio Candra (14), konflik di wilayah perairan belum berakhir.

Senin (16/1), M Amin (35), warga Parit 6, Desa Sungai Raya, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir kembali menjadi korban amuk buaya.

Lelaki yang kesehariannya bekerja sebagai buruh tani tersebut ditarik sejauh 100 meter oleh reptil buas tersebut saat hendak buang air di jerambah kayu yang terletak di pinggir parit  yang terletak di belakang rumahnya. Korban sempat melakukan perlawanan, sehingga akhirnya berhasil selamat dari gigitan buaya dan dilarikan ke RSUD Puri Husada, Tembilahan dalam kondisi luka-luka.

Menurut korban, untuk bisa lepas dari gigitan buaya, Ia harus bertarung sekuat tenaga membuka mulut buaya dengan kedua tangannya.

‘’Malam itu saya sedang buang air di jerambah pinggir parit, tiba-tiba disambar oleh buaya,’’ ujar M Amin yang saat itu kondisinya mulai membaik setelah mendapat perawatan dari tim medis RSUD Puri Husada, Tembilahan.

Diakui korban, saat kejadian cukup banyak tetangga yang berupaya menolong, tapi tidak bisa turun ke dalam parit karena ia sudah diseret. Apalagi malam itu air sedang pasang.

Diseret dalam cengkraman mulut buaya dengan tubuh timbul tenggelam sekitar 15 menit, M Amin tidak kehilangan akal dan berusaha melawan untuk melepaskan gigitan buaya.

‘’Saya tidak tahu pasti berapa besar buayanya, karena malam hari dan tidak bisa melihat dengan jelas,’’ tutur M Amin.  

Menurut korban, ia diseret sekitar 100 meter dari tempat ia disambar. Dalam pergulatan tersebut, setelah berhasil melepas cengkeramannya, korban sempat melepas baju dan melilitkannya ke mulut buaya.

Saat Riau Pos mengunjungi korban, Selasa (17/1) pagi, M Amin terbaring di kursi perawatan ruang bedah RSUD Puri Husada Tembilahan dengan kondisi paha bagian kiri, dan kedua tangannya dibalut perban. Korban ditemani isteri, anak serta kerabat dekat.

Sayuti, kerabat korban mengatakan malam itu ia dan warga menyaksikan langsung kejadian mengaku kebingungan untuk memberikan pertolongan. Selain lokasi yang gelap, malam itu air parit juga sedang pasang dalam.

Warga baru dapat membantu korban turun ke sungai setelah lepas dari mulut buaya dan buaya tersebut menghilang.

Menurut Sayuti, akibat kejadian yang dialami oleh korban, kini masyarakat yang tinggal di sepanjang Parit Desa Sungai Raya merasa resah. Mereka takut akan ada korban lainnya, akibat keganasan buaya yang kini mulai memangsa manusia.

‘’Kita hanya bisa berharap kepada pemerintah Indragiri Hilir atau dinas terkait agar bisa mengatasi masalah ini. Jangan sampai nantinya ada masyarakat lagi yang menjadi korban keganasan buaya,’’ harap Sayuti.

Warga juga menyebutkan, selama ini belum pernah melihat langsung adanya buaya yang berkeliaran di daerah Parit 6 Sungai Raya. Biasanya, buaya liar banyak ditemukan di kawasan Parit 4 dan 5 Desa itu.

Berkaitan dengan kejadian itu, Humas Balai KSDA Wilayah I Rengat, Parmohonan Lubis saat dihubungi Riau Pos mengaku baru menerima kabar kembali terjadinya konflik antara buaya dengan manusia di Inhil.

‘’Yang jelas kita sudah melaporkan kejadian ini pada pimpinan yang ada di Pekanbaru. Namun untuk langkah yang nyata kita masih menunggu perintah dari atasan,’’ kata Pamarhonan Lubis.

Musim Kawin
Menurut Parmohonan Lubis, saat ini buaya sedang memasuki musim kawin, sehingga reptil tersebut menunjukkan perilaku yang lebih agresif dari biasanya. ‘’Birahinya tinggi dan tindakannya jauh lebih agresif,’’ ujar Parmohonan Lubis.

Pihak BKSDA meminta masyarakat di daerah perairan Inhil untuk tetap waspada terhadap aktivitas buaya di lingkungan masing- masing. Apalagi saat musim kawin, buaya seringkali naik ke darat untuk bertelur.

Selain itu, populasi buaya di Kabupaten Inhil tergolong tinggi, meski secara angka belum bisa dihitung. Berdasarkan literatur yang diperoleh, pada musim kawin dan bertelur buaya dapat menjadi sangat agresif dan mudah menyerang manusia atau hewan lain yang mendekat.  

Di musim bertelur buaya amat buas menjaga sarang dan telur-telurnya. Induk buaya betina umumnya menyimpan telur-telurnya dengan dibenamkan di bawah gundukan tanah atau pasir bercampur dengan serasah dedaunan. Induk tersebut kemudian menungguinya dari jarak sekitar 2 meter.(fat/rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.