Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Histeris, Istri dan Dua Anak tak Selamat

Minggu, 02 Oktober 2011 17:39 | Nasional | Kecelakaan | Redaksi




MEDAN - Di posko Bandara Polonia, Medan, kemarin dua anggota keluarga korban berteriak histeris, lalu pingsan. "Kami harus tuntut NBA. Kalau bantuan cepat datang, pasti mereka masih bisa diselamatkan. Kenapa semalam tidak langsung datang bantuan? Ya Allah, mati kelaparanlah kalian di hutan sana, ya. Ya Allah, kasihannya kalian. Ya Allah," pekik seorang ibu yang kehilangan tiga kerabat.

Junanda, 38, guru SMAN Kotacane yang kehilangan sang istri, Syamsidar Yusni, 27, pegawai Dinas Perpajakan Kotacane, serta dua anaknya, Hamimatul Zahanah, 5, dan Hamid Abdulah, 3, juga tak kuasa mendengar kabar pilu itu. Pria yang sejak hari pertama kecelakaan berada di posko tersebut itu langsung pingsan begitu mengetahui bahwa tak ada seorang pun korban yang selamat dalam pesawat. Keluarga dan rekan-rekan yang mendampingi sejak kemarin bersusah payah menenangkan Junanda, yang hidungnya langsung dipasangi oksigen.

"Bangun kau, Amang. Kau tengok anakmu dulu. Itu, mereka datang. Bangun, Amang," teriak salah seorang anggota keluArga Junanda sambil mengoyang-goyangkan tubuh pria itu. Menurut keluarga, Sabtu lalu (24/9) Syamsidar Yusni dan dua anaknya pergi ke Medan untuk menghadiri undangan kantor sekalian menjenguk keluarga, sedangkan Junanda menyusul istri dan anaknya tersebut lewat jalan darat.

Karena harus mengajar Senin (26/9), Junanda pulang terlebih dahulu ke Kotacane. Ayah dua anak tersebut berangkat dari Medan Minggu lalu (25/9), sedangkan istri dan anaknya menyusul dengan naik pesawat.

Pekik histeris juga keluar dari bibir Selpi, 11, yang kehilangan ayah dan ibu. "Kenapa papaku? Kenapa papaku?" teriaknya dalam pelukan seorang kerabat yang juga menangis. "Mana papa? Mana mamaku? Kenapa mamaku? Mana papaku?" jerit dia. Selpi merupakan anak Dr Suhelman, 45, dan Dr Juli Dahliana.

Menyikapi kekecewaan keluarga korban, Ketua Basarnas Marsekal Madya TNI Dariyatmo menyatakan, berdasar hasil pencarian tim SAR, posisi korban memang sudah meningal. Menurut dia, saat kecelakaan, kecepatan pesawat 130 sampai 140 knot. Dengan kecepatan itu, jika membentur lereng bukit, akibatnya fatal.

Menurut perhitungan Basarnas, para penumpang meningal seketika. Itu bisa dilihat dari gambar pesawat. Hidung pesawat hancur, sayapnya patah, bagian punggungnya melengkung.

Semua itu, papar Dariyatmo, harus dipahami agar tidak ada spekulasi macam-macam. "Sebab, kami (Basarnas, Red), Bapak Kapolda, Pangdam, Danrem, dan semua pihak, tidak punya pilihan lain, selain memberikan bantuan secepatnya. Tapi, apalah daya manusia. Dengan kendala yang ada, termasuk faktor cuaca dan kondisi geografis yang tidak memungkinkan, Basarnas sampai ke lokasi," ujarnya.

Bukan hanya itu. Saat evakuasi kondisi angin sangat kencang. Lokasi jatuhnya pesawat memiliki kemiringan 70 derajat sehingga evakuasi sangat sulit. Bahkan, pasukan yang melakukan penyisiran melalui darat akhirnya ditarik karena kondisi tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan. 

Dariyatmo menjelaskan, akibat kecelakaan itu, pesawat berada di lereng bukit, di antara pepohonan, dengan kondisi kepala hancur serta sayap dan bagian ekor patah. "Sehingga kami mohon waktu untuk melakukan evakuasi. Sebab, kalau tidak berhati-hati, bisa timbul risiko baru," ucapnya. (wis/c11/nw/jpnn)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.