Tutup DAPATKAN BUKU:

Karya Sastra, Seni Budaya, Jurnalistik dan lain sebagainya

Kontak: 081365007573

Riau

Honorer Berpeluang Jadi Pegawai Pemerintah

  PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Angin surga dihembuskan oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah bagi para honorer di lingkungan pemerintahan. Pasalnya, honorer yang tidak lulus dalam seleksi Calon Pegaw

Pekanbaru

25 Gepeng-Anak Punk Diamankan

 Belasan anak punk diamankan di Kantor Satpol PP Pekanbaru usai razia ketertiban umum oleh tim gabungan Satpol PP, Dinas Sosial, Polresta Pekanbaru, Rabu (16/4/2014). Foto: Defizal/Riau Pos   PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Untuk menjawab keresahan masyarakat atas menjamurnya keberadaan gelandang dan pengemis (gepeng) serta anak punk di Ko

Nasional

Menguat, PD Bentuk Poros Baru

  JAKARTA (JPNN.com) - Arah koalisi Partai Demokrat (PD) masih ditunggu-tunggu, terutama oleh partai-partai politik yang juga belum memastikan kebijakan koalisinya menghadapi pilpres 9 Juni nant

OPINI PEMBACA

Mungkinkah Kita Sudah Kafir?

BILA kita mau merenung dan memikirkan secara sungguh-sungguh, mencari jawaban untuk pertanyaan “mengapa atau apa penyebab dari semua bencana yang menimpa manusia? maka jawabannya hanya satu, yaitu karena hukum tidak ditegakk


Guru Duel Dengan 4 Rampok

Rabu, 29 Mei 2013 12:22 | Nusantara | Hukum Kriminal | Redaksi

 

CIAMIS - Guru SMPN 1 Panumbangan, Ciamis H Feri Maman Haruman alias Apih (50) berduel dengan empat perampok di tengah rumahnya, Selasa (28/5). Aksi heroik Feri terjadi saat para perampok masuk ke rumah pria yang juga pengusaha material itu di Sukasetia, Cihaurbeuti, Ciamis. 

 

Akibat duel itu, Feri mengalami luka sobek empat jahitan di belakang kepala. Luka itu akibat hantaman linggis. Menurutnya, dari empat perampok, ada satu yang terluka, karena sabetan samurai milik korban. Para perampok, kata Feri, mengambil kalung emas putih yang dipakai Feri seberat 22 gram.

 

Hj Nonok Rukiah (45), istri Feri saat perampok masuk rumahnya, dia tidur di kamar depan bersama anaknya, Rian Dwi Putra (14), dua keponakannya, Wildan (10) dan Yuni (19). Sedangkan suaminya, Feri tidur di kamar paling depan. Dia sendirian. 

Pukul 03.30, dia terbangun, karena mendengar suara gaduh. Dia mengiranya tikus di atap. Namun lama kelamaan suara tersebut tambah keras. 

 

“Saya kaget karena melihat langsung, ada tiga orang keluar dari jendela pintu belakang rumah,” jelas Nonok.

 

Dia langsung berteriak maling. Suaminya terbangun. Dia keluar dari kamarnya. Saat berteriak maling-maling, justru rampok malahan menghampirinya. Lantas menyuruhnya masuk ke kamarnya. Pun dengan suaminya. Nonok pun mengunci panitu kamarnya dari dalam. Dia saat itu menghubungi saudara-saudaranya via handphone, namun tidak ada yang menjawab panggilannya. 

 

Di luar kamar, para perampok berteriak-teriak menyuruhnya keluar. Bila tidak keluar, maka akan dibunuh. Dia tidak membukanya. Namun, tersangka malahan berusaha membongkar pintu tersebut.

 

”Saya ketahui yang masuk ke kamar tiga orang ada yang bawa linggis dan bawa golok. Jadi yang bawa golok menodong saya ke bagian pinggang,” papar Nonok.

