| Jum´at 18-05-2012 |
| Sabtu, 19-05-2012 14:13:06 | ||
| 15:24 | | | Buaya Makan Manusia Ditangkap |
| 11:36 | | | Esemka Embrio Mobil Nasional |
| 12:57 | | | Perut Buaya Dibelah, Ada Tubuh Bo ... |
| 18:03 | | | Nindy dan Astrid Fitting Gaun |
| 21:20 | | | Sore Tamu Ayah, Malam Tamu Aliya |
| 13:51 | | | Jajal Dunia Tarik Suara |
| 15:12 | | | Ketum KONI Pamer Green PON Riau |
| 09:42 | | | Perbaikan Stadion Kuansing Perlu ... |
| 09:22 | | | Penetapan Calon Wako Pekanbaru Te ... |
| 23:34 | | | Harimau Sumatera Sisa 400 Ekor |
PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan
PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i
BOGOR - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari
Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.
Habibi Nurdin, bocah malang yang menderita sakit tumor orbita. (Foto: Riau Pos)
Perbesar Gambar
PEKANBARU - Agaknya istilah ‘orang miskin dilarang sakit’, meskipun sarkastik namun mengandung kebenaran juga. Ini yang dirasakan oleh Khairudin (30) ayah dari Habibi Nurdin (2,2 tahun) yang divonis menderita penyakit tumor orbita, penyakit tumor yang mengisi rongga orbita sehingga bola mata terdorong keluar (protosis). “Orang miskin kalau kena penyakit sudah susah jadi tambah susah,” katanya kepada Riau Pos.
Selang empat bulan terakhir, Khairudin banting tulang dan bekerja serabutan lebih dari biasanya, itu semua ia lakukan untuk mengumpulkan uang demi biaya pengobatan sang anak. Beragam pekerjaan yakni jadi nelayan, buruh, pekerja bangunan dilakoninya.
Sejak sang anak diketahui terkena penyakit yang tak biasa, tidur nyenyak sudah hilang dari seorang Khairuddin. Awal kemunculan mimpi yang mengerikan itu, empat bulan silam. “Awalnya hanya timbul bercak kemerahan di bagian mata. Belum terlalu parah, bentuknya seperti bintik-bintik katarak,” kata Khairudin lagi.
Sejak terkena tumor orbita itu, pada usia sekitar 1 tahun 10 bulan, berat badan Habibi terus berkurang. Sekarang bobot bayi malang itu tinggal 7 kilogram, separuhnya menyusut dalam empat bulan terakhir. Dilaluinya dalam jutaan deraan rasa sakit di atas tempat tidur dan pangkuan ibunya, Nura (22).
Pertolongan berjalan lamban untuk menyelamatkan Habibi. Latar belakang keluarga miskin seolah menjadi justifikasi hal itu. Dua kali dibawa ke Puskesmas Panipahan, sekali ke Puskesmas Sinaboi serta dua kali di RSUD Pratomo, Bagansiapiapi, kondisi pengobatan Habibi toh jalan di tempat. Lagi-lagi alasan biaya yang menjadi kendala.
Sebenarnya, pihak Puskesmas Panipahan sudah meminta keluarga agar Habibi dioperasi ke Pekanbaru, hal yang sama dikatakan oleh Puskesmas Sinaboi dan RSUD Pratomo, namun karena tidak memiliki cukup uang, Habibi dibawa pulang lagi oleh keluarganya. “Terpaksa juga diberikan pengobatan tradisional,” urai Khairudin masgul.
Untuk makan, Habibi disuapi. Mulutnya menanti saja apapun makanan yang dimasukkan, tapi itupun tidak banyak paling-paling beberapa sendok dalam sehari. Kini kondisi bocah yang namanya berarti Kecintaan dan Cahaya Agama ini kian menyedihkan, gumpalan tumornya makin membesar. Kepalanya ikut memberat, dan bibir mencong tertarik oleh tumor. Khairudin sendiri tak banyak berharap mata kiri anaknya akan bisa diselamatkan, yang memiriskan mata kanan Habibi mulai ikut rusak.
Jumat (9/12) begitu kedatangan Habibi di RSUD Pratomo diketahui, warga secara mandiri memberikan bantuan. Pemuda dan orang tua, menyambangi ayah Habibi sambil memberikan uang. Malamnya, para wartawan turut mengumpulkan sumbangan uang untuk ikut meringankan beban yang dialami Khairudin. Malam itu juga, para awak media berinisiatif mendatangi kantor bupati dimana sedang berlangsung rapat. Sembari menentang foto Habibi, namun kebanyakan para pejabat dan kepala dinas melengos. Hanya beberapa yang mendekati wartawan dan menjanjikan bantuan. Kebanyakan berusaha menghindar sambil mengatakan, “Besok ya, besok..,!”.
Sabtu (10/12) Habibi didampingi orang tua dan kerabat diberangkatkan ke RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru. Warga Jalan Masjid Raya, Panipahan Kecamatan Pasir Limau Kapas ini mendapatkan bantuan transportasi ambulan gratis dari pihak RSUD. Menjelang keberangkatan, bantuan dari para donatur berdatangan terutama dari anak SMA I Bangko, SMA Muhammadiyah Bagansiapiapi, beberapa perawat RSUD Pratomo. “Total dana yang terkumpul menjelang keberangkatan itu lebih kurang Rp3 juta,” terang Didi, seorang kerabat.
Pada Ahad (11/12), informasi yang diperoleh Riau Pos, Habibi diinapkan di ruangan Nuri I, RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru. “Kita masih menunggu dokter spesialisnya, pemeriksaan besok (hari ini, Senin 12/12),” sampai Nela S Colia, kader Desa Siaga, Kecamatan Sinaboi yang ikut mendampingi.(*3/gem/rpg)