Tutup DAPATKAN BUKU:

Karya Sastra, Seni Budaya, Jurnalistik dan lain sebagainya

Kontak: 081365007573

Riau

April Batas Waktu Usulan Formasi CPNS

  PEKANBARU  (Riaupos.co) - Angka usulan formasi CPNS 2014 diperoleh dari analisis jabatan di seluruh SKPD se-Riau. Dalam kesempatan itu, proses perencanaan keperluan pegawai dirancang

Pekanbaru

Perda Gepeng Tak Jalan

 Anak-anak punk yang berkeliaran dan tidur di emperan toko membuat warga sekitar resah. Foto: teguh prihatna/Riau Pos   PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Semakin menjamurnya gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kota Pekanbaru dinilai anggota DPRD Kota Pekanbaru, Darnil k

Nasional

Tes CPNS 2014 Dimulai Juni

Setiawan Wangsaatmaja   JAKARTA (JPNN.com) - Perubahan sistim seleksi CPNS 2014 dari metode lembar jawab komputer (LJK) ke computer assisted test (CAT), membuat pemer

OPINI PEMBACA

Mungkinkah Kita Sudah Kafir?

BILA kita mau merenung dan memikirkan secara sungguh-sungguh, mencari jawaban untuk pertanyaan “mengapa atau apa penyebab dari semua bencana yang menimpa manusia? maka jawabannya hanya satu, yaitu karena hukum tidak ditegakk


Sunting karya Kunni Masrohanti, Buku Pilihan Sagang 2011

Buku Membuat Kita Terus Hidup Meski Telah Mati

Kamis, 20 Oktober 2011 15:39 | Riau | Feature | Riau Pos



Laporan FIRMAN AGUS, Pekanbaru


Buku kumpulan puisi berjudul Sunting karya Kunni Masrohanti, merupakan Buku Pilihan Anugerah Sagang tahun ini. Buku itu berisi 150 puisi yang ditulis Kunni sejak 1998 hingga 2009.

Puisi-puisi yang ditulis kental dengan kenangan masa kanak-kanak dengan persoalan keperempuanan, masalah sosial, rumah tangga, pesan, kedekatan pada Sang Pencipta, rindu, dendam dan masih banyak lainnya yang ditulis dengan tutur gaya bahasa Melayu.

Berbagai kelebihan dalam Sunting menyebabkan Tim Penilai menetapkannya sebagai Buku Pilihan Sagang 2011. Karena itu, tentu diiringi banyak harapan oleh penulisnya sendiri. 

Saat Riau Pos berkunjung ke rumah Kunni, perempuan kelahiran Siak Sri Indrapura tahun 1974 ini terlihat disibukkan oleh kedua putri kembarnya yang baru dilahirkan tiga bulan silam. Kunni pun melekatkan sebutan Sunting pada ujung nama kedua buah hatinya.

Bagi Kunni, sebuah karya tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan pada akhirnya jadi kenangan bagi orang lain. Tapi justru bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain.

‘’Puisi-puisi dalam Sunting sudah saya tulis sejak 1998, cukup lama. Awalnya saya hanya menulis dan tak berniat membukukannya. Saya hanya giat berteater, membaca puisi, menyutradarai naskah drama yang semua itu tidak ditulis. Saya kemudian berpikir, jika dibiarkan, semua itu akan hilang dalam kenangan,’’ katanya.

Menurutnya, tak ada yang akan dia tinggalkan untuk anak cucu dan kaumnya kelak. Setelah itu barulah dia membukukan puisi-puisi yang ada, tentu berkat dukungan para sahabat, orangtua, saudara dan pastinya suami dan anak-anak.

‘’Buku atau karya dalam bentuk tulisan adalah karya nyata yang membuat kita terus hidup meski sudah mati. Buku itu akan terus dibaca, dibicarakan dan nama kita akan terus disebut. Dan yang paling penting, saya ingin buku ini jadi inspirasi bagi penyair-penyair perempuan lainnya, terlebih saat buku ini sudah jadi yang terpilih,’’ harap Kunni.    

