| Jum´at 18-05-2012 |
| Sabtu, 19-05-2012 13:15:28 | ||
| 15:24 | | | Buaya Makan Manusia Ditangkap |
| 11:36 | | | Esemka Embrio Mobil Nasional |
| 12:57 | | | Perut Buaya Dibelah, Ada Tubuh Bo ... |
| 18:03 | | | Nindy dan Astrid Fitting Gaun |
| 21:20 | | | Sore Tamu Ayah, Malam Tamu Aliya |
| 13:51 | | | Jajal Dunia Tarik Suara |
| 15:12 | | | Ketum KONI Pamer Green PON Riau |
| 09:42 | | | Perbaikan Stadion Kuansing Perlu ... |
| 09:22 | | | Penetapan Calon Wako Pekanbaru Te ... |
| 23:34 | | | Harimau Sumatera Sisa 400 Ekor |
PEKANBARU - Dewasa ini pers mengalami krisis kepercayaan publik. Publik bisa banyak pilihan untuk memilih media. Jika masyarakat tak percaya dan
PEKANBARU — Penyelidikan pihak kepolisian terhadap laporan keluarga N, murid kelas 3 salah satu SD yang ada di Kecamatan Limapuluh atas dugaan penganiayaan yang dialaminya terus berlanjut.Dari i
BOGOR - Tim SAR TNI-Polri kembali berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, kemarin. Jenazah berjenis kelamin perempuan itu diduga salah seorang pramugari dari
Saya bermimpi, di kedua sisi sungai Siak dibangun pula kota yang menghadap ke air itu. Sinar rembulan yang menimpa permukaan air tampak menyejukkan dan restoran di kedua sisi sungai penuh pelanggan. Keuntungannya bagi Pemko? Tentu saja PAD.
"Seorang bayi berusia empat bulan di Pangkalankerinci terserang tumor ganas di bagian wajah. Sayangnya penyakit mengerikan yang diidap bayi malang bernama Putra Akbar ini tidak diobati."
Laporan Bunyamin, Pangkalankerinci
Seorang bayi berusia empat bulan di Pangkalankerinci terserang tumor ganas di bagian wajah. Sayangnya penyakit mengerikan yang diidap bayi malang bernama Putra Akbar ini tidak diobati.
Persoalan kemiskinan yang melilit keluarga ini memaksa ibu bayi, Ayu Retno (24) pasrah. Akibatnya Putra Akbar harus menunggu nasib tanpa pengobatan.
Ayu memiliki suami yang bekerja sebagai buruh kasar. Namun pria itu pergi tanpa alasan yang jelas. Sejak perginya pria itu sekitar dua bulan lalu, Ayu dan bayinya tinggal menumpang di kediaman ibunya, Susilawati (45) di Jalan Pemda, Gang Ananda RT 02/RW 06 Nomor 3.
Meski sudah mendapat tumpangan, jiwa Putra Akbar tetap terancam akibat serangan tumor ganas berukuran sebesar buah kelapa di wajahnya.
‘’Dari lahir sudah ada tanda-tandanya. Pernah berobat ke rumah sakit tapi tak selesai karena tidak ada biaya. Belum lagi masalah bapaknya pergi, kakeknya pun juga pergi. Tinggal saya sama ibu yang merawat anak ini. Entah bagaimanalah nasib dia besok,’’ tutur Ayu Retno saat dikunjungi wartawan Sabtu pekan lalu.
Diceritakan Ayu Retno, tumor yang tumbuh di wajah Putra Akbar sudah ketahuan, sejak bayi itu dilahirkan di sebuah rumah bersalin di Pekanbaru, Mei 2011 lalu. Pihak rumah bersalin tidak memiliki tenaga ahli dan alat yang cukup untuk mengangkat penyakit itu. Lalu pernah dirujuk ke RSUD Arifin Achmad dan sempat dirawat beberapa hari di sana.
Tetapi analisa dokter menyebutkan bahwa saat itu bayi belum siap untuk dilakukan operasi. Agar mampu secara medis menjalani operasi dengan menggunakan bius total, bayi harus menunggu sampai usia antara tiga hingga 30 bulan. Bergantung dengan kondisi ketahanan tubuh bayi.
‘’Sekarang umurnya cukup untuk diperiksa, tapi saya tidak punya uang pergi berobat. Ya saya mengharapkan bantuan saudara atau siapapun yang peduli,’’ imbuh Ayu.
Melihat kondisi tubuhnya, Putra Akbar tampak sangat segar dan bergairah seperti bayi-bayi pada umumnya. Sering dia melakukan gerakan-gerakan tangan dan kaki seperti yang dilakukan banyak bayi. Namun karena ia tidak mampu menggerakkan kepala, lantaran ukuran dan beratnya sudah lebih dua kali lipat. Putra Akbar bahkan sesekali terkejut dan menangis karena menahan sakit yang datang tiba-tiba.(rpg)