Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Tanpa Batok Kepala, Nangis Bila Dibicarakan Cacatnya

Rahmad Illahi, Bayi yang Sempat Dihebohkan Pandai Bicara

Rabu, 27 Juli 2011 15:46 | Nasional | Feature | Redaksi
Rahmad Illahi Perbesar Gambar

BARU-BARU ini masyarakat Sijunjung digemparkan berita kelahiran anak ajaib, Rahmad Illahi. Konon, kabarnya Rahmad pandai berbicara, bisa minta mimik, dan menjawab pertanyaan layaknya anak di usia tujuh tahun. Ribuan masyarakat dari Lintau, Solok, Sawahlunto dan Sijunjung kemudian berduyun-duyun ke Kampungbaru, Kenagarian Palalua, Kecamatan Koto VII, rumah Dewi Herlita, 37, ibu yang melahirkan Rahmad. Benarkah bayi yang belum genap 2 pekan ini bisa bicara?

Baru 13 hari umur Rahmad hingga hari ini (27/7). Kemarin, Dewi baru saja pulang dari rumah sakit Sawahlunto untuk memeriksa bayinya. Ia tampak lega, tidak banyak orang lagi yang menunggui kedatangannya seperti hari-hari sebelumnya. Ketika Padang Ekspres menyapa, ia menyambut tersenyum bersama suaminya, Asrial, 46. Kemudian ia membangunkan Rahmad yang sedang tidur pulas. Rahmad tersenyum saja, sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“Kami baru pulang dari rumah sakit Sawahlunto. Syukurlah hari ini tidak terlalu ramai lagi pengunjung ke sini. Biasanya saya sampai sesak nafas karena berebut oksigen dengan ribuan pengunjung yang silih berganti melihat Rahmad di kamar kecil ini. Sampai-sampai saya demam dua hari yang lalu,” ungkap Dewi yang sudah beranak lima ini.

Ketika ditanya kebenaran kabar bahwa Rahmad pandai bicara, Dewi hanya tersenyum. Kemudian ia mengatakan kabar itu hanya berita yang ditambah-tambahkan saja. Rahmad sama sekali belum bisa bicara seperti yang dibicarakan orang. Tapi ia memang punya kelebihan dari bayi lainnya. Misalnya, ketika orang melihat lalu memujinya, ia tersenyum dan membuka mulutnya seperti tertawa. Tapi ketika orang berbicara tentang kelainan di bagian kepalanya yang tidak memiliki batok, atau dalam bahasa medisnya anencephaly , air matanya akan keluar mengalir banyak.

“Itu hanya isu saja, Rahmad belum bisa berbicara. Hanya saja anak kami memang ada kelainan. Ia tidak memiliki batok kepala. Kalau orang memuji kegagahannya, ia akan tersenyum. Tapi kalau orang membicarakan kelainan yang ia miliki, air matanya akan keluar. Kami bingung, tidak tahu harus berbuat apa, ketika dokter tempat Rahmad lahir di Silungkang, Sawahlunto mengatakan tidak ada batok kepala di mana-mana, kami tidak tau harus bagaimana lagi. Tapi, bagi kami, anak ini tetap rahmad yang dititipkan Illahi yang tetap akan kami rawat dan berikan kasih sayang,” papar Asrial, sambil menciumi Rahmad yang kembali tertidur.

Dewi mengaku, dari awal kehamilannya hingga beranjak 7 bulan, ia jarang sekali mengkonsumsi makanan berkabohidrat, khususnya nasi. Hal itu disebabkan karena hilangnya selera makannya. Sebanyak ia makan, sebanyak itu pula dimuntahkan kembali. Namun, ketika kandungannya memasuki bulan ke delepan, selera Dewi kembali bangkit. Sehingga ia makan sebanyak-banyaknya, dan jadi ketagihan makan.

Dihubungi terpisah, dokter spesialis kandungan dari Silungkang, Hendri Zola mengatakan, jarang makan selama hamil memang bisa mengakibatkan anencephaly. Hal ini disebabkan karena kurangnya asam folat yang terkandung dalam makanan berupa biji-bijian dan lain sebagainya.

’’Anencephaly kecacatan bumbung saraf, dalam bahasa medisnya neural tube defect atau NTD. Seperti halnya, Spina Bifida, dimana kondisi tulang punggung terbuka. Harapan hidup untuk bayi anencephaly setelah lahir hanya beberapa jam atau paling lama beberapa hari. Namun, yang terjadi pada Rahmad Illahi anak dari Ibu Dewi menurut saya merupakan sebuah mukjizat luar biasa yang ditunjukkan Allah SWT kepada kita semua,’’ papar dokter yang berdinas di RSUD Sawahlunto ini.

Dr Hendri menambahkan, asam folat merupakan salah satu jenis dari vitamin B, yang juga terdapat dalam makanan seperti daging, susu, sayuran berwarna hijau, dan pada makanan yang mudah larut vitaminnya ketika dicuci, seperti beras, dan lainnya. Kemudian, Dr Hendri juga mengatakan, Anencephaly juga bisa terjadi karena pola diet yang tidak baik pada ibu hamil, dan kehamilan yang tidak direncanakan.

Walau begitu, Dewi dan Asrial tidak putus asa, mereka masih berharap ada solusi untuk keberlangsungan hidup anak bungsunya ini.

“Kalau tidak ada pun jalan ke luarnya, kami tetap akan merawat dan mencintai Rahmad seperti anak kami lainnya,” pungkasnya, sambil mencium Rahmad dengan hangat. (husnal hayati/rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.