 

Sang perampok memintanya menyerahkan emas, uang dan berharga lainnya.  Dia kemudian disuruh keluar kamar. Dia kaget, karena perampok bukan tiga orang, tapi empat. Nonok saat itu disuruh mengajak suaminya, Feri keluar kamar. Namun, Feri tetap berada di dalam kamar. 

 

Kemudian para perampok mencungkil pintu kamar Feri dengan linggis. Tak lama kemudian, suaminya keluar dari kamar. Dia telah membawa samurai. Ke empat perampok pun mundur. Mereka berusaha menghindar. 

 

Sedangkan Nonol mengaku berteriak-teriak di jendela bahwa ada maling-maling. Namun tidak ada satu pun warga yang mendengarnya. Apalagi, jarak rumahnya dengan tetangga terdekat sekitar 50 meter.

 

“Saat itu saya lihat suami berantem dengan empat perampok di tengah rumah hingga empat perampok kabur lagi ke jendela,” jelas Nonok.

 

Feri menambahkan saat mendengar istrinya berteriak ada maling, dia langsung masuk kamar dan menguncinya. Tujuannya mengambil samurai yang memang sudah ada di dalam kamar buat jaga-jaga. Saat itu maling teriak keluar –keluar sambil mencingkil pintu kamar. Saat itu, dia tambah berani. 

 

Setelah pintu terbuka, dia langsung mengacungkan samurai. “Saya nekad saja duel dengan empat peramok. Pokoknya harus ada korban saja. Di sana sudah nekad saja,” jelas Feri di rumahnya.

 

Feri pun membabi buta melayangkan samurai. Dia pun berkelahi dengan empat perampok di tengah rumah. Para perampok bersenjatakan golok dan linggis. Para perampok, kata Feri, sempat ada yang bilang, “Bunuh...bunuh saja. Tembak-tembak, namun mereka tidak bawa pistol, hanya nakuti-nakuti saja,” ujarnya.

 

Mendengar hal itu, Feri menyabetkan samurai ke arah empat orang itu. Satu orang kena sabetan samurainya. Perampok itu terluka parah. Sabetan samurai Feri mengenai badan perampok. 

 

Pengakuannya, para perampok lainnya juga  terkena sabetan samurai Feri. Namun yang dia ingat hanya satu orang yang parah. 

Di saat itu, dia terluka, karena dari belakang, perampok memukul kepala Feri menggunakan linggis. Guru SMP itu pun tersungkur. Saat itu, kalung emas putih seberat 22 gram yang menggantung di lehernya diambil para perampok. Adapun, Feri kala itu pura-pura mati. Samurai milik Feri pun direbut para perampok, saat Feri ambruk. 

 

“Maling itu karena terluka, mereka kabur lewat ke belakang,” ujarnya.

 

Setelah itu, dia bangun dan berteriak-teriak minta tolong.Dia lari ke jalan. Namun, bertemu lagi dengan para rampok. Namun, tidak ada perkelahian lanjutan. Karena rampok lari ke Sungai Citanduy. Beberapa saat kemudian,warga datang menolongnya. Mereka juga berusaha mencari para perampok itu. Tapi, warga gagal menangkap para penjahat itu. 

 

Adapun, Feri langsung diobati ke- dokter terdekat.  Dia kemudian balik ke rumah. Di rumah tampak darah berceran. Mulai dari dari mulai kamar tengah, ke belakang rumah sampai jendela yang tralisnya dibongkar rampok.  Dia pun melihat tangga miliknya yang langsung menuju pakir. Tanggga itu terkena darah.

 

”Saya yakin empat perampok itu luka semua, oleh samurai saya, karena disabet membabi buta, lagi pula samurai itu ada racunnya,” jelas Feri.(isr/jpnn)

Komentar

Jadilah yang pertama memberi Komentar
Sudah Daftar ? Silakan Login.
Nama :
*
Email :
*
Kode Keamanan

Komentar :

Tersisa karakter.