Tutup DAPATKAN BUKU:

Karya Sastra, Seni Budaya, Jurnalistik dan lain sebagainya

Kontak: 081365007573

Riau

Presiden Ternyata Belum Terima RTRW Riau

  JAKARTA (RIAUPOS.CO) -  Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Sudi Silalahi menyatakan hingga saat ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Pekanbaru

Masyarakat Riau Long March, Kecam Kebiadaba ...

Ribuan warga Riau yang berada di Pekanbaru melakukan aksi long march dan penggalangan dana. Mereka juga mengecam aksi serangan Israel ke warga Gaza di Palestina, Ahad (13/7/2014). Foto: DEFIZAL/RIAU POS   PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sejumlah elemen masyarakat di Pekanbaru terus menggelorakan kecaman keras pada aksi biadab Israel. Ahad (13/7) kemari

Nasional

Biaya Naik, Paspor JCH Digratiskan

  JAKARTA (JPNN.COM) - Pemerintah telah menetapkan kenaikan pembuatan paspor biasa dari Rp255 ribu menjadi Rp355 ribu. Kenaikan harga itu bertep

OPINI PEMBACA

Mungkinkah Kita Sudah Kafir?

BILA kita mau merenung dan memikirkan secara sungguh-sungguh, mencari jawaban untuk pertanyaan “mengapa atau apa penyebab dari semua bencana yang menimpa manusia? maka jawabannya hanya satu, yaitu karena hukum tidak ditegakk


Ekspedisi Kebudayaan Empat Sungai

Sungai Urat Nadi Peradaban Melayu

Minggu, 27 November 2011 11:07 | Riau | Feature | Riau Pos
Sungai Jantan (Sungai Siak) masih tetap menjadi jalur transportasi air bagi masyarakat Riau. Hal ini terbukti masih banyak masyarakat menggunakan sampan menyeberangi dari kampung satu ke kampung lainnya. (Foto: SAID MUFTI/RIAU POS) Perbesar Gambar

Riau tidak bisa dipisahkan dari sungai, terutama empat sungai besarnya yakni Sungai Rokan, Siak, Kampar dan Indragiri. Keempatnya sejak mula memberikan kemudahan akses transportasi untuk perkembangan ekonomi, bahkan politik. Apalagi disepanjang sungai ini terdapat banyak pemukiman, tampuk pemerintahan dan perdagangan. Bisa dikatakan, sungai menjadi urat nadi peradaban melayu.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru


SEBAGAI urat nadi peradaban Melayu, sungai tak lagi termuliakan, bahkan pasca kemerdekaan, nyaris terabaikan. Akibatnya, sungai kian ditinggalkan dan tapak-tapak peradaban yang pernah berjaya di sepanjang alirannya menjadi “ampas” modernisasi. Serupa “tunggul” yang kian tertimbun zaman ke zaman.

Namun tidak sedikit pula berbagai pihak, terutama pemerhati dan pelaku budaya yang terpanggil untuk memuliakannya kembali dengan melakukan gerakan-gerakan kebudayaan. Salah satunya gerakan yang digagas Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan (P2KK) Unri dengan Ekspedisi Kebudayaan Empat Sungai sejak 2008 hingga hari ini. Kerja kebudayaan yang dilakukan Elmustian Rahman, Al Azhar, Mucthar Achmad dkk tersebut telah pula menghasilkan produk yang diperlukan yakni ensiklopedi dan atlas kebudayaan Melayu Riau.

Saat ini, tim yang diketuai Elmustian tersebut telah menyelesaikan ensikl0pedi dari dua sungai yakni Sungai Rokan dan Sungai Siak atau Sungai Jantan. Dikatakannya, gagasan ekspedisi ini berawal dari dua permasalahan besar yakni kurangnya data yang lengkap dan detil tentang khazanah kebudayaan melayu dan semakin terancamnya khazanah kebudayaan Melayu di kampung-kampung dan daerah terpencil. Karenanya perlu dilakukan pendokumentasian khazanah kebudayaan Melayu tersebut.

    “Ekspedisi ini tidak boleh tidak dan harus dilakukan dari sekarang. Meski bisa dikatakan terlambat, namun lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Apalagi sungai yang menjadi urat nadi peradaban Melayu kian terabaikan. Makanya, sebagai anak jati Melayu, kami perlu memuliakannya kembali untuk bekal generasi masa datang,” ungkap Elmustian kepada Riau Pos, pekan lalu usai menemui penguasa anggaran di Komisi D DPRD Riau.