Kecintaannya pada tanah kelahiran Siak —negeri istana yang kental dengan budaya Melayu— meski pada dasarnya Kunni keturunan Jawa, jadi salah satu sebab kenapa buku itu diberi judul Sunting.

Selain merupakan salah satu judul puisi, Sunting adalah hiasan yang dipakai gadis Melayu saat jadi pengantin. Terlepas dari itu semua, Kunni tetap berharap akan ada buku-buku puisi lain karya perempuan Riau yang bisa dibanggakan.

‘’Pastinya saya senang, keluarga saya juga senang saat Sunting jadi Buku Pilihan Sagang bertepatan dengan kelahiran kedua putri kembar saya. Mudah-mudahan jadi inspirasilah bagi penyair perempuan lainnya untuk terus berkarya meski kita sibuk mengurus anak, rumah tangga dan juga pekerjaan. Berkarya tanpa batas, kapan saja, di mana saja, asal kita mau pasti kita bisa. Tanpa dukungan, nasehat dan arahan dari banyak pihak khususnya orangtua dan suami, anugerah ini juga tak mungkin bisa saya dapatkan,’’ kata Kunni yang kesehariannya bergelut sebagai jurnalis.

Sunting merupakan buku kumpulan puisi tunggal Kunni yang pertama. Sebelumnya, puisi-puisi Kunni masuk dalam antologi  puisi bersama. Di antaranya, Musim Berganti, Musim Bermula (2001), Kemilau Musim (2003), Pesona Gemilang Musim (2004), Kutulis Namamu (2005), Riau Satu (2000) dan Fragman Waktu (2010).

Selain menulis puisi, Kunni juga membaca puisi di beberapa daerah di Riau, Jakarta, Surabaya, Malaysia dan Tanjungpinang Kepri (2001) serta sering mengikuti berbagai perlombaan baca puisi.

Kunni juga memenangkan lomba baca puisi tingkat nasional tahun 1999 di Surabaya. ‘’Insya Allah akan menyusul buku puisi kedua nantinya. Semuanya sedang dalam proses,’’ sebut Kunni.

Anak ketiga dari pasangan H Tarmuji dan Hj Partini ini juga merupakan salah seorang perempuan yang tercatat dalam buku Direktori Perempuan Riau kategori Seni Budaya.

Kunni juga merupakan Aktris Terbaik tiga tahun berturut-turut dalam Festival Teater Dewan Kesenian Riau (DKR) tahun 1998 sampai tahun 2000. Juga Sutradara Terbaik I Festival Teater DKR Riau 2000. Dia menyutradarai naskah ‘’Sri Karma’’ yang ditulisnya sendiri. Memerankan naskah ‘’KU-Yang’’ (Surabaya), ‘’Masih Ada Kamar di Tepi Rel’’ (Pekanbaru), ‘’Harut Marut’’ (Pekanbaru), ‘’Putih Hitam Bersisa’’ (Pekanbaru), ‘’Mahkota Jiwa’’ (Bengkalis), ‘’Sang Gelar’’ (TIM, Jakarta), ‘’Awan Berasap’’ (Pekanbaru), ‘’Kebebasan Abadi’’ (Pekanbaru) dan ‘’Dialog Orok’’ (Pekanbaru).

Kunni beberapa kali jadi juri lomba teater dan puisi di dalam dan luar Pekanbaru. Dia juga berperan sebagai Mak Joyah dalam serial Wak Atan yang ditayangkan RTv dan TVRI Riau tahun 2000. Memerankan Munah dalam film Kemilau Mutiara Hijau sutradara Krisbiantoro, TPI (1998). Menulis naskah drama berjudul ‘’Sri Karma, Sauni’’.

Salah seorang pengurus Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekanbaru (BPSBP), salah seorang pendiri Himpunan Pekerja Seni Riau (Himpujaseri), aktif di Sanggar Teater Latah Tuah dan pendiri Komunitas Rumah Sunting (KRS) tahun 2011. Sejak sepuluh tahun terakhir hingga kini, Kunni mengabdikan diri sebagai jurnalis di Harian Pagi Pekanbaru Pos.***



Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.