Riau

Dewan Pers Terima 511 Pengaduan dari Masya ...

WORKSHOP WARTAWAN: Ketua Komisi Bidang Pengaduan masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudybio (kiri) memberikan arahan dalam workshop Sosialisasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Riau di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (16/5/2012).(foto aznil fajri)  PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan

Pekanbaru

Polisi Selidiki Kasus Bocah Dicubit 39 Tem ...

PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i

Nasional

Jasad Pramugari Ditemukan Sepotong

BOGOR  - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari

OPINI PEMBACA

Ikhwal Tekad Wali Kota Pekanba...

Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.

Tapal Batas Tak Jelas, Oknum Garap Lahan Desa

Jum´at, 23 September 2011 11:41 | Rokan Hilir | Pemerintah | Riau Pos

TANAH PUTIH SEDINGINAN  - Tindak pidana perambahan hutan di Rokan Hilir kerap terjadi akhir-akhir ini.

Beberapa waktu lalu, Wakil Bupati H Suyatno AMP menegaskan bahwa, pemerintah akan bertindak tegas terkait persoalan lahan karena menyangkut tapal batas serta kepemilikan potensi yang akan menyumbangkan pendapatan signifikan bagi adaerah.

Tapi kenyataannya, penyerobotan lahan masih kerap terjadi. Seperti di Dusun Bais, Tanah Putih Sedinginan.

Penghulu Rantau Bais, Al Juflizar beserta kepala dusun, ketua RT 04, Ketua RT 05 dan Kepala Dusun Bais, serta wartawan menyusuri hutan Sungai Senangar Rantau Panjang di Desa Rantau Bais yang diduga telah digarap oleh Sit (35), yang merupakan warga Duri, dengan menggarap lahan yang berada di sepanjang aliran Sungai Senangar sejauh 1 4,5 Km dari Desa Rantau Bais.

Sebelum turun ke lapangan, tim yang dimotori oleh pihak kepenghuluan memperoleh informasi ini dari Ketua RT 05 Desa Bais, Jasri yang mengatakan, eskavator penggarap hutan tersebut terpuruk sehingga tidak beroperasi lagi. Kontan, penghulu dan aparat terkait langsung terjun ke lapangan.

Dari pantauan di lokasi,  hampir separuh badan eskavator tenggelam ke dalam lahan yang berawa dan terlihat saat itu operator beserta kenek yang berjumlah dua orang sedang mengamati eskavator itu.

Ketika ditanyakan oleh penghulu kepada operator alat berat siapa pelaku penggarap lahan di desanya itu, pihaknya mengaku ia disuruh oleh Sit.

‘’Terus terang kami tidak tahu bahwa kerja kami adalah salah dan setelah eskavator kami tarik nanti maka kami berjanji akan pulang ke Duri,’’  kata Zakir yang bertugas sebagai operator didampingi Gultom yang bertugas sebagai pengantar air, dimana keduanya merupakan warga Duri Km 13.

Zakir dan Gultom mengatakan, mereka tidak mengetahui yang dilakukan oleh mereka telah melanggar secara hukum dan mereka mengaku telah menggarap lahan tersebut sejak bulan puasa lalu.

‘’Kami tidak mengetahui lahan siapa yang kami garap Pak,’’  tutur mereka. Penghulu Rantau Bais, Al Juflizar mengatakan permasalahan ketidak jelasan tapal batas merupakan pemicu dari banyaknya oknum yang mencoba menggarap lahan di Desa Rantau Bais.

‘’Apalagi aliran Sungai Senangar ini adalah salah satu sungai alam sehingga dengan aksi penggarapan lahan ini telah merusak ekosistem sepanjang aliran sungai ini,’’  terangnya.

Orang yang menggarap lahan ini adalah mereka yang tidak mengetahui peta tentang tapal batas sehingga mereka dengan semena-mena menggarap lahan tanpa berkoordinasi dengan pihak kepenghuluan. ‘’Perbuatan ini seakan akan menginjak harga diri dan marwah kami,’’ Kata Juflizar Emosi.

Kepala Dusun Rantau Bais, Sumarlis mengatakan, berdasarkan peta, areal yang digarap eskavator masih wailyah Rantau Bais.

Saat ini mereka menggarap tanpa sepengetahuan warga. Ia juga menginginkan agar pemerintah segera menyelesaikan masalah tapal batas dan memberikan bantuan perkebunan inti kepada warga.(*3)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.