| Jum´at 18-05-2012 |
| Sabtu, 19-05-2012 13:59:43 | ||
| 15:24 | | | Buaya Makan Manusia Ditangkap |
| 11:36 | | | Esemka Embrio Mobil Nasional |
| 12:57 | | | Perut Buaya Dibelah, Ada Tubuh Bo ... |
| 18:03 | | | Nindy dan Astrid Fitting Gaun |
| 21:20 | | | Sore Tamu Ayah, Malam Tamu Aliya |
| 13:51 | | | Jajal Dunia Tarik Suara |
| 15:12 | | | Ketum KONI Pamer Green PON Riau |
| 09:42 | | | Perbaikan Stadion Kuansing Perlu ... |
| 09:22 | | | Penetapan Calon Wako Pekanbaru Te ... |
| 23:34 | | | Harimau Sumatera Sisa 400 Ekor |
PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan
PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i
BOGOR - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari
Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.
Tai Graham, peselancar asal Amerika Serikat, menjajal kedahsyatan Bono di Semenanjung Kampar. (Foto: SAID MUFTI/RIAUPOS)
Perbesar Gambar Gemuruh ombak bono menderu, seolah-olah hendak memecahkan gendang telinga. Air hitam kecoklatan tampak menggelegak dengan membawa berbagai macam sampah dan kayu-kayu serta pasir yang terdapat di sepanjang sungai itu. Di antara deru ombak dahsyat itu, tampak 12 sosok anak manusia dengan santainya mengayuh papan seluncur dan merekapun menari hampir sepanjang 30 Kilometer.
Laporan Gema Setara, Teluk Meranti
Terik siang itu seakan membakar kulit, matahari terpacak tepat diubun-ubun kepala. Sebuah tenda sederhana berwarna biru tegak berdiri, tanpa ada kursi, meja atau hiasan bunga. Tamu-tamu petinggi baik Pemprov Riau maupun dari Pemkab Pelalawan hanya diduduk bersila beralaskan terpal merah.
Siang itu para pejabat itu hendak menyaksikan 12 anak manusia yang akan bermain surfing di tengah derasnya arus bono sungai tersebut. Ketika para peselancar melewati tenda sederhana itu, tepuk dan teriakan kagumpun terlontar tanpa disengaja dan sesaat kemudian merekapun berteriak “Lariiiii...”
Mengapa harus lari, karena gelombang bono sudah mendekati bibir pantai di mana mereka berdiri menyaksikan surfing tersebut, jika tidak lari dua kemungkinan yang terjadi, kalau tak basah kuyup atau akan terseret arus bono yang maha dahsyat itu.
Para peselancar masing-masing Dede Suryana (Indonesia), Arif Nur Hidayat (Indonesia), Dallas Singer (Australia), Christoper Wilson (Australia), Benjamin Weatherly (Australia), Tai Graham (AS) dan enam orang peselancar dari Bono Surf Teluk Meranti memulai start surfingnya sekitar Kuala Serkap.
Para peselancar itu bukanlah peselancar kemarin sore. Sejumlah prestasi sudah mereka raih, mereka merupakan peselancar kelas dunia. Dede Suryana, misalnya dia adalah pemegang world qualification series; Arif Nur Hidayat, dia adalah juara pertama Asian surfer long board 2011 begitu juga dengan empat rekannya yang lain.
Karenanya, tidaklah mengherankan dengan santainya mereka seolah-olah menari di atas bono yang mengalir deras dengan membawa beragam matrial pasir dan sebagainya. Padahal dahulu, usahkan untuk bermain surfing menyaksikan gelombang yang menggelegak dan bergulung-gulung itu masyarakat sudah takut.
Sebelum memulai surfing mereka bertolak dengan menggunakan speadboat maupun dengan menggunakan jet sky yang telah disiapkan. ''Jika melihat daerah itu, jaraknya sampai ke Teluk Meranti sekitar 30 kilometer,'' tutur Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pelalawan Bahtiar Ismail kepada Riau Pos.
