Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Penyakit Langka, Azka Sekarat Butuh Bantuan

Obat Selangit, Nyawa Bergantung Ventilator

Selasa, 26 Juli 2011 10:18 | Nasional | Feature | Riau Pos
Muhammad Azka Arriziq (4) harus terbaring di ruang ICU RS Azra Bogor, karena penyakit langka (Foto: Afni Zulkifli) Perbesar Gambar

Laporan AFNI ZULKIFLI, Bogor

Tidak pernah terbayangkan oleh pasangan Anto Aryanto (42), Dosen Unilak Riau, dan istrinya Rinawati Rina (39), bila putra kesayangan mereka, Muhammad Azka Arriziq (4) harus terbaring di ruang ICU RS Azra Bogor, karena penyakit langka. Seperti apa kondisinya?

ANTO yang sehari-hari bekerja sebagai Dosen di Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning Pekanbaru. Dia harus menerima kenyataan, bila putranya terserang suatu virus langka bernama guillain barre syndrome (GBS).

Tubuh mungil Azka mendadak  lumpuh total dan 100 persen kehidupannya harus disangga dengan alat bantu pernafasan (ventilator) dan obat-obatan yang harganya selangit. Riau Pos berkesempatan mengunjungi Azka yang kini dirawat di RS Azra, Bogor, Senin (25/7).

“Kita sedang memantau ventilatornya. Kita berharap semoga secepatnya Azka bisa bernafas normal. Meski harus diakui, ini butuh waktu lama. Tapi kita berusaha memberikan yang terbaik,” kata dr Chrisma Adryana pada Riau Pos.

Dari referensi medis disebutkan, GBS termasuk salah satu penyakit langka di dunia. Virus ini menyerang otot. Penyembuhannya bisa hitungan minggu, bulan bahkan tahun. GBS menjangkiti 1 dari 40.000 orang.

Penyakit ini timbul dari pembengkakan syaraf peripheral, sehingga mengakibatkan tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan gerakan yang dapat diterima oleh otot yang terserang.

Obat GBS ini pun hanya ada satu yaitu gamamune (imuno globuline) yang harganya mencapai Rp4-5 juta rupiah per botol. Sementara untuk satu pasien GBS diwajibkan mengkonsumsi bahkan hingga 2-3 botol per hari.

Obat hanya bisa dikonsumsi melalui infus dan pasien memerlukan alat bantu ventilator bila GBS sudah menyerang otot pernafasan. Kondisi inilah yang dialami Azka. Bocah malang yang biasanya riang itu, kini nyawanya hanya bergantung pada obat-obatan dan peralatan medis yang harganya selangit.

“Sampai hari ini saja, untuk obat dan semua biaya medis baru 5 hari sudah habis Rp61 juta. Kami tidak tahu lagi harus berbuat apa. Seolah-olah sedang berpacu antara nyawa anak dengan uang yang makin menipis,” kata Anto yang 10 tahun setelah menikah baru dikarunai seorang anak yaitu Azka.

Sementara Rina, ibu Azka awalnya tampak berusaha tegar. Namun baru beberapa bait kata saja kepada Riau Pos, Rina sepertinya tak bisa lagi menahan rasa harunya. Dengan meneteskan air mata, Rina mengatakan sama sekali tidak mengerti tentang GBS.

Semuanya terjadi tiba-tiba pada Rabu (20/7) malam. Saat hendak melaksanakan salat malam pukul 03.00 WIB. “Dia tiba-tiba bangun dan mengatakan kakinya kesemutan. Lalu dia minta susu dan kembali tidur. Paginya, dia sempat bilang tangannya kaku. Lalu saya gendong dan bawa Azka menggunakan sepeda motor ke RSUD Ciawi,” kata Rina.

Sejak masuk ruang ICU itulah  Azka mulai semakin kritis.

 “Jika tidak ada alat-alat dan obat-obatan ini, kami tidak tahu apa yang terjadi pada Azka. Kami khawatir, bila seluruh tabungan kami ludes dan tidak bisa membayar lagi, bagaimana dengan Azka. Dia masih ada, detak jantungnya masih ada, tapi dia hanya butuh bantuan pernafasan dan obat-obatan yang harganya memang sangat mahal. Kami benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi nanti,” kata Anto.

“Dokter mengatakan sejak awal, obat dan ventilatornya sangat mahal. Untuk obat pertama kali, saya menebus Rp40 juta untuk 8 botol. Itu hanya bisa bertahan 5 hari. Ini hari terakhir kami dan besok harus ada lagi uang Rp40 juta, belum termasuk biaya medis dan ventilator,” kata Rina.

Tiba-tiba Rina menghentikan ceritanya. Naluri keibuannya mendorongnya untuk segera menuju ruang isolasi tempat Azka dirawat. Benar saja, Azka mendadak dikabarkan kritis lagi.

Beberapa perawat dan dokter pun kembali memantau Azka dan berusaha membuat tubuh mungil tak berdaya itu kembali stabil. Obat pun kembali diberikan dan tagihan hingga malam tadi sudah mencapai Rp61 juta.

“Kami harus berjaga selama 24 jam. Bagi kami setiap detik bersama Azka kini sangat berharga. Kami tidak tahu sampai kapan Azka mampu bertahan. Meski pasrah, tapi Azka adalah satu-satunya jantung hati kami,” kata Anto tak bisa lagi menahan air matanya.(ila)

 

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.