Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Melihat Objek Wisata Gelombang Bono Kualakampar (3-habis)

Viki Lestari, Srikandi Bono dari Teluk Meranti

Minggu, 02 Oktober 2011 17:58 | Pelalawan | Feature | Riau Pos

Laporan ANDI NOVIRIYANTI, Teluk Meranti

Gadis muda itu bernama Viki Lestari (14). Ia layak dipanggil Srikandi Bono. Ia adalah perempuan pertama yang berani mengarungi bono dan berselancar di atasnya.

Padahal sebelumnya hanya orang asing saja yang berani berselancar di atasnya. Sementara ia asli dara Kuala Kampar yang dari kecil telah disuguhkan cerita tentang kedahsyatan bono.

Viki  berperawakan tomboy. Rambutnya yang hitam legam berpotongan cepak. Kulitnya boleh dibilang gelap. Jika berjalan terlihat gagah seperti anak laki-laki. Mungkin karena ketomboyannya itulah yang membuat siswi SMP Negeri 1 Teluk Meranti ini berani bermain-main di atas bono.

Kemampuannya berselancar, untuk gadis sebelia dia dengan historis cerita, boleh dibilang cukup fantastis. Ia mampu berselancar 10-15 menit. Hal itu juga diakui guru selancarnya, David Baladec.

Peselancar asal Jerman yang sudah tiga kali mencoba gulungan bono di atas papan selancarnya itu mengatakan Viki, adalah anak yang sangat berani dan sangat berbakat. Ia menjadi satu-satunya anak Kuala Kampar yang secara kontinyu belajar berselancar.

“Sebenarnya ada tiga anak yang kami ajarkan berselancar. Tapi hanya Viki yang tetap. Dua anak lainnya saya tidak tahu ke mana,” ujar David yang tampak sumringah dan bangga menceritakan anak didiknya.   

Rabu (28/9) siang, Riau Pos sempat menyaksikan Viki naik

ke atas speedboat yang dinahkodai David. Siang itu, David bersama istrinya mengajak Viki berselancar. Namun bukan di gelombang bono yang besar (maksudnya di perairan Pulau Muda hingga Tanjung Senduk). “Saya belum boleh oleh David mencoba bono besar,” ujar putri kedua Farida, pemilik warung yang berada di tepian dermaga Teluk Meranti.  

Meskipun baru belajar berselancar beberapa bulan lalu di atas bono, namun Viki mengaku tidak takut dengan gelombang merusak itu.

 “Saya dulu sering mengejar bono di tepi pantai (pantai sungai maksudnya). Jika bono datang, saya berlari menghindarinya. Kadang-kadang saya juga sering menggunakan papan di atas sungai untuk mengapung. Jadi waktu diajarkan David berselancar, saya sudah langsung bisa,” cerita gadis muda yang bercita-cita jadi peselancar kelas dunia itu.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini, mengaku kalau sedang berselancar rasanya nikmat sekali.

 “Saya tidak bisa bandingkan dengan apa-apa nikmatnya,” ujarnya ketika ditanyakan seperti apa sih rasanya berselancar di atas bono. Asyik sekali rasanya, bebas. Jadi tidak takut,” ujarnya yang saat itu basah kuyup usai berselancar. 

Ditanya bagaimana tanggapan keluarganya, ia mengaku hanya neneknya yang kerap cemas. Soalnya dulu kapal yang ditumpangi neneknya pernah tersapu gelombang bono dan karam. Namun untunglah ibunya mengizinkannya.

“Tak apa, bapaknya kan raja laut,” begitu ujar Farida saat ditanya apa tak khawatir membiarkan anaknya berselancar di atas bono.

Viki, punya papan selancar sendiri. Itu hadiah dari David. Ia kerap menggunakannya untuk mengapung di atas sungai namun jarang digunakan untuk berselancar. “Saya latihan berselancar hanya kalau ada mereka. Soalnya tidak ada kawan,” imbuh Viki.

Selain itu juga mungkin karena tidak ada speedboat yang mengantarkan Viki berselancar. Berbeda dengan berselancar di laut yang bisa berenang dari tepian pantai. Sementara berselancar di bono harus menggunakan speedboat sebagai landasan untuk turun dan naik.  

Keberadaan para peselancar, harus diakui memberi dampak positif bagi masyarakat Teluk Meranti. Setidaknya itu diakui oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Pelalawan Zarderwan, saat membuka Pagelaran Seni Budaya Tirta Bono di Teluk Meranti, Selasa (27/9) malam.  