Kala itu, Elmustian mendatangi komisi D untuk mempertanyakan kebenaran, apakah anggaran ekspedisi yang ingin mereka lanjutkan ke Sungai Kampar dicoret atau tidak. Pasalnya, telah berkembang isu adanya pencoretan kegiatan tersebut. Setelah mendapat penjelasan bahwa anggaran ekspedisi Sungai Kampar 2012 tidak dicoret maka Elmustian pun menegaskan akan terus melanjutkan misinya, dibantu atau tidak oleh pemerintah.

“Saya bahkan sudah jual rumah untuk menjalankan misi kebudayaan ini. Tapi saya perlu menanyakan apakah benar kegiatan ini dicoret atau tidak. Kalau tidak, Alhamdulillah dan saya akan melanjutkannya, meski tidak dibantu sama sekali,” ulasnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning Junaidi merasa upaya-upaya kreatif yang dilakukan Tim Ekspedisi Kebudayaan Empat Sungai perlu dilakukan secara maksimal. Apalagi, Riau dikelilingi banyak sungai dengan empat sungai besarnya. Semua sungai itu menjadi karakteristik budaya Melayu Riau sejak dulu kala. Selain merekam data dan fakta budaya yang pernah dan sedang berlangsung saat ekspedisi, di sisi lain tim itu juga bisa melihat dari faktor lingkungan. Apakah sungai masih sehat, bagaimana kondisi hutan dan isinya serta banyak lagi yang dianggap perlu untuk diperhatikan.

‘’Ditanya secara pribadi, saya sangat setuju dengan program ekspedisi sungai ini. Apalagi sungai merupakan karakteristik dari budaya kita yang masih dipercaya hingga hari ini,’’ ungkapnya kepada Riau Pos, Senin (21/11) lalu.

Selain itu, Junaidi juga mengajak pemerintah baik para birokrat maupun politisi untuk bersama-sama memberikan perhatian lebih agar program tersebut berjalan hingga tuntas. Ditambah lagi, produk dari ekspedisi berupa ensiklopedi dan atlas budaya itu perlu disebarluaskan sehingga masyarakat memahami arti penting memelihara budayanya sendiri. ‘’Hanya saja, program serupa ini sulit terukurnya terutama dalam hal pendanaan. Karena itu pemerintah harus mencarikan solusi administrasinya sehingga tidak akan bermasalah. Apalagi kegiatan budaya serupa ini sulit dipertanggungjawabkan, terutama tentang keuangannya,’’ tambahnya.

Ia juga menyarankan, agar pemerintah tidak melakukan pemangkasan anggaran karena hal itu jelas mempersulit tim melakukan kerja kreatif mereka. Karena itu, Junaidi menegaskan agar kerja tersebut dilakukan terus sehingga mampu mengangkat potensi-potensi yang selama ini tenggelam bersama perkembangan zaman.

Hal senada juga dilontarkan Sastrawan Riau yang juga pemerhati budaya melayu yakni Saukani al Karim. Ia menegaskan, Ekspedisi Kebudayaan Empat Sungai adalah gerakan kebudayaan yang patut didukung oleh semua pihak. Apalagi kebudayaan menjadi tiang agung bagi negeri ini.

Iktiar kebudayaan yang dibuat pelaku budaya melalui sebuah program, seperti penerbitan buku-buku, pendidikan seni dan sejenisnya yang memuliakan negeri ini patut diberikan sokongan. Sebab produk kegiatan kebudayaan akan memberikan pemahaman yang baik bagi generasi muda.

Artinya, dari produk kebudayaan itulah mereka mengetahui dari mana asal mereka, sejarah mereka dan akan kemana mereka untuk masa akan datang.

‘’Tindakan serupa ini hanya bisa dilakukan dengan gerakan kebudayaan. Jadi tidak ada lagi alasan untuk tidak mendukung gerakan kebudayaan Melayu di negeri yang menjunjung tinggi budaya Melayu itu sendiri,’’  ulas  Syaukani pekan lalu.

Ditambahkannya, apapun bentuknya, yang bernuansa keluhuran dan salah satunya ekspedisi empat sungai yang dilakukan Elmustian dan Al Azhar itu sangatlah perlu dilakukan. Seharusnya, ini menjadi julang-julangan bagi Riau sebagai negeri berbudaya, sekaligus negeri yang sudah memastikan kebudayaan sebagai tiang agungnya. Isu tentang banyaknya terjadi pencoretan kegiatan kebudayaan belakangan ini, tentu menjadi keprihatinan, bahkan membuat banyak pelaku kebudayaan dan seni kecewa.

