Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Pariwisata Riau Kaya Objek, Miskin Infrastruktur

Minggu, 15 Januari 2012 13:49 | Riau | Seni Budaya | Riau Pos
Tradisi pacu jalur di Kabupaten Kuantan Singingi menjadi helat pariwisata tahunan di Riau. Event ini mampu menyerap wisatawan baik lokal maupun nasional dan memberi nilai tambah pada masyarakat tempatan. (Foto: TEGUH PRIHATNA/RIAU POS) Perbesar Gambar

 

SABAN tahun jumlah kunjungan wisatawan ke Riau terus meningkat, sayangnya jumlah kunjungan itu bukan untuk melihat objek wisata yang ada, akan tetapi mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Laporan TIM RIAU POS
   
Data dari Riau Tourism Board (RTB) menyebutkan jumlah kunjungan wisatawan di Riau terus meningkat. Tahun 2008, untuk jumlah kunjungan wisatawan manca negara mencapai 37.194 kunjungan, tahun 2009 sedikit menurun sebanyak 33.000 kunjungan. Namun di tahun 2010 jumlah kunjungan kembali meningkat sebanyak 36.000 dan di tahun 2011 jumlah kunjungan kembali meningkat menjadi 40.000 kunjungan.  

   Sementara bila melihat jumlah kunjungan wisatawan dalam negeri jumlah juga cukup besar. Bila melihat se Indonesia tahu, jumlah kunjungan wisatawan tahun 2009 mencapai 229 juta, jumlah ini kembali meningkat pada 2010 mencapai 234 juta. Dari total jumlah itu, para wisatawan membelanjakan uangnya mencapai Rp138 triliun tahun 2009 dan Rp147 triliun di tahun 2010 lalu.

   Dari jumlah kunjungan itu, rata-rata 1,05 persennya datang ke Riau, di mana tahun 2010 lalu jumlah kunjungan mencapai 3,51 juta kunjungan, devisa yang diterima pada tahun itu dari sektor pariwisata mencapai Rp2,20 triliun dan tahun 2011 jumlah wisatawan yang datang ke Riau sebanyak 3,555 kunjungan dengan total devisa yang diterima Riau mencapai Rp2,31 triliun.

    ‘’Kalau melihat jumlah kunjungan wisatawan baik dari manca negara maupun lokal trennya terus meningkat. Jumlah devisa yang diterima pun cukup besar. Sektor ini harus terus dikembangkan, sebab tidak selamanya Riau bisa mengandalkan pendapatan dari sektor Migas dan Perkebunan, suatu saat itu sumbangan devisa dari sektor itu pasti menurun. Satu hal lagi, jika pariwisata di negeri ini maju, dia akan bisa menghidupkan taraf hidup masyarakat kecil apakah itu penjual makanan, minuman dan sebagainya,’’ tutur Kepala RTB H Fadlah Sulaiman.

    Menurut mantan Bupati Bengkalis ini, sebenarnya objek wisata di Riau ini cukup banyak, totalnya mencapai 315 objek wisata yang tersebar di 12 kabupaten/kota. Selain itu agenda-agenda kegiatan juga cukup banyak. Apakah itu diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) maupun Pemerintah Kota (Pemko).

   Sayangnya, objek wisata yang ada itu tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang ada, baik itu berupa jalan yang menuju ke objek wisata, maupun sarana dan prasarana lainnya, seperti penginapan, rumah makan dan sebagainya. Jika semuanya tidak lengkap, dipastikan para wisatawan apakah dari manca negara atau dari provinsi lain tidak mau datang ke objek wisata itu. Paling satu kali mereka datang, setelah itu tidak mau lagi.

    Karena apa, karena objek wisata itu tidak meninggalkan kesan yang mendalam di hati mereka, karena minimnya sarana dan prasarana infrastruktur itu tadi. ‘’Kita sajalah, kalau objek itu tidak menimbulkan kesan di hati kita, apakah kita akan mau datang lagi ke sana? Kan tidak,’’ tuturnya.

   Sekarang, lanjutnya dengan minimnya sarana dan prasarana yang ada, kita harus bisa mengalihkan dunia wisata itu, tidak semata-mata dengan melihat objek wisata. Sebenarnya, sekarang tren wisatawan datang berkunjung ke suatu daerah untuk melihat objek wisata tidaklah terlalu menonjol. Dari data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kunjungan wisatawan manca negara ke suatu daerah hampir 30 persen hanya menginap di hotel-hotel berbintang saja, belanja 15 persen, hanya 6,5 persen yang datang melihat objek wisata.