Ahad,(27/11) lalu atau bertepatan dengan tanggal 1 Muharram merupakan bono terbesar yang terjadi. Ketinggiannya pada satu hari bulan ini bisa mencapai enam meter. Tak tanggung-tanggung derasnya air itu, semua material apakah sampah, pohon kayu, maupun pasir-pasir yang ada akan habis disapunya dan dibawa ke hulu.
Menurutnya, Bono ini tidak setiap hari ada. Pada waktu tertentu, munculnya bono ini pada siang hari, pada waktu tertentu pula ia akan muncul pada malam hari dan pada waktu tertentu pula ia akan muncul baik siang dan malam hari.
Biasanya, lanjut dia, saat musim utara bono besar akan terjadi pada siang hari sebaliknya pada malam hari tidak akan ada bono. Kemudian saat musim Selatan Bono besar ini akan terjadi pada malam hari dan sebaliknya pada siang hari bono akan kecil. Sementara saat musim barat Bono akan terjadi pada siang dan malam hari.
Bono merupakan nama yang diberikan oleh masyarakat Teluk Meranti kepada gelombang yang terkategori Tidal Bore, yaitu fenomena hidrodinamika yang terkait dengan pergerakan massa air di mana gelombang pasang menjalar menuju ke hulu dengan kekuatan yang bersifat merusak.
Bono menjadi terkenal karena telah cukup banyak memakan korban jiwa dan merusakkan kapal-kapal yang sedang melintas jika harus berpapasan tanpa mampu menghindar dengan bono. Selama ini, cerita-cerita yang berkembang dan berseliweran di masyarakat menggambarkan bono hanya sebagai fenomena alam yang mengerikan dan menakutkan.
Dari atas para peselancar ''menari'' sebuah helikopter milik PT RAPP tampak bergelantungan mengikuti pergerakan para peselancar. ''Iya, dari atas helikopter itu memang ada kameramen yang sedang merekam kegiatan mereka, itu dari Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, mereka nanti akan menjual potensi wisata bono ke manca negara,'' ujarnya lagi.
Legenda
Bono sendiri menurut legendanya adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Masyarakat tempatan menyebutnya dengan anjing laut. Masyarakatpun sampai saat ini masih mempercayainya.
''Itu legendanya. Sebelumnya, jumlahnya ada tujuh ekor, namun oleh tentara Belanda mereka tidak percaya akan hal itu. Oleh masyarakat cobalah tembak dan ternyata memang benar, satu ekor mati sementara tentara Belanda itu pun ikut mati,'' tutur pemuka masyarakat Pelalawan H Ahmad (63).
Cerita lain yang berkembang adalah bono yang ada di sungai Kampar merupakan bono jantan, sedangkan bono yang berada di Sungai Kubu Rokan Hilir (Rohil) merupakan bono betina. Pada musim pasang mati, bono jantan menemui bono betina untuk mengajaknya bermain di Selat Malaka.
Jika bulan mulai membesar mereka masing-masing kembali ke tempat asalnya, bono jantan mudik ke Sungai Kampar dan bono betina mudik ke Sungai Rokan. Semakin sempurna bulan di langit semakin kedua bono bergembira untuk berpacu dengan dahsyat menuju asalnya sehingga semakin menderu dan bergemuruh sampai ke tempat masing-masing.
Menurutnya, selain di Sungai Kampar, bono juga ada di Sungai Rokan, hanya saja bono di Sungai Rokan itu adalah betina, sementara yang di Sungai Kampar ini jantan sehingga ketinggian gelombang bono yang terjadipun cukup tinggi.
Awal mulai munculnya bono ini terjadi di sekitar Pulau Muda, dorongan arus air dari Hulu menuju ke hilir disambut dengan air pasang dari laut yang hendak menuju ke aliran sungai, pertemuan kedua arus inilah yang menimbulkan gelombang yang cukup dahsyat dan sampai saat ini dikenal dengan bono.
Fenomena lain yang muncul dari tingginya bono ini, banjirnya kampung-kampung yang berada di sepanjang sungai yang dilalui bono. Namun, dalam waktu sekejap pula, banjir yang terjadi itu akan surut dengan sendirinya.