Bahkan gerakan kebudayaan selalu dinomorduakan dalam pembahasan keuangan. ‘’Sumber spirit negeri ini adalah kebudayaan dan seharusnya lebih diprioritaskan, bukan malah dinomorduakan,’’ ujarnya.

‘’Sudah waktunya, seniman/budayawan melakukan tindakan yang patut terhadap upaya melemahkan kebudayaan itu sendiri,’’ ajaknya.

Ekspedisi Sungai Kampar Lebih Menantang Budayawan Riau Al Azhar yang juga masuk dalam tim Ekspedisi Kebudayaan Empat Sungai menyatakan, bahwa arti penting dari program Ekspedisi Kebudayaan Empat Sungai yang dimulai sejak 2008 hingga hari ini.

Apalagi belakangan ini tersiar isu program tersebut dicoret di Komisi D DPRD Riau, khusus untuk Espedisi Sungai Kampar 2012 mendatang.

Dijelaskannya, Ekspedisi Sungai Kampar merupakan lanjutan kegiatan setelah menyelesaikan ekspedisi Sungai Rokan dan Siak dengan hasil ensiklopedi serta atlas budaya melayu. Al Azhar juga memaparkan, dari pengalaman sebelumnya, seperti Sungai Rokan dan Siak, Ekspedisi Kebudayaan Empat Sungai, Sungai Kampar 2012 mendatang, memiliki tantangan yang relatif beda. Baik lingkungan fisik maupun ingatan dan kenyataan kebudayaan yang teliti. Lingkungan fisik Sungai Rokan misalnya, mengalir deras dibagian hulu untuk kemudian tenang berawa-rawa luas di paruh kedua sampai di muaranya. Beda dengan Sungai Siak yang dari hulu hingga ke muaranya terlihat tenang seperti mengalir lesu di tengah-tengah keadaan airnya yang tercemar.

‘’Dibandingkan Sungai Rokan dan Siak, lingkungan fisik Sungai Kampar dibagian hulunya nampak belum begitu tercemar, tapi mulai dari separuh panjangnya ke hilir hingga ke muara diperkirakan sudah tercemar juga,’’ ungkap Al Azhar.

Seperti halnya Sungai Rokan, Sungai Kampar banyak anak sungai. Namun berbeda dengan Sungai Rokan yang relatif homogen sedang lingkungan budaya Sungai Kampar sangat bervariatif. Dibagian hulu dan di sekitar Muara Takus ada entitas budaya 13 Koto Kampar. Kemudian entitas budaya 5 Koto Kampar dan di Kampar Kiri ada pula entitas budaya frontier

Kampar-Kuantan, entitas budaya bekas Kerajaan Gunung Sahilan, anak-anak sungai yang dihuni entitas budaya Petalangan, terus ke hilir dengan entitas budaya Pesisir bekas Kerajaan Pelalawan.

Jelas secara akademis dan teknis, Ekspedisi Kebudayaan Empat Sungai di Sungai Kampar masalahnya akan lebih komplek dan menuntut kepekaan intelektual yang lebih tinggi pula. Lagipula belajar dari pegalaman ekspedisi dua sungai sebelumnya, ekspedisi kebudayan Sungai Kampar tidak hanya akan menjajaki aspek-aspek luaran ekspresi-ekspresi budaya yang ada atau yang diingat. Tapi juga berusaha menggali struktur dalamannya. Pekerjaan intelektual yang dipadukan dengan ketahanan dan resiko fisik ini memang tidaklah seperti yang dibayangkan sebagian orang dan tidak pula bisa dibandingkan dengan kebanyakan kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan selama ini.

‘’Dengan ekspedisi empat sungai ini, kita bermaksud menyusun peta permasalahan subtansial kebudayaan Melayu sebagaimana adanya. Menarik persoalan kebudayaan sebagai persoalan mendasar dalam keseharian kita di Riau kini dan nanti. Bukan seperti selama ini, di mana kebudayaan Melayu dan persoalannya lebih banyak dipikirkan dan didekati para pejabat dan pilitisi kita dengan kegiatan serta keprihatinan yang palsu. Lebih buruk lagi, kerja-kerja kebudayaan dilihat sebagai peluang korupsi,’’ tuturnya panjang lebar.(rpg)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.