    Begitu juga dengan wisatawan dalam negeri. 30 persen wisatawan dalam negeri jika berkunjung ke suatu daerah hanya untuk shopping, 30 persen untuk kuliner dan 3,7 persen untuk hiburan atau melihat objek wisata. ‘’Dari data itu kan bisa dilihat, objek wisata itu tidak menjadi tujuan utama untuk dilihat baik wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal,’’ ungkapnya.

    Ditambahkannya, tingginya jumlah kunjungan wisatawan ke Riau dalam dua tahun terakhir karena banyak agenda atau iven atau kegiatan baik yang diselenggarakan oleh Pemprov, Pemkab/Pemko maupun pihak swasta. Sepanjang 2011 lalu ada sebanyak 12 agenda MICE, 17 iven olahraga dan 379 iven pariwisata.

   Untuk iven pariwisata, Kota Pekanbaru menyelenggarakan 135 iven, Kota Dumai 20 iven, Bengkalis 28 iven, Siak 25 iven, Kampar 30 iven, Rokan Hilir 15 iven, Rokan Hulu 20 iven, Indragiri Hilir 20 iven, Indragiri Hulu 21 iven, Kuantan Singingi 25 iven, Pelalawan 20 iven dan Kepulauan Meranti 20 iven.

    Dalam catatan RTB juga, tahun 2012 mendatang jumlah kunjungan wisatawan ke Riau bakal meningkat drastis, hal ini dikarenakan adanya sejumlah kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan di daerah ini, di antaranya Pekan Olahraga Nasional (PON), Senior Official Meeting (SOM) APEC 2013 dan diselenggarakan Islamic Solidarity Games. ‘’Dari tiga kegiatan ini saja bakal meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2012 mendatang, kita berharap dengan tinggi jumah kunjungan wisatawan ini akan berpengaruh pada kegiatan ekonomi kreatif rakyat,’’ ungkapnya.  

Kedepan, menurut Fadlah lagi, Riau harus merancang konsep wisata terpadu. Artinya di sana nanti ada objek wisatanya, ada tempat menginapnya, ada sarana olahraga, ada tempat kuliner. Pengembangan seperti itu sudah dilakukan dibeberapa negara seperti di  Malaysia dengan kawasan Genting Highland, begitu juga di Jakarta dengan Taman Impian Jaya Ancol dan sebagainya. ‘’Saya rasa pengembangan kawasan wisata terpadu seperti itu harus dipikirkan, memang memerlukan biaya yang tidak sedikit, namun jika keuntungan yang diperoleh nanti lebih besar, tentu tidak menjadi  masalah mengeluarkan dana besar di tahap awal,’’ ungkapnya.

Bakal Meningkat
Bakal meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Riau tahun 2012 ini juga diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Riau H RM Yamin. Sesuai data yang dimiliki Dinas Pariwisata, tahun 2010 lalu, jumlah wisatawan lokal yang datang ke Riau mencapai 3,51 juta orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan di tahun 2011 lalu dengan jumlah kunjungan wisatawan lokal mencapai 3,55 juta orang.

Sementara untuk wisatawan manca negara (asing), ditahun 2009 lalu jumlahnya mencapai 32 ribu orang. Jumlah ini meningkat ditahun 2010 lalu mencapai 36 ribu orang. Sementara di tahun 2011 hingga Juni 2011 kunjungan wisatawan asing ke Riau sudah mencapai 21 ribu orang yang diperkirakan hingga Desember 2011 bisa mencapai 42 ribu orang hingga 43 orang orang.

‘’Begitu juga dengan tahun 2012 ini, kita yakin jumlah kunjungan wisatawan asing ke Riau akan mengalami peningkatan. Begitu juga wisatawan lokal,” ungkapnya.

Perkirakaan akan meningkatnya jumlah wisatawan lokal dan asing datang ke Riau karena diselenggarakannya sejumlah agenda seperti PON ke XVIII. Dari perkiraan pengunjung yang datang menyaksikan jalannya PON mencapai 20 ribu orang. Mereka datang dari 33 Provinsi di Indonesia tersebut, tentu tidak hanya sekedar menyaksikan PON. ‘’Mereka tentu juga akan datang ketempat-tempat objek pariwisata  yang ada di Riau. Minimal objek wisata yang ada di Kota Pekanbaru,’’ tambah Yamin.

Riau menurut Yamin, banyak mendapatkan keuntungan dalam   mengoptimalisasikan potensi objek pariwisata yang ada. Dari segi letak geografis, Riau diuntungkan. Karena berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga, bersentuhan langsung dengan jalur pelayaran internasional Selat Melaka. Selat Melaka merupakan jalur tolnya pelayanan internasional.

Begitu juga dengan suhu Riau yang rata-rata stabil berada di antara 23-32 derajat celcius. ‘’Hanya sesekali suhu udara Riau yang mencapai 35 derjat celcius. Dan ini satu keuntungan yang patut kita syukuri juga,’’ ucapnya.

