| Jum´at 18-05-2012 |
| Sabtu, 19-05-2012 14:18:47 | ||
| 15:24 | | | Buaya Makan Manusia Ditangkap |
| 11:36 | | | Esemka Embrio Mobil Nasional |
| 12:57 | | | Perut Buaya Dibelah, Ada Tubuh Bo ... |
| 18:03 | | | Nindy dan Astrid Fitting Gaun |
| 21:20 | | | Sore Tamu Ayah, Malam Tamu Aliya |
| 13:51 | | | Jajal Dunia Tarik Suara |
| 15:12 | | | Ketum KONI Pamer Green PON Riau |
| 09:42 | | | Perbaikan Stadion Kuansing Perlu ... |
| 09:22 | | | Penetapan Calon Wako Pekanbaru Te ... |
| 23:34 | | | Harimau Sumatera Sisa 400 Ekor |
PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan
PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i
BOGOR - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari
Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.
"Setelah lulus, ternyata si bapak tidak membolehkan anaknya melanjutkan pendidikan S1 tersebut, karena tidak memiliki biaya atau tidak mampu membiayai anaknya."
BERSAMA KELUARGA : Wedda Li ( baju kuning) bersama keluarganya. (riaupos)
Perbesar Gambar Laporan AHMAD YULIAR, Selatpanjang ahmadyuliar@riaupos.com
Seorang bapak terus berjuang mencari biaya untuk anaknya membeli formulir mengikuti tes masuk perguruan tinggi, Rp170 ribu. Untuk mendapatkan besaran biaya itu, dicarinya selama tiga hari.
Setelah lulus, ternyata si bapak tidak membolehkan anaknya melanjutkan pendidikan S1 tersebut, karena tidak memiliki biaya atau tidak mampu membiayai anaknya.
CHO Kho alias Kong (50), adalah ayah Wedda Li (17), siswa pintar di SMAN 1 Tebing Tinggi. Karena selalu mendapatkan ranking di kelasnya, Wedda Li diarahkan oleh guru pembimbingnya untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui online. Namun untuk mengikutinya harus membeli formulir via transfer rekening sebesar Rp170 ribu.
Setelah mengusulkannya untuk diminta kepada orang tuanya yang tidak memiliki pekerjaan tetap itu, tiga hari baru didapatkannya uang Rp170 ribu untuk membeli formulir mengikuti ujian saringan masuk ke ITB. Di balik uang Rp170 ribu, orang tuanya mencari dengan perjuangan berat.
Apalagi orang tua siswi yang duduk di kelas III IPA 3 SMAN 1 Tebing Tinggi itu, bekerja serabutan. Setiap hari ayahnya yang bernama Cho Kong itu hanya duduk dari satu kedai kopi ke kedai kopi lainnya di Selatpanjang. Itu hanya untuk mencari orang yang memerlukan bantuannya untuk mengurus atau mengerjakan sesuatu yang bisa menghasilkan uang.
‘’Macam-macam pak, tidak tetap. Kadang diminta membantu mengurus barang, membeli tiket, dan lainnya yang bisa menghasilkan uang. Jadi untuk mendapatkan uang pendaftaran anak kami kemarin, baru tiga hari mendapatkannya,’’ kata Kong.
Setelah mengetahui, anaknya lulus, di ITB, Cho Kong menolak untuk mengikuti keinginan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ternama di Indonesia itu. Hal itu bukan tidak karena menginginkan anaknya bisa bersekolah, tapi biaya yang akan dicari untuk membiayainya tidak dimiliki.
‘’Bukan tak mau melihat anak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tapi kami tidak kuat nantinya untuk membiayai anak kami tersebut. Belum lagi biaya hidupnya yang tinggal jauh di Jawa,’’ keluhnya dengan mata berkaca-kaca.
Dapat Beasiswa
Dalam kegalauan dan kebingungannya atas nasib anaknya yang telah dinyatakan lulus di ITB pada Fakultas Ekonomi, Jurusan Bisnis Manajemen itu, Kong menceritakan persoalannya itu kepada temannya Jon di kedai kopi.
Jon pun mengajaknya untuk menceritakan permasalahannya ke pada Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Drs Masrul Kasmy MSi. Setelah menceritakan persoalannya itu, sekitar sejam lebih setelah itu, Kong dipanggil oleh Bupati Kepulauan Meranti, Drs Irwan Nasir MSi melalui salah seorang tokoh masyarakat Meranti Iswanto alias Awi yang juga Ketua PSMTI Kepulauan Meranti.
Setelah dipanggil, ceritanya lagi, dia menceritakan seluruh persoalan yang dialaminya itu kepada orang nomor satu di Meranti itu. Mendengar cerita itu, bupati langsung memanggil pihak Dinas Pendidikan Kepulauan Meranti.
Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang dialami ayah empat anak itu, akhirnya keinginan untuk melanjutkan studi di ITB bisa dilaksankaan dengan beasiswa penuh yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti sampai lulus.
Termasuk juga dengan segala akomodasi dan seluruh biaya hidupnya sampai menyelesaikan studinya di Pulau Jawa itu.
‘’Tak tahu saya bagaimana cara mengungkapkannya. Yang pasti kalau ungkapan yang bisa kami sampaikan adalah terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bupati, wakil bupati dan seluruh pihak di Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Namun jika menilik dalam hati dan perasaan, tak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata,’’ kata Cho.
Wedda Li yang mengetahui dirinya akan berangkat ke Jawa untuk melanjutkan studinya setelah lulus SMA merasa sangat bahagia.
Dia berjanji akan berusaha memanfaatkan kesempatan yang didapatnya sebaik-baiknya sehingga dia bisa menjadi anak yang berhasil.***