| Jum´at 18-05-2012 |
| Sabtu, 19-05-2012 13:52:37 | ||
| 15:24 | | | Buaya Makan Manusia Ditangkap |
| 11:36 | | | Esemka Embrio Mobil Nasional |
| 12:57 | | | Perut Buaya Dibelah, Ada Tubuh Bo ... |
| 18:03 | | | Nindy dan Astrid Fitting Gaun |
| 21:20 | | | Sore Tamu Ayah, Malam Tamu Aliya |
| 13:51 | | | Jajal Dunia Tarik Suara |
| 15:12 | | | Ketum KONI Pamer Green PON Riau |
| 09:42 | | | Perbaikan Stadion Kuansing Perlu ... |
| 09:22 | | | Penetapan Calon Wako Pekanbaru Te ... |
| 23:34 | | | Harimau Sumatera Sisa 400 Ekor |
PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan
PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i
BOGOR - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari
Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.
Bupati Indragiri Hulu, Yopi Arianto menggelar jumpa pers di aula Bappeda Inhu, Kamis (10/11/2011). (Foto: humas pemkab inhu/riau pos)
Perbesar Gambar
RENGAT - ASISTEN Agronomi PT Palma I Kebun II, Wira Taufik (29) dan rekannya Deni Rinaldi (39), warga Kuala Cenaku Kabupaten Inhu, melaporkan Bupati Indragiri Hulu, Yopi Arianto ke Mapolda Riau, Kamis (10/11). Kedua karyawan perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit ini mengaku dipukul oleh orang nomor satu di Kabupaten Inhu tersebut.
Terlihat kedua pria itu duduk di ruangan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau. Wira mengaku dipukul tiga kali sementara Deni mengaku dipukul dua kali, namun masih sempat menangkis serangan sehingga wajahnya terhindar dari pukulan. Menurut Wira kepada wartawan, saat itu sekitar pukul 16.00 WIB Rabu (9/11), kedua pria tersebut menghentikan sebuah alat berat milik masyarakat yang akan masuk ke dalam lahan yang diklaim PT Palma I sebagai lahan mereka di Desa Penyaguan Kecamatan Batang Gangsal.
‘’Saat itu masyarakat bilang ada bupati akan datang, lalu kami menunggu bupati datang. Saat datang Yopi langsung menanyakan siapa yang menghentikan alat berat, kemudian masyarakat menunjuk saya lalu Yopi langsung memukul,’’ ujar Wira. Pernyataan Wira itu didukung oleh Deni (39), Suratman (22) dan Tigor (25). Deni mengatakan dia melihat Yopi memukul korban sebanyak tiga kali. Setelah itu masyarakat menjauhkan Wira dari Yopi.
‘’Setelah Wira dipukul, Yopi kemudian menanyakan siapa lagi yang menghalangi alat berat, masyarakat kemudian menyeret saya ke hadapan Yopi. Kemudian Yopi memukul saya juga, tapi saya sempat menangkisnya,’’ ujar Deni mengingat-ingat kejadian tersebut.
Suratman mengatakan Yopi memukul korban di hadapannya dan hanya berjarak sekitar lima meter saja. Ditanya dengan tangan apa Yopi memukul korban, dia menjawab dengan tangan kiri.
Di tempat berbeda, saat Riau Pos menghubungi Yopi melalui telepon selularnya, Yopi mengatakan saat itu dia turun ke lokasi dengan unsur Muspida Kabupaten Inhu dan berniat menyelesaikan masalah antara kedua belah pihak. ‘’Saya tidak datang sendiri, ada unsur Muspida dan ada Dandim bersama saya. Kami berniat menyelesaikan masalah kepentingan keduanya, baik perusahaan maupun masyarakat. Tapi dia mengajak perang, dia melawan saya,’’ ujar Yopi.
Mengenai perkara pemukulan dan alasan pemukulan, Yopi mengatakan dia siap jika kasus tersebut diproses sampai ke persidangan. ‘’Saya hanya ingin menyelesaikan masalah saja, kalau saya dilaporkan ke Polda, sampai ke pengadilanpun saya layani,’’ ujar Yopi.