Selanjutnya, curah hujan di Riau tidak terlalu tinggi, rata-rata 2.000-3.000 milimeter per tahunnya. Riau tidak hanya memiliki objek wisata budaya. Dari data yang ada, objek wisata budaya yang dimiliki Riau sebanyak 130 objek wisata. Sementara objek wisata alam, Riau memiliki sebanyak 152 objek wisata dan 56 objek wisata buatan. Totalnya, Riau memiliki sebanyak 338 objek wisata budaya, alam dan buatan yang sangat potensi bagi Riau menggaet wisatawan lokal dan manca negara.

Nilai tambah yang lainnya, semua objek wisata yang dimiliki Riau tersebut, unik dan tidak ada duanya di tempat lain. Misalnya, objek wisata alam Riau memiliki wisata gelombang Bono di Kabupaten Pelalawan yang masih alami. Objek wisata budaya pacu jalur di Kabupaten Kuantan Singingi.

‘’Objek pariwisata yang dimiliki Riau unik, tinggal bagaimana mengemasinya, mengembangkannya, mempromosikannya dan mengoptimalkannya,’’ kata M Yamin.
Selain itu, Riau memiliki bangunan sejarah yang unik seperti Istana Siak Sri Indrapura. Hingga kini bangunan Istana Siak masih asli meski sedikit ada perbaikan dan pemugaran yang dilakukan.  

Sejauh ini, potensi objek pariwisata yang dimiliki Riau itu, telah ditopang dengan sarana penunjang di Riau. Seperti fasilitas perhotelan dengan kualitas berbintang maupun melati yang jumlahnya mencapai sekitar 300 buah hotel. Dengan jumlah itu, mampu menampung kunjungan wisatawan asing dan lokal mencapai 10 ribu orang.

Begitu juga dengan rumah makan, dinilai telah tersedia cukup memadai. Sebagai negeri yang khas budaya Melayu, Riau memiliki tempat-tempat rumah makanan dan menu makanan yang khas dengan budaya Melayu Riau. Kuliner yang khas Melayu Riau ini, menjadi nilai tambah bagi wisatawan lokal dan asing yang berkunjung ke Riau.

Berbagai kerajinan industri kecil dan menengah yang identik dan berciri khas Riau, menurut M Yamin mudah didapat wisatawan sebagai cenderamata untuk dibawa pulang. Prasarana lain yang menunjang objek wisata di Riau bisa tumbuh dan berkembang dengan menjanjikan, dukungan sarana transportasi dan biro perjalanan. Fasilitas penerbangan, Riau memiliki bandara yang cukup memadai.

Di Kota Pekanbaru sendiri, Riau memiliki Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II yang berskala internasional. Bandara Pinang Kampai Dumai, Bandara Japura-Inhu, Bandara Tempuling Inhil, Bandara Pasir pengaraian Rohul, Bandara Pelalawan. Memiliki pelabuhan internasional seperti pelabuhan Dumai, pelabuhan Sei Duku, Pelabuhan Kuala Enok Inhil yang menjadi pintu gerbang internasional, memudahkan para wisatawan datang ke Riau tanpa hambatan.

Kelompok Sadar Wisata
Dengan potensi yang begitu besar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau membentuk kelompok-kelompok sadar wisata yang tersebar di 12 kabupaten/kota. Membentuk desa-desa wisata di 12 Kabupaten/kota sebagai kawasan pendukung objek wisata di Riau. Sampai tahun 2011 lalu, ada sebanyak 12 desa di Riau yang sudah disetujui dan ditetapkan Kementerian Pariwisata RI sebagai desa wisata.

Ke 12 desa wisata tersebut, dua desa terdapat di Kabupaten Bengkalis, yakni Tesa Teluk Rhu dan Desa Tanjung Tunak. Kabupaten Kampar terdapat tiga desa masing-masing, Desa  Muara Takus, Desa Belimbing dan Desa Buluh Cina. Kabupaten Rohul Desa Sialang Jaya, Kabupaten Kuansing Desa Sentajo, Dumai yakni Desa Teluk Makmur, Kota Pekanbaru Desa Okura, Kabupaten Pelalawan Desa Teluk Meranti, Kabupaten Inhil Desa Pulau Cawan.

Sementara untuk tahun 2012 ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau sudah mengusulkan sebanyak 33 desa sebagai Desa Wisata pada Kementerian Pariwisata RI. Desa wisata, desa yang berada di kawasan objek wisata dan sudah dikunjungi wisatawan, baik asing maupun lokal. Sebagai Desa Wisata, mereka mendapatkan bantuan pendanaan dari Pemerintah Pusat melalui program PNPM Mandiri Pedesaan, dari Rp80 Juta hingga Rp100 Juta. Dana tersebut dipergunakan untuk memperbaiki dan menambah sarana dan prasarana desa dalam rangka mendukung dan mengembangkan pariwisata di desanya.