“Beratus tahun bono menjadi hal yang menakutkan, namun kedatangan para peselancar memberi dampak positif bagi pengembangan wisata di Kabupaten Pelalawan. Pemerintah daerah, provinsi, dan pusat kini sedang serius mengembangkan potensi wisata kelas dunia ini,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan tetua adat masyarakat Teluk Meranti yang kerap dipanggil datuk. Sebenarnya namanya H Hasan. Ia adalah Lurah Teluk Meranti. 

“Ini adalah potensi yang terpendam. Dengan kedatangan para peselancar, kini semua orang heboh. Baguslah bagi kampung ini. Hidup jadinya,” ujar pria kelahiran 1933 ini.

Dampak positif dari kedagangan para peselancar juga dirasakan Erna, pegawai Kantor Lurah Teluk Meranti. Ia menyebutkan sejak ada bule (sebutan bagi turis asing), anak-anak di kampungnya termotivasi belajar bahasa Inggris.

“Dulu, anak-anak sini tak minat belajar bahasa Inggris. Tetapi sejak ada turis mereka jadi tertarik untuk mencoba untuk berbahasa Inggris. Selain itu para bule itu sangat kemas dengan perlengkapan dan keamanan. Anak-anak bisa belajar dari situ,” ujar perempuan yang menjadi pengelola Penginapan Mega Lestari, penginapan satu-satunya di Teluk Meranti yang menjadi tempat peselancar menginap.

Meskipun kegiatan peselancar yang pertama kali dimulai September 2010 oleh Antony Colas, warga negara Francis, membuat Pelalawan memiliki objek wisata kelas dunia, namun ada setumpuk ke khawatiran dari pengamat kepariwisataan dan pecinta sungai. Mereka mengkhawatirkan warga setempat hanya menjadi penonton.

“Kami memang ikut mengorganisir dalam kegiatan para peselancar yang dilakukan para turis ini. Tapi kami mengkhawatirkan masyarakat tempatan, dapat apa dari kegiatan wisata ini. Mereka (para peselancar, red) mengorganisir sendiri kegiatan mereka ke Teluk Meranti. Bahkan kini mereka memiliki dua speedboat untuk tiap kali berselancar. Mereka juga memiliki website sendiri untuk mempormosikannya. Jangan sampai nantinya, warga sempat hanya menjadi penonton,” tutur Hisyam Setiawan dari River Defender.

Kekhawatiran senada juga diungkapkan oleh Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Riau Osvian Putra. Menurut pria yang juga menjadi koordinator HPI di Pulau Sumatera ini jangan sampai terjadi seperti di surf spot (tempat-tempat berselancar) lainnya di Indonesia.

Di mana masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Misalnya seperti yang terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Pengusaha asing, tambahnya, menguasai jaringan informasi pemasaran dan didukung oleh tersedianya fasilitas yang berkualitas. Sementara masyarakat lokal belum tentu bisa bersaing karena keterbatasan modal, network, dan skill. Minimal harus paham filosofi bermain surfing.

Belum lagi, menurut Hisyam, tentang regulasi. Seperti yang dikhawatirkan oleh Dedi, pengemudi speedboat para turis yang perharinya dibayar Rp350 ribu oleh para turis kepada Riau Pos.

Dedi, Rabu (28/9) khawatir kalau terjadi apa-apa dengan turis, misalnya kecelakaan, maka ia takut menjadi tersangka. Sama halnya jika membawa kendaraan bermotor di jalan raya. Jika ada yang celaka di dalam kendaraan itu, maka supirnya bisa jadi tersangka.

Hisyam mencontohkan kekhawatiran oleh Dedi seperti kasus Saiful Jamil, artis yang saat lebaran Idul Fitri lalu mengalami tabrakan tunggal dan mengakibatkan istrinya meninggal. Saiful Jamil kemudian ditetapkan tersangka. Nah, bahagaima kalau nanti ada yang celaka, apakah Dedi juga akan menjadi tersangka?

Sebenarnya tentang regulasi itu telah pernah ditanyakan oleh Dedi kepada Pemda Pelalawan. Namun saat dia diajak studi banding untuk mempelajari tentang kegiatan peselancar, ternyata memang tidak ada regulasi yang jelas.

Menanggapi sejumlah kekhawatiran itu, Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Wisata, Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Riau Drs Yusrizal menyatakan mereka kini tengah berusaha membuat aturan.

“Ini kan baru. Apalagi ini adalah kegiatan wisata minat khusus. Kita sedang rancang aturannya. Tapi sabarlah dulu,” ungkapnya.***

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.