Ditanya soal kepemilikan lahan yang menjadi sengketa antara perusahaan dan masyarakat, Yopi mengatakan bahwa lahan tersebut masuk dalam lahan milik kehutanan dan perkebunan. ‘’Kita lengkap semua dokumen-dokumennya, jadi kalau masalah ini berlarut-larut sampai ke pengadilan, maka kita akan paparkan semuanya pada penyidik,’’ kata Yopi.
Kabid Humas Polda Riau, AKBP S Pandiangan yang datang ke posko pelayanan masyarakat Polda Riau saat karyawan PT Palma I melapor menyatakan, Polda sudah menerima laporan dan untuk sementara penyidik akan mempelajari perkara tersebut.
‘’Yang jelas kita sudah terima laporan dari masyarakat dan nantinya penyidik Ditreskrimum akan menghimpun informasi sebanyak-banyaknya dan akan mempelajari perkara tersebut terlebih dahulu,’’ ujar Pandiangan.
Jumpa Pers
Bupati Inhu, Yopi Arianto SE didamping Sekda, Drs HR Erisman MSi dan sejumlah Kadis, Kaban, Kakan dan Kabag di lingkungan Pemkab Inhu, Kamis (10/11) di ruang Bappeda menjelas kronologis kejadian kepada sejumlah wartawan yang sempat mengheboh itu.
‘’Kejadian itu terjadi pada Rabu (9/11) sekitar pukul 16.00 WIB setelah saya melaksanakan kegiatan penanaman perdana kelapa sawit di Desa Puntianai Kecamatan Batang Cenaku,’’ ujar Yopi.
Dijelaskannya, berawal dari laporan tentang adanya insiden antar warga dengan pihak perusahan, bupati dan rombongan langsung melancur ke TKP. Untuk mengetahui akar permasalahan, di TKP bupati langsung meminta penjalasan kepada Kades Penyaguhan, Raja Firman Syah.
Melalui keterangan Kades kepada bupati yang menyebutkan lahan warga daerah itu diserobot. Bahkan sekitar 7 unit alat berat milik PT Palma I salah satu anak perusahaan PT Duta Palma sejak beberapa waktu sudah melaksanakan pekerjaannya. ‘’Dari keterangan Kades, saya panggil salah seorang karyawan perusahaan hingga menunjuk-nunjuk ke arah wajahnya dan saat itu dengan emosi yang sudah memuncak. Mungkin saat itu tangan saya mengarah dan menempel ke wajah karyawan itu. Ini semua tidak lain hanya untuk kepentingan masyarakat atas amanah yang diemban sebagai abdi dan kepala daerah,’’ tegasnya.
Selain itu sebutnya, atas laporan warga dan Kades, masyarakat daerah itu diajak perang oleh karyawan perusahaan. Sehingga kondisi menjadi tidak kondusif hingga terjadi dua kubu yang akan saling menyerang.
Bahkan sebelum terjadi pemukulan terhadap salah seorang karyawan perusahaan itu, bupati sempat menyuruh mundur puluhan karyawan hingga mencapai lebih kurang 2 Km. Namun antara kedua kubu tetap tidak mau pulang.
Sebagai langkah untuk meredam emosi puluhan karyawan, bupati sudah memberikan pengarahan hingga menanyai masing-masing karyawan.‘’Selain sudah menyerobot lahan masyarakat, ternyata karyawan yang ada didatangkan dari luar daerah,’’ kesalnya.
Artinya, perusahaan ini tidak lagi memperhatikan warga tempatan. Di samping itu, tenaga kerja tidak lagi mempertimbangkan ketersediaan tenaga kerja lokal. Bahkan sejumlah kewajibannya tidak pernah ditunaikan hingga pajak alat beratnya. ‘’Selama ini kita masih berbaik hati kepada perusahaan itu tanpa memikirkan untuk mencabut izin yang ada. Namun nyatakan, perusahaan besar hingga anak perusahaannya tersebar di sejumlah daerah itu tetap ingin mencari untung sendiri,’’ tambahnya.(rul/kas/rpg)