Banjir yang terjadi ini tampaknya disambut dengan suka cita oleh anak-anak tempatan, mereka dengan leluasa berenang, mengayuh sampan bahkan ada yang sambil belajar bermain surfing. Ini fenomena yang sungguh luar biasa, ketika banjir datang, tak seorangpun dari masyarakat mengungsi, malah dengan senangnya mereka bermain dan bercengkrama bersama tetangga.
Ikon Wisata
Gelombang bono di Kabupaten Pelalawan, Riau bakal menjadi icon wisata Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan melakukan studi terhadap kelayakan gelombang bono menjadi tempat surfing tertinggi di dunia. Studi itu sudah ada.
Sekretaris Jendral untuk Pengembangan Destinasi Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Achyaruddin mengungkapkan, studi ini dilakukan kerja sama antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Riau dan Pemkab Pelalawan.
''Pemerintah pusat telah menganggarkan sejumlah dana untuk studi ini. Kita akan mendatangkan penulis dari Amerika Serikat (AS) Andrew Shield yang biasa menulis tentang kegiatan surfing di tiga majalah surving dunia. Selain itu akan ada juga Brad Master yang akan mendokumentasi bono dan kegiatan surfing yang akan dilakukan sejumlah peselancar baik dari dalam maupun luar negeri,'' tuturnya.
Disebutkannya, di dunia ini memang banyak lokasi surfing, namun lokasi itu hanya berada di laut. Termasuk di Indonesia. Di Indonesia ada sekitar 23 lokasi surfing, semuanya berada di laut. Namun untuk lokasi surfing yang berada di sungai di dunia ini hanya ada tiga masing-masing di Brazil, Malaysia dan ketiga di Kabupaten Pelalawan, Riau (Indonesia).
Bayangkan itu, lokasi surfing yang berada di sungai hanya ada tiga di dunia. Ini sungguh luar biasa. Jika, memang ketinggiannya melebihi dari ketinggian yang di Brazil dan Malaysia, dirinya berkeyakinan dalam waktu sekejap sejumlah peselancar dunia akan datang ke Pelalawan, khususnya ke Teluk Meranti.
Pariwisata surfing ini harus dikembangkan, mengapa? Karena, Pulau Bali sebelumnya tidak ada apa-apanya, namun setelah sejumlah peselancar melakukan surfing, akhirnya Bali sangat terkenal di seluruh dunia. Dampaknya, bisa dilihat sekarang, bagaimana perkembangan Bali. Apapun yang diminta Provinsi Bali, pemerintah pusat selalu menyetujuinya.
''Saya punya keinginan besar, kelak pariwisata bono ini bisa menjadi wisata andalan. Dari segi keunikan, sebenarnya dia sudah bisa dijual. Tapi kita lihat nantilah, jika memang hasil studi itu nanti menyebutkan, bono ini layak jual, dia akan kita jadikan ikon wisata Indonesia,'' ujarnya.
Pengembangan pariwisata ke depan harus dikembangkan dengan baik, di beberapa negara, hasil devisa yang mereka peroleh dari sektor ini cukup menjanjikan. Pariwisata ini bisa diperbaharui, sementara Sumber Daya Alam (SDA) seperti minyak Bumi, pariwisata dan sebagainya, jika terus dikeruk, suatu saat ia pasti akan habis.
Azam ini harus didukung semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten maupun masyarakatnya. ''Tanpa dukungan semuanya, tidak mungkin keinginan itu akan tercapai. Saya sudah bertemu dengan Bapak Gubernur, beliau sangat respon terhadap hal ini,'' ujarnya.
Dia menambahkan, dalam studi itu, pihaknya selain mendatangkan penulis buku surfing dunia, juga akan mendatang sejumlah peselancar termasuk koordinator dewan juri surfing dunia yang juga Ketua Asosiasi Surfing Indonesia Arya Subianto, sementara sejumlah peselancar dunia yang akan datang di antaranya Mitch Rawlings, Cristhoper Wilson dan lainnya. ''Mereka akan berada di sana selama 10 hari, mereka akan mengkaji dan merekam semuanya,’’ ujarnya.(rpg)