Dengan gambaran tren peningkatan kunjungan wisatawan asing dan lokal yang datang ke Riau yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau menargetkan, Riau menjadi tujuan wisata yang berkualitas. Menjadi pusat wisata yang kompetitif ditingkat global serta menciptakan kepariwisataan yang berbasis pada ekonomi kerakyatan sebagai target jangka panjang.

Sementara target jangka pendek, peningkatan sumberdaya manusia pengelola kepariwisataan dengan berbagai pelatihan, perluasan pasar, pelatihan industri kepariwisataan, melakukan koordinasi dengan instansi terkait termasuk pemerintah Kabupaten/kota di Riau.  

Dalam pengembangan dan optimalisasi potensi objek pariwisata di provinsi Riau, M Yamin tak menapik kalau dukungan anggaran sangat dibutuhkan, Namun itu bukan hal yang menjadi skala prioritas utama. Komitmen pemerintah, swasta maupun masyarakat, sangat penting.

Miskin Pengelolaan
Provinsi Riau miskin pengelolaan pariwisata. Padahal di dalam rencana tata ruang detail sudah dibunyikan kawasan-kawasan budidaya yang didalamnya termasuk untuk dijadikan tujuan pariwisata. Sudah seharusnya pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupatan/kota merangsang pertumbuhan tujuan pariwisata dengan menggandeng pihak ketiga atau swasta.

Hal ini dikemukakan konsultan perencanaan tata ruang dan wilayah Ir Mardianto Manan MT. Untuk mewujudkan kawasan tujuan pariwisata, menurutnya tidak akan baik dan profesional jika dikelola langsung oleh pemerintah. Bahkan BUMD sekalipun, Mardianto meragukan potensi kawasan wisata akan muncul sebagai tujuan utama masyarakat Riau umumnya.

‘’Di Riau ini miskin pengelolaan kawasan wisata. Kalaulah ada, hanya dikelola secara tradisional sehingga tidak menjadi tujuan utama, apalagi menjadi andalan pendapatan daerah. Saya termasuk tidak percaya kawasan wisata bisa berkembang maju jika dikelola oleh pemerintah dalam hal ini dinas pariwisata, termasuk dibentuk BUMD sekalipun.

Tangan panas pemerintah tidak akan mampu mengelola kawasan wisata secara profesional yang mampu menjawab kebutuhan wisata masyarakat.

Untuk tujuan wisata yang maju, harus dikelola oleh pihak ketiga atau profesional,” paparnya.

Untuk dikelola oleh pihak ketiga atau swasta sebut Mardianto tidakpun semudah yang dipikirkan. Swasta yang mengandalkan dana sendiri, tentunya berpikir bisnis, bagaimana mendapatkan untung secepat-cepatnya. Karena kondisi miskinnya tujuan wisata di Riau ini, maka pemerintah harus mengambil peran dalam merangsang swasta untuk berinvestasi dibidang pariwisata. Peran perangsang pemerintah yang bisa dimainkan diantaranya memberikan kemudahan perizinan, biaya yang murah dan pajak yang didiskon untuk jangka waktu tertentu.

Menunggu Keseriusan
Sekretaris Association of Indonesian Tour and Travel Agencies (ASITA) Riau  Ibnu Mas’ud mengungkapkan sejatinya Riau mempunyai potensi menjanjikan  untuk mengambil bagian dalam kancah pengembangan pariwisata nasional. Potensi pariwisata yang layak jual itu hanya tinggal menunggu keseriusan pemerintah daerah tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Sebut saja seperti potensi pariwisata  fenomena Bono dan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten  Pelalawan, Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang sangat mempesona. Tak hanya itu, Pantai Rupat yang dihiasi butiran pasir putih dan Pantai Selat Baru nan menawan  di Kabupaten Bengkalis juga tak kalah indah dibandingkan pantai lainnya. Belum lagi hadirnya pusat perbelanjaan tradisional seperti Pasar Bawah dan pasar modren seperti mal dan plaza yang juga terbukti mampu menarik minat wisatawan berkunjung ke Negeri Lancang Kuning.

Kuncinya menurut pengusaha biro perjalanan dan travel adalah keseriusan seluruh stakeholder dalam menyatukan pandangan pengarapan dan pengembangan  potensi pariwisata yang selama ini dinilai belum serius. Bahkan potensi emas tersebut masih dipandang sebelah mata seolah-olah tidak menarik untuk dibicarakan. Menurutnya asalkan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota  lebih mengurus objek daerah ini, ia optimis potensi tersebut bisa terjual.***

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.