| Jum´at 18-05-2012 |
| Sabtu, 19-05-2012 13:35:09 | ||
| 15:24 | | | Buaya Makan Manusia Ditangkap |
| 11:36 | | | Esemka Embrio Mobil Nasional |
| 12:57 | | | Perut Buaya Dibelah, Ada Tubuh Bo ... |
| 18:03 | | | Nindy dan Astrid Fitting Gaun |
| 21:20 | | | Sore Tamu Ayah, Malam Tamu Aliya |
| 13:51 | | | Jajal Dunia Tarik Suara |
| 15:12 | | | Ketum KONI Pamer Green PON Riau |
| 09:42 | | | Perbaikan Stadion Kuansing Perlu ... |
| 09:22 | | | Penetapan Calon Wako Pekanbaru Te ... |
| 23:34 | | | Harimau Sumatera Sisa 400 Ekor |
PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan
PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i
BOGOR - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari
Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.
Malam buat Keisha, merupakan tajuk kegiatan penggalangan dana yang dilakukan oleh Koperasi Bagan Timur Bersatu (Batim1) pada Sabtu (24/9) malam.
Perbesar Gambar
BAGAN - Bertempat di pinggiran Jalan Pahlawan, Bagansiapiapi, ratusan pelajar dari berbagai sekolah mengelar sejumlah pertunjukan kesenian sebagai wujud kepedulian pada balita Keisha.
Keisha adalah nama bayi berumur setahun, penderita penyakit Hydrocephalus atau pembengkakan di bagian kepala.
Penyakit yang dalam penjelasan medisnya dikatakan sebagai kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebsrospinal ini, diyakini oleh sang ibu, Rini (21) mulai menyerang Keisha saat baru berumur sebulan.
‘’Kondisinya secara keseluruhan sehat dan tidan memperlihatkan gejala seperti terserang penyakit. Namun ubun-ubun kepalanya terasa lunak saat disentuh, lebih lunak daripada bayi biasanya,’’ tutur Rini.
Di rumah yang sederhana, berdindingkan papan seadanya di jalan Pelabuhan Baru, Kelurahan Baganbaru, Kecamatan Bangko, di sanalah Keisha melewatkan hari-harinya dalam penderitaan.
Dengan berat kepala sekian kilogram, praktis memaksa tubuh mungil Keisha tidak bisa bergerak sepertimana balita biasanya. Ketika dikunjungi, tangan Keisha mengapai-gapai sebagai ekspresi senang didatangi banyak orang. Bola matanya hanya mampu melirik dengan lemah.
Ida, sang nenek sudah tidak berurai air mata menanggapi pertanyaan yang diajukan mengenai kondisi cucunya.
‘’Sudah terlalu sering menangis, jadi sudah biasa,’’ kata Ida. Keisha, tutur Ida tidak pernah dibayangkan akan menderita penyakit mahal dan mengerikan tersebut. Karena begitu lahir kondisinya tidak memperlihatkan gejala yang aneh.
‘’Waktu lahir elok-elok (baik) saja keadaannya. Tak tahu sekarang sampai seperti ini. Setiap hari dia menangis mungkin karena tak tertanggungkan menahan sakitnya itu. Tiap hari inilah yang kami tanggung, kadang diberi makan mau, kadang tidak. Sakit memikirkan semua ini,’’ kata Ida.
Kondisi ekonomi keluarga ini pun jauh dari sejahtera, pasca berpisah dengan sang suami, Keisha diboyong sang ibu untuk tinggal serumah dengan sang nenek. Bertiga mereka hidup dalam tanggungan suami Ida.
Ida mengeluhkan rendahnya kepekaan pemerintah pada penderitaan yang dialami cucunya. ‘’Sudah hampir setahun inilah yang kami tanggung sementara bantuan dari pemerintah kabupaten belum ado jugo nampak le (belum nampak lagi),’’ keluh Ida.
Lambannya uluran tangan pemerintah inilah yang mengesa para pelajar untuk berinisiatif mengalang dana untuk pengobatan Keisha. Sabtu malam itu, berhimpun sejumah pelajar menunjukkan kepedulian mereka.
Meski sederhana, digelar di halaman seadanya, sebuah layar putih memampangkan foto Keisha. Sementara itu, para pelajar bergantian menampilkan pertunjukkan.
Ada yang menampilkan tarian Melayu, acapella nasyid hingga totalitas ala band pelajar dengan aransemen lagu yang diciptakan sendiri. Masyarakat pengendara yang kebetulan lewat, cukup banyak berhenti di pinggir jalan menyaksikan pertunjukan, sebagian di antaranya memasukkan uang ke kotak sumbangan yang diletakkan di pinggir jalan.
Para pelajar tersebut sebagian besarnya merupakan alumni pesantren kilat pada Ramadhan 1432 H yang pernah dilaksanakan oleh Batim1 pada Ramadan lalu. Mereka berasal dari siswa SMA N 1 Bangko, BEM STAI Arridho, SMK 1 Bangko, SMK Ujang Khalijah, SMA Muhammadiyah, SMA Islam Arridho, SMA Bintang Laut, SMA Wahidin, Madrasah Aliyah Negeri, SMP Islam Arridho, SMP 1 Bangko, SMPN 2 Bangko, SMP Muhammadiyah, SMP Setia Budi, SMP Bintang Laut, SMP Wahidin dan MTs Hubbul Wathan.
‘’Berapapun uang yang terkumpul itu bukanlah bagian yang penting dari kegiatan mulia ini, yang terpenting adalah bagaimana niat untuk saling membantu itu tercapai,’’ kata Budi Setiawan MPd , Ketua Batim1 sekaligus koordinator kegiatan. Malam buat Keisha, terasa istimewa karena menimbulkan antusiasme yang tinggi bagi masyarakat.
Gerakan pengalangan dana untuk Keisha, terang Budi sebenarnya sudah berjalan sepekan silam. ‘’Untuk selanjutnya kita terus mengalang dana dari masyarakat. Besok (kemaren) pelajar akan turun ke jalan-jalan mengelar kotak dana, Senin (25/9) pengalangan dana dilanjutkan ke kantor-kantor dan dinas instansi diharapkan setelah itu kita menyalurkan bantuan yang terkumpul. Kalau bisa pada Senin itu juga, siang atau sorenya,’’ kata Budi.
Mahalnya biaya pengobatan Hydrocphalus ini yang membuat Keisha berlarut-larut dalam penderitaannya. setidaknya diperlukan dana Rp200 juta, itupun jika semuanya berjalan dengan lancar.
Setidaknya ada empat kali operasi yang mesti dilakukan dimana untuk biaya operasi awal saja diperkirakan memerlukan dana Rp60 juta, baru menyusul operasi berikutnya lebih murah sekitar Rp30 juta.
‘’Biaya yang diperlukan untuk mengoperasi dan kembali normal mencapai ratusan juta,’’ kata dr Erwinto, Kepala Puskesmas Bangko. Terkait dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan dr HM Junaidi Saleh MKes mengatakan, biaya pada Sabtu (23/9) Keisha telah dirujuk ke RS RM Pratomo, Bagansiapiapi. Hasilnya dokter spesialis anak mengatakan, Keisha harus dirujuk ke Pekanbaru atau Medan.(syahri ramlan/*3/rpg)